Read it and Enjoy it ~

Archive for May, 2012

[Oneshoot ] KYUMIN’s Fanfiction / Still / Genderswitch / Romance / Faithful’s Sequel

 

Tittle : Still

Cast : Kyumin

Genre : Genderswitch , Angst , Hurt

Rate: Teen

Length : Oneshoot [ Faithful’s sequel]

Author : LidyaNatalia

Warning : some typos , short fiction. If you do not like this couple or this Genre (read : Genderswicth) Please do not read this Fiction. Basher will be blocked.

A/N :Hey Readers!! Long time no see you all 😀 Well , I come again after disappear while one week. And Then , this is my new fiction story about Kyumin ^^ If you dislike this Story , don’t read it , okay? Still remember with Faithful ? No ? Oh dear , well if U forget Faithful , you can reread that fiction on my note ^^ 😀

Disclaimer: KyuMin belong to God and KyuMin shipper and ELF, but Donghae belong to me ^^ *gyagya* \(^_^)/

 

Let’s check it out the story…

 

***

 

 

“Sungmin bangun…” seru sebuah suara seraya mencoba membangunkan Sungmin.

 

“Sungmin bangun..hey bangun Min..” mencoba sekali lagi.

 

“Hosh! Hosh!” Sontak Sungmin terbangun. Peluh keringatnya membanjiri daerah sekitar wajahnya.  Dilihat sekelilingnya. Tabung , putih, ranjang dan ..

 

Kyuhyun!

 

Sungmin langsung memandang sosok Kyuhyun yang terbaring lemah dihadapannya, “Huft.” terdengar desahan nafas dari mulut Sungmin.

 

“Kau kenapa Min?” Tanya seseorang yang diketahui bernama Dasom tersebut.

 

Sungmin melihat ke arah Dasom dengan wajah tampak kelelahan.

 

“Kau mimpi buruk?” Tanya Dasom sekali lagi.

 

Sungmin mengangguk seraya menggenggam tangan Kyuhyun yang sedang terbaring lemah,  erat.

 

“Kau sudah terlalu lelah, Min. Lebih baik kau pulang saja. Biar Kyuhyun , aku dan para perawat yang menjaganya.” Saran Dasom.

 

“Tidak, Dasom-ah. Aku ingin menjaga Kyuhyun disini. Aku ingin menunggunya sampai dia siuman. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak Sungmin halus.

 

“Tapi kau sudah menjaganya 2 hari ini Minnie, bahkan kau belum tidur kan?”

 

“Tapi bukankah barusan aku tidur Dasom?” Tanya Sungmin.

 

“Itu bukan tidur , tapi tertidur , bahkan kau tadi sepertinya mimpi buruk. Iya kan?” Seru Dasom lagi.

 

Sungmin diam , kemudian mengangguk, “Tapi aku ingin ketika dia siuman aku ada disampingnya Dasom-ah. Aku mohon biarkan aku menjaga Kyuhyun.” Mohon Sungmin

 

“Baiklah Minnie , aku juga tidak bisa memaksamu , bagaimanapun juga , Kyuhyun adalah suamimu dan kau bertanggung jawab untuk menjaganya. Walau begitu, tetap jaga kesehatanmu Minnie, ingat kalau kau juga sakit, siapa nanti yang akan menjaga Kyuhyun? Arra?”

 

“Ne, arraseo , Dasom. Gomawoyo.” Seru Sungmin sembari memeluk pinggang Dasom yang kini tengah berdiri disisinya , sementara dia duduk disisi Kyuhyun.

 

“Ne, cheonmaneyo Minnie.” Balas Dasom seraya membalas pelukan Sungmin. “Oh, iya aku kembali keruanganku dulu ya Minnie, kalau ada apa-apa kau tinggal panggil aku saja. Okay?”

 

“Ne, Dasom.”

 

Dasom pun akhirnya meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun yang tengah terbaring diruangan itu berdua saja.

 

Seperti yang dikatakan Dasom , memang sudah dua hari ini Kyuhyun masih juga belum sadar semenjak peristiwa pemukulan yang terjadi padanya tempo hari. Dan Sungmin yang merasa bersalah atas peristiwa tersebut dengan setia menunggui suaminya dirumah sakit.

 

Sungmin memandang tubuh Kyuhyun yang tengah terbaring tersebut, seraya terus menggenggam tangan Kyuhyun , berharap Kyuhyun akan segera bangun dari tidurnya.

 

“Untung tadi hanya mimpi,.” desisnya seraya mengambil sepotong handuk kecil yang kemudian dia basahi untuk mengelap wajah Kyuhyun.

 

“Kyu, kau harus segera siuman. Bukankah kau ingin jalan-jalan denganku?” Tanpa terasa bulir-bulir air mata Sungmin kembali menggenangi mata indahnya.

 

Sungmin sedikit mengangkat tubuhnya ketika mengelapi wajah Kyuhyun di sisi lawannya. “Bangun pangeranku..!”

 

“Pluk!”

 

Setetes air mata Sungmin jatuh tepat mengenai wajah Kyuhyun.

 

Sungmin kembali pada posisinya semula dan kini berganti merapikan rambut Kyuhyun. “Kau sangat tampan , Kyu. Sungguh aku tidak bohong. Ayo cepat bangun dan segera kita jalan-jalan, Kyu..”

 

Kesedihan Sungmin yang sedari tadi ditahannya ketika ada Dasom kini sudah tidak bisa terbendung lagi, dia menenggelamkan wajahnya disisi kiri ranjang Kyuhyun, bahunya bergetar ketika mengucapkan kalimat terakhir tadi.

 

“Kalau bukan karnaku , kau pasti tidak akan terluka, Kyu. Seharusnya biarkan saja preman-preman itu memukulku..” Seru Sungmin dalam posisi yang sama.

 

“Kalau saja aku tidak mengajakmu keluar kota, kalau saja aku tidak terlambat mengajakmu jalan-jalan…” lanjutnya lagi.

 

Semua kalimat yang berawal “Kalau saja” terus keluar dari bibir Sungmin. Meski itu bukan kesalahannya, Sungmin tetap merasa kalau kejadian tersebut terjadi juga atas kebodohannya. Terjadi atas keegoisannya yang lebih mementingkan pekerjaan daripada Kyuhyun suaminya sendiri.

 

Dan kini setumpuk rasa bersalah terus membebani perasaannya.

 

“Miniming..”

 

Sungmin terdiam. Sebegitu rindunnya kah dia dengan Kyuhyunnya , sampai-sampai dia mengigau mendengar panggilan kesayangan Kyuhyun untuk dirinya tersebut?

 

“Miniming..”

 

Sekali lagi Sungmin mendengar suara itu lagi. Perlahan Sungmin mengangkat wajahnya dengan mata sayu penuh dengan bekas tangisan dan air mata.

 

Betapa terkejutnya Sungmin dengan apa yang didapatinya setelah mengangkat wajahnya. “Kyuhyun!!” Serunya kemudian langsung kembali menangis.

 

“Miniming kita ada dimana?” Tanya Kyuhyun lirih sembari mencoba melihat kearah kanan dan kirinya.

 

Sungmin mengelus lengan Kyuhyun sayang, “Kita ada dirumah sakit , Kyu.” Jawab Sungmin.

 

“Aku kenapa Miniming , kenapa kita bisa ada disini?” Tanya Kyuhyun lagi sembari memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit.

 

“Kyuhyun sakit, makanya dirawat disini..” Jawab Sungmin  lagi dengan jujur.

 

“Oh gitu , iya sih kepalaku juga barusan seedikit sakit. Hem , Miniming kenapa menangis?” Seru suara tersebut yang ternyata memang benar berasal dari suara Kyuhyun, orang yang diharapkan untuk bangun oleh Sungmin sejak 2 hari yang lalu.

 

Kyuhyun mencoba untuk bangun , namun dicegah oleh Sungmin, “Jangan bangun dulu ya Kyu, kau istirahat saja dulu, tubuhmu masih lemah,” Ujarnya sambil terisak kecil.

 

“Tapi Miniming kenapa menangis?” Tanya Kyuhyun kemudian.

 

“Tidak apa-apa. Tadi mataku hanya kelilipan saja, Kyu.” Ucap Sungmin berbohong.

 

Kyuhyun memandang ke arah mata Sungmin kemudian mengelap air mata yang membasahai wajah Sungmin dengan kedua tangannya. “Miniming  jangan sedih , aku..aku jadi ikut sedih.” Ucap Kyuhyun tulus dalam posisi masih terbaring.

 

Sungmin sontak langsung buru-buru membersihkan bekas tangisannya. “Lihat, Kyu. Minnie cuma kelilipan doang kok, bukan sedih. Justru Minnie senang karena Kyuhyun udah mau bangun. Oh iya sebentar ya Kyu..”

 

Sungmin memencet beberapa nomor dihandphonenya , dan kemudian menghubungi seseorang.

 

“Dasom ah..”

 

“…”

 

“Kyu , sudah bangun.”

 

“…”

 

“Ne..”

 

‘Flip!’

 

“Miniming menelfon siapa?” Tanya Kyuhyun.

 

“Dokter Dasom , Kyu.” jawab Sungmin. “Kyu kau haus tidak?”

 

“Iya, Miniming aku haus, aku mau minum.”

 

Sungmin pun kemudian langsung mengambilkan air putih dimeja disisi ranjang Kyuhyun, kemudian membantu Kyuhyun untuk meminumnya dengan cara mengangkat wajah Kyuhyun.

 

“Pelan-pelan, Kyu..”

 

“Cklek!” Pintu terbuka

 

Terlihat Dasom yang berpakain serba putih masuk kedalam ruangan tersebut.

 

“Dasom..” Seru Sungmin setelah selesai memberi minum Kyuhyun.

 

Sungmin pun dan segera menyingkir , membiarkan Dasom untuk memeriksa keadaan Kyuhyun. Setelah itu, Dasom pun mengajak Sungmin untuk keluar dari ruangan tersebut guna membicarakan  keadaan Kyuhyun sekarang.

 

“Bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang Som-ah?”

 

“Ajaib Minnie..!!” Seru Dasom tak percaya.

 

“Ajaib? Maksudmu?” Tanya Sungmin masih bingung dengan jawaban yang diberikan Dasom atas pertanyaan sebelumnya.

 

“Iya, keadaan Kyuhyun memang masih belum stabil, tapi ketika aku memeriksa kondisinya, tidak ada luka dalam yang berarti yang memperparah keadaan syarafnya. Padahal sebelumnya dia sampai koma selama 2 hari.” Jelas Dasom.

 

“Begitukah Dasom? Kau yakin Kyuhyun tidak apa-apa?” Tanya Sungmin masih kurang percaya.

 

“Iya Minnie, mana mungkin aku berbohong dalam keadaan seperti ini. Lagipula bukankah kemarin aku sudah bilang, kalau Kyuhyun bisa cepat sadarkan diri dalam waktu kurang dari 48jam , dia sudah bisa melewati masa kritisnya.”

 

Sungmin sedikit mengembangkan senyumannya, “Syukurlah Dasom,” Katanya sembari melirik kearah kamar Kyuhyun.

 

“Kau bisa mengajaknya ngobrol untuk sedikit merileksasikan syarafnya kalau kau mau, Minnie.” Tambah Dasom.

 

Sungmin masih sedikit melamun sambil tersenyum.

 

“Hei Minnie!!” Tegur Dasom.

 

“Ya!?” sahut Sungmin reflex.

 

“Yasudah hanya itu yang mau aku sampaikan padamu. Kalau ada apa-apa kau bisa memanggil aku ataupun suster.” Dasom menepuk bahu Sungmin. “Aku keruanganku dulu ya Minnie.” pamit Dasom kemudian meninggalkan Sungmin.

 

Setelah Dasom melangkah keruangannya, Sungmin kembali masuk kedalam ruangan Kyuhyun. Kyuhyun sekarang tengah duduk sembari memain-mainkan selang infuse yang ada dipergelangan tangannya.

 

“Miniming!!” Seru Kyuhyun ketika melihat Sungmin kembali masuk.

 

Sungmin hanya tersenyum membalas panggilan Kyuhyun sembari menghampiri Kyuhyun dan kemudian mengelus sayang rambut Kyuhyun, “Apa yang kau rasakan sekarang Kyuhyun?”

 

“Aku rasakan? Uhm, apa yah?” Kyuhyun terlihat berfikir sembari melihat ke langit-langit ruangan berukuran VIP tersebut. “Oh iya, aku merasa bosan Miniming,” Serunya sembari memajukan bibirnya.

 

“Bosan?” Tanya Sungmin seraya duduk disamping kasur yang ditiduri Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangguk. “Iya bosan. Jalan-jalan yuk, Miniming.” Ajak Kyuhyun.

 

“Besok saja bagaimana? Ini sudah malam Kyu, lagipula kau kan baru saja siuman. Tubuhmu pasti masih sangat rentan dengan udara malam.” Tolak Sungmin sembari memberi pengertian pada Kyuhyun.

 

“Yah , Miniming, aku kan bosan , lagipula tubuhku tidak apa-apa kok, tidak sakit, lihat nih..” Kyuhyun mencoba memukul dadanya sendiri layaknya orang utan. “Tidak sakit kok Miniming, ayolah.” Rajuk Kyuhyun, kali ini sambil menarik-narik ujung sweater yang dikenakan oleh Sungmin.

 

“Uhm,” Sungmin terlihat bingung mempertimbangkan keinginan Kyuhyun. “Tapi nanti kalau ketahuan susternya bagaimana Kyu, nanti kita berdua dimarahi loh.” Sungmin mencoba meyakinkan Kyuhyun.

 

“Ya jangan sampe ketahuan Miniming. Yah kita jalan-jalan sekarang yah Miniming, ayolah.”

 

“Yasudah, kita jalan-jalan , tapi hanya ditaman rumah sakit saja yah, besok pagi baru kita jalan-jalan ke tempat yang jauh. Bagaimana?” Tawar Sungmin.

 

“Taman rumah sakit? Hem, yasudahlah.” Lirih Kyuhyun kecewa.

 

“Hey..” Sungmin menangkap wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. “Besok kita jalan-jalan ketempat yang jauh kok. Tapi malam  ini kita ke taman rumah sakit saja. Pemandangannya juga tak kalah indah kok Kyu, malam ini sangat cerah, bintangnya jadi terlihat jelas.” Jelasnya pada Kyuhyun.

 

Wajah Kyuhyun berubah sumringah khas watados.  “Yasudah ayo kita segera keluar..” Seru Kyuhyun sembari turun dari ranjangnya.

 

“Tunggu dulu Kyu, kau harus pake baju yang lebih hangat.” Seru Sungmin.

 

“Ya sudah cepat pakaikan Miniming.”

 

“Masalahnya aku tidak membawa jaketmu , bagaimana dong?”

 

“Yah.” Kyuhyun kembali terduduk diranjangnya.

 

Dia tahu kalau Minimingnya tidak akan mungkin mau membawanya pergi keluar ditengah malam seperti ini tanpa mengenakan jaket, terlebih ketika sedang sakit seperti ini. Dalam keadaan sehat saja tidak diijinkan apalagi sakit.

 

Sungmin terlihat berfikir, dilihatnya wajah Kyuhyun yang kecewa, dia mau mengajak Kyuhyun keluar dari ruangannya , tapi tidak dengan tanpa baju hangat. Dilihatnya sendiri dirinya. Dan kemudian menyunggingkan sebuah senyuman.

 

“Kyu ayo berdiri, pake sweaterku saja.” Sungmin segera melepas sweaternya dan memakaikannya pada Kyuhyun.

 

“Miniming nggak pake jaket?” Tanya Kyuhyun.

 

Sungmin menggekeng, “Aku kan tidak sakit, jadi kau saja yang memakainya.” Sahut Sungmin sembari mengacingkan kancing-kancing di sweaternya yang kini tengah dipakai Kyuhyun.

 

“Ayo.” Tarik Sungmin hati-hati setelah selesai.

 

Dibukanya pintu ruangan VIP bernomor 15 itu pelan-pelan. Ini sudah tengah malam, suara sepelan apapun pasti akan menimbulkan kebisingan.

 

Setelah berhasil keluar dari ruangan tersebut dan menutup kembali pintunya , KyuMin pun berjalan dengan sedikit berjinjit layaknya maling.

 

“Miniming.” Seru Kyuhyun pelan.

 

“Sssstt!! Jangan berisik Kyu, nanti kita ketahuan suster. Sudah kau diam saja.” Sahut Sungmin sembari terus menyusuri koridor lantai 1 dengan Kyuhyun dia tuntun dibelakangnya.

 

Dan Kyuhyun pun hanya menuruti perkataan Sungmin.

 

***

 

Sesampainya KyuMin ditaman rumah sakit. Kyuhun langsung merentangkan tangannya.

 

Dari belakang Sungmin tersenyum melihat tingkah konyol suaminya.

 

Kyuhyun menoleh kebelakang, “Miniming ayo kita jalan-jalan.” Ajak Kyuhyun.

 

Sungmin pun menghampiri Kyuhyun dan melingkarkan tangannya pada lengan Kyuhyun.

 

“Kau yakin mau mengelilingi taman rumah sakit ini, Kyu?” Tanya Sungmin sebelum mereka memulai jalan-jalan malam mereka.

 

“Iya, Miniming. Oh iya Miniming apa nggak kedinginan?” Tanya Kyuhyun.

 

Kalau bisa jujur. Sungmin ingin mengatakan pada Kyuhyun kalau dia sangat kedinginan malam itu. Sungmin tidak tahan dingin. Bahkan dalam keadaan hawa panas pun dia selalu menggunakan kaus lengan panjang. Hanya saja kebetulan hari ini dia hanya menggunakan kaus lengan pendek berwarna hijau toska dengan Sweater abu-abunya. Namun sweater itu kini telah dia pakaikan ke tubuh Kyuhyun.

 

“Sedikit sih Kyu , makanya biarkan aku menggandengmu seperti ini yah?” Tanya Sungmin.

 

Kyuhyun tersenyum , “Baiklah Miniming, Miniming boleh ngegandeng tangan aku kok.”

 

Mereka pun akhirnya mulai berjalan-jalan mengelilingi taman sekitar rumah sakit tersebut. Kyuhyun yang tak betah diam pun terus saja mengoceh sepanjang perjalanan. Dan Sungmin yang sebenarnya merasa sangat kelelahan hanya terus mendengarkan Kyuhyun sembari kepalanya dia sandarkan kelengan Kyuhyun.

 

Bagaimanapun. Sungmin hanyalah seorang istri tegar yang kesetiannya tak perlu diragukan yang sangat merindukan kehangatan dari suaminya. Dia ingin bermanja-manja pada suaminya. Toh, tidak ada salahnya kan? Namun walau begitu keadaan yang tidak sama lagi seperti dulu, memaksanya menggandakan perannya dirumah. Sebagai istri sekaligus sebagai pelindung dan penjaga dari suaminya yang tengah tidak sehat tersebut.

 

***

 

Pagi yang cerah seperti menyambut dan turut bersuka atas keadaan Kyuhyun yang semakin membaik. Kini diruangannya Kyuhyun tengah asyik menyantap sarapannya yang  disuapi oleh Sungmin.

 

“Lebih enak masakanmu , Miniming.” Ujar Kyuhyun setelah menyantap suapan terakhir dari Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum sembari membersihkan mulut Kyuhyun bekas makan bubur tanpa rasa tersebut. “Nanti kalau kau sudah sembuh benar , akan aku masakan makanan kesukaanmu , Kyu.” Ucap Sungmin.

 

“Jeongmal? Kalau begitu aku akan cepat sembuh ah.”  Seru Kyuhyun dengan penuh semangat.

 

Sungmin ikut tersenyum tulus. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan dari ini, melihat Kyuhyun bisa bersemangat lagi. Tidak terbaring lemah seperti kemarin.

 

Sungmin terus memandang wajah Kyuhyun yang sepertinya sudah sangat ingin segera sembuh dan keluar dari rumah sakit. Sungmin sama kali tidak mempunyai firasat buruk apapun mengenai apa yang akan terjadi hari ini, hanya saja dia merasa kenapa rasanya matanya ingin sekali menangis. Padahal selama Kyuhyun koma , dia selalu menangis setiap saat.

 

Sampai pada akhirnya…

 

“Brukk!!!”

 

Sungmin dan Kyuhyun sedikit tersentak kaget mendengar suara pintu yang dibuka dengan paksa tersebut.

 

“Um..umma?” Ucap Sungmin sedikit terkejut.

 

“Sungmin ayo pulang bersama kami!!” Seru ayah Sungmin sembari memandang rendah ke arah Kyuhyun. “Kau sudah terlalu lama menderita bersamanya!” Lanjut ayah Sungmin seraya menghampiri Sungmin yang menjatuhkan mangkuk bubur Kyuhyun.

 

Sejurus , Sungmin memundurkan tubuhnya kebelakang, seolah-olah ingin melindungi Kyuhyun dari tatapan sadis ayahnya.

 

Sungmin menggeleng cepat , “Tidak , aku tidak akan pulang bersama kalian, aku ingin disini bersama suamiku.. ” Ucap Sungmin seraya memeluk Kyuhyun erat.

 

Kyuhyun yang sedikit bingung dengan keadaan itu berbisik ditelinga Sungmin , “Miniming mereka siapa? Apa mereka jahat?” Tanya Kyuhyun takut-takut.

 

Sungmin menempelkan kepalanya pada kepala Kyuhyun. “Mereka orangtuaku , Kyu. Tenang yeobo , aku tidak akan membiarkan mereka membawaku pergi tanpamu.. ” ucapnya penuh kelembutan.

 

“Kau ini keras kepala sekali!! Sekali lagi aku perintahkan kau untuk pulang bersama kami!” tegas ayah Sungmin dengan volume suara yang lebih kencang dari sebelumnya. “Kalian!! Bawa Sungmin!!!” Titah ayah Sungmin kepada 2 pengawal keluarga Lee yang bertubuh besar dan kekar , serta berpakaian hitam.

 

Kontan , tanpa menunggu lama , kedua pengawal itu langsung mencengkeram kedua lengan Sungmin. Mencoba membawanya dari situ meski mendapat perlawanan kecil dari empunya tubuh.

 

“Chagi, umma mohon kau menuruti permintaan appamu kali ini saja… ” lirih Ibu Sungmin yang sebenarnya tak tega melihat Sungmin yang dicengkram seperti itu. Dan juga karena melihat keadaan Kyuhyun dan Sungmin yang juga sangat mencintai Kyuhyun

 

“Tidak umma!! Umma aku mohon jangan pisahkan aku dengan Kyuhyun , bukankah aku sudah menuruti permintaan kalian , untuk tidak meminta apapun dari kalian untuk kelangsungan hidupku? Aku bahkan tidak menolak ketika Appa mencoret namaku dari daftar waris keluarga Lee , tapi kenapa Umma dan Appa masih mau mencoba memisahkanku? Aku bahkan sudah tinggal ditempat yang jauh , agar Appa tidak melihat Kyuhyun yang menurut Appa sangat menjijikan ini. Aku telah menuruti permintaan kalian….hiks ” Sungmin terus berteriak seraya air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Dia menggerakkan kedua lengannya yang dicengkram ke segala arah , mencoba melepaskan diri dari jerat 2 tangan kekar pengawal ayahnya tersebut.

 

Kyuhyun yang tidak mengerti apa-apa , jadi terlihat sedih tatkala dia melihat Minimingnya mengeluarkan air mata yang begitu banyak menurutnya.

 

“Hey! Kalian jangan sakiti Miniming!!” Seru Kyuhyun kepada kedua orang berpakaian serba hitam tersebut seraya mencoba membantu Sungmin melepaskan diri. Namun naas bukannya membebaskan Sungmin, justru dia malah terjerembab jatuh akibat dorongan kecil dari salah satu pengawal tersebut.

 

“Kyuhyun….” Seru Sungmin dengan isak kecil melihat suaminya diperlakukan seperti itu.

 

Namun seperti tidak mau menyerah Kyuhyun kembali bangkit dan kini menghampiri Ayah Sungmin , “Ahjussi , tolong suruh mereka berhenti menyakiti Miniming..” Pinta Kyuhyun sembari menarik ujung baju dari lengan ayah Sungmin.

 

“Ahhhh!! Menyingkir kau dariku!!” Sentak ayah Sungmin seraya menampik tangan Kyuhyun , dan itu berhasil membuat Kyuhyun kembali jatuh , kali ini dia terjatuh duduk dengan kepala membentur sisi ranjangnya.

 

“Kalian cepat bawa Sungmin ke mobil…” ujar ayah Sungmin sembari pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih belum beranjak dari jatuhnya tadi. Kyuhyun terus memegangi kepala bagian belakangnya.

 

“Mi-miniming… ”

 

“Brukkk!!!”

 

***

 

Sungmin memandang ke arah jendela. Disentuhnya kaca jendela yang dingin karena terkena serbuan air hujan dari semalam. Dengan lirih disebutnya nama Kyuhyun berulang-ulang , sesekali dia ukir nama Kyuhyun di kaca jendela yang basah tersebut.

 

Sesekali juga tangannya bergetar. Wajar saja. Sungmin belum makan dari kemarin. Dia terus mengunci diri dikamarnya yang sudah lama dia tinggali ini.

 

“Tok! Tok! Tok! ”

 

“Chagi , buka pintunya sayang , kau harus makan. Dari kemarin perutmu mulai diisi apapun bukan?” Dari luar terdengar suara Ibu Sungmin yang terus berusaha membujuk putri tunggalnya untuk makan.

 

“Makan..?” lirih Sungmin pelan. Sungmin langsung bergegas beranjak mengambil handphone dimeja riasnya. Ditekannya dengan cepat nomor yang dia tuju.

 

“Sungmin , kau sedang apa didalam? Tolong bukakan pintunya chagi , kau harus makan… ” Ibu Sungmin masih terus berusaha

 

“Yoboseyo Dasom-ah….”

 

“….”

 

“Aku hanya ingin memastikan , apa Kyuhyun sudah makan? Bagaimana keadaannya hari ini?” Tanya Sungmin dengan agak panik.

 

“…”

 

“Oh begitu , kalau bisa taburi sedikit garam dibuburnya ya Sommie, Kyuhyun tidak suka makanan yang tawar. Mungkin saja dengan begitu dia mau makan.”

 

“…”

 

“Ne , gomawo yo Sommie , tolong katakan padanya aku selalu menyayanginya…”

 

“…”

 

“Ne , sekali aku katakan terima kasih karena kau sudah mau aku repotkan ”

 

“….”

 

“Klik!”

 

“Minnie , kau sedang apa nak? Ayo cepat keluar , kita makan bersama , Umma sudah masakan makanan kesukaanmu , chagi..” Suara Ibu Sungmin kembali terdengar tatkala Sungmin masih tidak juga menyahuti panggilannya untuk makan bersama.

 

Sungmin memandang malas ke arah pintu. Sama sekali tidak ada niat dalam dirinya untuk menyahut ataupun membuka daun pintu tersebut. Dengan langkah yang agak gontai dia langkahkan kakinya menuju ranjang miliknya. Setelah itu Sungmin langsung menghempaskan handphonenya ke ranjang miliknya. Perlahan tubuhnya beringsur jatuh ke lantai. Disandarkannya punggungnya di sisi ranjang.

 

“Kyu~”

 

***

 

Kyuhyun memandang lurus kedepan dengan lesu. Pandangannya sedari tadi hanya terpusat pada satu titik. Pintu. Pintu yang sudah sejak kemarin dia tunggu untuk terbuka dengan dibaliknya seseorang yang dia rindukan. Ya. Kyuhyun memang merindukan Sungmin. Wanita yang selama ini selalu berada disisinya. Rasa rindu merasuk kedalam relung perasaannya. Rasa yang tidak disadari ataupun dimengerti oleh seorang Cho Kyuhyun dalam keadaannya seperti sekarang ini.

 

“Cklek!!”

 

“Min…” Suara Kyuhyun yang reflek keluar saat melihat pintu terbuka tercekat ketika melihat orang dibalik pintu yang masuk tersebut bukanlah Sungmin.“Ni… hhssshh… ” Kyuhyun mendesah lirih. Rasa kecewa sedikit menghampirinya seketika.

 

“Annyeong Kyu!!” Seru seorang dokter muda cantik berambut pendek hitam tersebut ketika memunculkan kepalanya pada Kyuhyun.“Lho? Kenapa ekspresi wajahmu? Kok tertekuk seperti itu?” Tanyanya ketika melihat Kyuhyun tidak bersemangat.

 

 

“Kenapa dokter?” Tanya Kyuhyun seraya mengerucutkan ujung bibirnya.

 

“Hah?” Dasom yang tak mengerti dengan pertanyaan Kyuhyun barusan sembari melangkah masuk dan menghampiri Kyuhyun. “Maksudnya Kyu?” Tanya Dasom lagi.

 

“Iya! Kenapa dokter yang masuk? Kenapa bukan Miniming? Dimana Miniming sih dokter? Kata dokter setelah aku menghabiskan makananku, Miniming akan datang!!” Sahut Kyuhyun dengan nada agak tinggi.

 

Dasom menggaruk kepala bagian belakangnya. Bingung mau menjawab apa. Dia lemparkan sedikit senyum untuk Kyuhyun. “Ehm, Miniming bilang dia akan sedikit terlambat datang, Kyu…” Ucap Dasom bohong pada Kyuhyun seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun.

 

Kyuhyun membuang muka kesamping seraya melipat kedua tangan didadanya. “Mana mungkin begitu? Miniming itu tidak pernah terlambat.” Ucap Kyuhyun.

 

Dasom memutar bola matanya, sedikit berfikir keras untuk mencari cara supaya Kyuhyun tidak teringat Sungmin untuk sementara waktu.

 

“Aha!!” Seru Dasom sambil menjentikkan jarinya membuat Kyuhyun terkejut dan mengalihkan pandangannya ke Dasom.

 

“Ada apa dokter?” Tanya Kyuhyun bingung.

 

Dasom tersenyum pada Kyuhyun. “Kau mau jalan-jalan keluar tidak? Kalau seharian disini kan bosan juga, Kyu..” Ucap Dasom mencoba menawarkan.

 

Kyuhyun menggeleng cepat. “Tidak mau!” Sahutnya singkat. “Aku mau menunggu Miniming disini!” Tambahnya lagi.

 

Dasom mendesah kecewa, namun akalnya tidak berhenti hanya disitu saja. “Kita bisa menunggu , Miniming diluar kan Kyu?” Ucap Dasom sekali lagi, berharap kali ini Kyuhyun mau menerima tawarannya.

 

“Dokter ini bagaimana sih. Nanti kalau Miniming datang kesini dan tidak menemukanku , bagaimana?” Tanya Kyuhyun lagi.

 

Dasom mendesah kecewa untuk yang kedua kalinya seraya menundukan kepalanya. Susah sekali membujuknya. Batin Dasom merutuki.

 

“Tapi kalau dokter memaksa, yasudah , aku mau deh jalan-jalan keluar…” Lanjut Kyuhyun tiba-tiba membuat Dasom terkejut. Kyuhyun langsung turun dari ranjangnya. “Ayo dokter! Jangan diam saja! Tadi kau yang mengajakku , kenapa sekarang malah diam saja?!” Rajuk Kyuhyun mendapati Dasom masih diam.

 

“Iya! Iya! Ayo!”

 

****

 

“Tolong beri jalan!!” Seru seorang petugas rumah sakit yang tengah mendorong ranjang berisi seorang paruh baya yang tengah tak sadarkan diri ketika melewati koridor rumah sakit tersebut.

 

Selain petugas berseragam serba putih itu , ada pula sepasang wanita dan laki-laki paruh baya yang juga mengiri ranjang tersebut. Sang wanita menangis tersedu dengan sang laki-laki yang terus memeluk erat mencoba menenangkannya.

 

“Tenang yeobo , Sungmin pasti akan baik-baik saja..” Ucap sang laki-laki mencoba memberi sedikit penghiburan serta keyakinan pada wanita yang merupakan istri dan juga ibu dari seorang yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri di ranjang tersebut.

 

Sementara ranjang tersebut terus didorong dikoridor rumah bernuansa serba putih tersebut, terdapat sepasang mata yang terkejut melihat seseorang yang tergeletak diatas ranjang tersebut. Sesekali dia mengerjapkan matanya untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang dia lihat dihadapannya.

 

“Kyu? Kenapa berhenti?” Tanya Dasom yang sedikit bingung dengan Kyuhyun yang tiba-tiba berhenti ditengah jalan seperti itu.

 

“Greppp!!!”

 

Kyuhyun langsung menggenggam lengan Dasom kuat, “Dokter!!” Serunya. “Itu Miniming!! Itu Miniming!! Diranjang itu Miniming!!” Lanjut Kyuhyun dengan penuh semangat karena melihat Minimingnya lagi setelah beberapa hari.

 

Dasom sedikit meringis ketika Kyuhyun terus menggenggam lengannya dengan kuat. Terlebih Kyuhyun terus saja melompat-lompat karena terlalu senang. “Mana Kyu?” Tanya Dasom memastikan.

 

“Itu!!” Sahutnya sembari menunjuk ke arah ranjang putih yang memang diatasnya terdapat Sungmin.

 

Dasom melihat ke arah yang ditunjuk Kyuhyun, dan sedikit terkejut ketika mendapati Sungmin, sahabatnya tak sadarkan diri berbaring di atas ranjang tersebut. Ada apa dengan Sungmin?

 

“Dokter aku ingin melihat Miniming!!” Seru Kyuhyun lagi sembari menarik tangan Dasom untuk segera menyusul Sungmin, namun Dasom dengan sekuat tenaga mencoba menahan kekuatan dari suami sahabatnya ini.

 

Kyuhyun mengerinyitkan keningnya. “Kenapa? Dokter tidak mau melihat Miniming?” Tuduh Kyuhyun langsung.

 

Dasom menggeleng kuat. “Bukan begitu Kyu!! Coba kau lihat dibelakang Miniming ada siapa… ” Kyuhyun kontan langsung melihat orang-orang yang berada dibelakang ranjang Sungmin yang semakin menjauh dari hadapannya.

 

Kyuhyun menundukan kepalanya serta melonggarkan pegangannya dilengan Dasom. Ayah Sungmin. Dia sedikit trauma dan takut dengan ayah Sungmin semenjak peristiwa beberapa hari yang lalu. Dia yang memaksa Sungmin meninggalkan dirinya, dan dia juga yang menghempaskan tubuhnya ketika mencoba memohon untuk jangan menyakiti Minimingnya.

 

“Aku mau bertemu dengan Miniming, dokter….” Lirih Kyuhyun dengan suara hampir tak terdengar.

 

Dasom mengusap bahu Kyuhyun mencoba menyalurkan kekuatannya. “Kita pasti akan bertemu dengan Miniming secepatnya, tapi bukan sekarang…”

 

Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap Dasom dalam. “Benarkah?” Terlihat genangan air mata dikedua manik mata Kyuhyun.

 

Dasom mengusap kedua pipi tirus Kyuhyun, “Tentu saja…”

 

****

 

Sinar mentari yang memaksa menyeruak masuk melalui celah-celah kecil ataupun mencoba memaksa menembus kaca-kaca tebal, tak sedikitpun kehangatannya memberi efek hangat pula pada seseorang yang kini tengah duduk sembari menekuk lututnya.

 

Ingin dia keluar dari ruangan tersebut, namun itu tidak mungkin karena ruangan tersebut telah terkunci dari luar. Sungguh sakit hatinya menerima perlakuan seperti itu dari ayahnya sendiri. Yang demi memisahkan dirinya dengan suaminya, dia sampai mengunci pintu ruang VVIP tersebut.

 

Sunyi. Sesekali terdengar suara serangga-serangga kecil dari arah luar jendela. Namun itu sama sekali tidak memberinya penghiburan.

 

“Cklek!!”

 

“Sungmin…”

 

Sebuah suara pelan sukses membuatnya mengangkat kepalanya yang dia tundukkan. Matanya mengerjap tak percaya ketika dilihatnya sahabatnya Dasom sedang mengendap masuk dengan seseorang dibelakangnya.

 

Dan seseorang itu….

 

“Kyuhyun?” Lirihnya tak percaya.

 

“BLAM!”

 

Pintu langsung tertutup ketika mereka berdua telah masuk.

 

“Ssstt!!! Kyu jangan berisik!” Titah Dasom ketika Kyuhyun menutup pintu dengan terlalu bersemangat. “Minnie!!!” Dasom berseru ceria dan langsung menghambur untuk memeluk tubuh Sungmin.

 

“Katanya jangan berisik. Dokter sendiri kenapa berteriak seperti itu?” Sahut Kyuhyun sembari menyusul Dasom.

 

Dasom tak memperdulikan celotehan Kyuhyun. Melihat itu Kyuhyun sedikit sebal. Ditariknya lengan Dasom yang memeluk tubuh Sungmin. “Dokter!! Lepaskan!! Miniming hanya milikku…”  Serunya dengan lantang.

 

“Kau ini Kyu. Mengalah sebentar saja tidak mau…” Ucap Dasom yang pada akhirnya melepas pelukannya.

 

Sungmin sedikit tersenyum melihat tingkah Dasom dan Kyuhyun yang sudah semakin akrab.

 

Kyuhyun mendorong tubuh Dasom dan langsung mengambil alih tempat disisi ranjang Sungmin. Diperhatikannya raut wajah Sungmin hingga kepalanya miring-miring. Dipegangnya bibir Sungmin kemudian. “Miniming, kenapa ini berwarna putih? Biasanya berwarna merah muda?” Tanyanya dengan tampang bak seorang anak kecil berumur 2 tahun.

 

Dasom menggeleng. Sementara Sungmin tersenyum mendengar pertanyaan lucu yang keluar dari mulut suaminya itu.

 

“Dan juga sangat kering, tidak lembab seperti biasa…” Lanjut Kyuhyun dengan tatapan intens pada Sungmin.

 

Dasom yang melihat atmosfir kemesraan Kyumin langsung berinisiatif untuk keluar. Dan sebelum benar-benar keluar dia tersenyum pada Sungmin, “Nikmatilah waktu kalian, aku akan berjaga-jaga…” Lanjutnya seraya kemudian menutup pintu dengan pelan.

 

Sungmin yang tadi melihat Dasom kini beralih melihat tingkah suami yang berada dihadapannya ini.

 

“Miniming kenapa tidak menjawab? Aku kan sedang bertanya…” Protes Kyuhyun mendapati Sungmin yang juga tidak menjawab pertanyaannya.

 

Sungmin tersenyum dan langsung menghambur memeluk tubuh ringkih Kyuhyun. “Aku rindu padamu, Kyu…” Seru Sungmin ditengah dekapannya.

 

Kyuhyun membalas ikut memeluk Sungmin. “Aku juga rindu pada Miniming…” Ucapnya ceria. Namun Kyuhyun sedikit terkejut ketika merasakan basah disekitar bahunya. Dilepaskan pelukan Sungmin dari tubuhnya.

 

Terlihat sisa-sisa air mata masih menggenang dimata dan terlihat bekas lintasannya dipipi Sungmin. Kyuhyun menatapnya agak cemas. “Miniming kenapa nangis? Apa aku berbuat nakal?” Tanya Kyuhyun polos.

 

Dulu Sungmin pernah mengatakan padanya kalau dia akan menangis apabila Kyuhyun berbuat nakal ditempat terapinya. Dan melihat Sungmin menangis lagi, entah mengapa membuat Kyuhyun merasa dia telah berbuat nakal.

 

Sungmin menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kyu. Kau tidak nakal. Aku hanya sangat merindukanmu…” Kata Sungmin sembari memeluk Kyuhyun lagi. “Ijinkan aku memelukmu lebih lama lagi ya Kyu…” Lanjut Sungmin lagi.

 

Dan Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

****

 

“Miniming kapan kita akan kembali kerumah?” Tanya Kyuhyun ketika Sungmin akan menyuapkan sesendok bubur terakhir untuk makan siang mereka berdua.

 

Sungmin tersenyum kecil. “Uhm, secepatnya, Kyu..” Jawab Sungmin tegas walau agak ragu kapan bisa mewujudkannya.

 

“Nyamm…” Terdengar Kyuhyun menikmati suapan terakhir dari Sungmin.

 

Sungmin meletakkan mangkuk bubur yang kosong tersebut diatas meja nakas yang terletak disamping ranjang miliknya. Diambilnya segelas air putih kemudian. “Minum dulu, Kyu..” Ujar Sungmin sembari meminumkan segelas air putih tersebut pada Kyuhyun dengan hati-hati. Dan setelah itu baru dia meminum air yant tersisa digelas itu. Dan meletakkan kembali ketempatnya.

 

Kyuhyun tersenyum ke arah Sungmin. “Hoamsss….”

 

“Kau mengantuk, Kyu?” Tanya Sungmin sembari mengusap puncak kepala suaminya dengan penuh rasa sayang.

 

Kyuhyun mengangguk seraya mengucek matanya yang berair tiba-tiba.

 

Sungmin sedikit menggeser tubuhnya. Dan langsung menarik tubuh Kyuhyun yang duduk diranjangnya untuk berbaring. “Tidurlah kalau kau mengantuk..” Ucap Sungmin kemudian.

 

Kyuhyun hanya menurut dan langsung berbaring. Dan kemudian menggenggam lengan tangan Sungmin. “Miniming jangan pergi lagi ya….” Pintanya sebelum memejamkan mata.

 

Sungmin ikut merebahkan tubuhnya disamping Kyuhyun dan membalikkan tubuh Kyuhyun agar menghadap muka dengannya. “Tidurlah, aku akan menemanimu..” Lanjutnya sembari terus mengusap surai kecoklatan Kyuhyun dengan tangan satunya yang bebas.

 

***

 

Suasana tenang yang sedikit serius melingkupi sebuah ruangan dokter yang tidak terlalu besar. Didalamnya terdapat sepasang suami istri yang tengah menunggu hasil laporan dari pemeriksaan keadaan putri mereka yang tengah terbaring disalah satu kamar di rumah sakit tersebut. Sementara sang dokter tengah memilah satu dokumen dari sekian yang terdapat dimeja disudut ruangannya.

 

Sang dokter membetulkan letak kacamatanya ketika sudah mendapatkan sebuah dokumen dengan tertanda nama Lee Sungmin disampulnya.

 

“Ekhm..” Sang dokter sedikit berdeham sebelum membuka suaranya. Dibukanya dokumen tersebut perlahan.

 

“Bagaimana keadaan anak kami , dok?” Tanya Sang wanita. Sangat terlihat raut wajah khawatir menyelimutinya, membuat sang suami menggenggam erat tangan istrinya untuk menguatkannya.

 

“Tenang saja, anak kalian tidak apa-apa. Hanya saja maagnya yang kronis kembali kambuh disertai dengan tekanan psikis membuat keadaannya lebih buruk. Untuk pemulihan keadaan lambungnya, kami sudah memberikan penanganan yang cepat , namun itu semua tidak menjamin proses penyembuhan Sungmin-sshi dengan cepat apabila keadaan emosi dan perasaannya masih seperti sebelumnya.” Ujar sang dokter menjelaskan.

 

“Tertekan? Tapi apa yang membuatnya tertekan dok?” Tanya sang suami mendengar penjelasan dokter tadi.

 

“Untuk pastinya saya yakin pihak keluarga yang lebih mengetahui. Namun untuk memastikan kalian bisa mencoba membawa Sungmin ke psikiater agar pikiran dan perasaannya bisa lebih tenang. Bagaimanapun juga kondisi emosional menjadi salah satu faktor penentu penyembuhan juga.” Tambah sang dokter lagi.

 

Kedua suami istri tersebut saling memandang. Seperti bimbang dan ragu dengan saran dokter yang menangani anaknya ini. Namun sejurus kemudian mereka kembali memandang sang dokter.

 

“Baiklah, dokter. Terima kasih atas sarannya.”  Ucap sang suami sebelum pada akhirnya mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut.

 

Beberapa saat keadaan hening menyelimuti keduanya yang tengah melangkah menuju ruangan anak mereka. Sama sekali tak ada yang membuka suara. Hingga pada akhirnya sang istri , Nyonya Lee menghentikan langkahnya dan mencoba menyuarakan pendapatnya.

 

“Yeobo, menurutku sebaiknya kita biarkan saja Sungmin dengan Kyuhyun. Aku tidak mau anakku tersiksa seperti kemarin karena terpisah dari suaminya.” Ucapnya seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang rapuh.

 

Tuan Lee mendekap sang istri mencoba menenangkannya. Meskipun keras, dia bukan pribadi yang suka melihat apabila orang-orang yang sangat dicintainya terluka.

 

Perbuatannya memisahkan Sungmin dengan Kyuhyun bukan tanpa alasan, dia hanya tak ingin putri tunggalnya terbebani dan tidak bahagia karena hidup dan tinggal dengan Kyuhyun. Bagaimanapun juga dia adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putri kecilnya yang sangat dia manjakan.

 

“Aku tidak ingin melihat Sungmin kita menjadi seperti tadi, yeobo.” Lanjut Nyonya Lee dengan terisak didalam dekapan sang suami. Membuat Tuan Lee terus mengusap punggung sang istri lebih intens.

 

“Tenang , chagi. Untuk hal itu lebih baik kita pikirkan nanti, sekarang lebih baik kita melihat keadaan Sungmin.” Ucap Tuan Lee sembari melepas dekapannya dan menuntun sang istri untuk melanjutkan langkah mereka.

 

Dengan tubuh dipapah oleh sang suami, Nyonya Lee terus melangkahkan kaki menuju ruangan putri kesayangannya.

 

Sesampainya didepan sebuah pintu bertuliskan “VVIP 1315” Tuan Lee merogoh saku celana sisi kirinya. Mengambil sesuatu yaitu berupa sebuah kunci dengan label 1315, yang tak lain tak bukan adalah kunci ruang tersebut.

 

Diambilnya dan dimasukannya kedalam lubang kunci.

 

“Cklek!!”

 

“Su-sungmin??”

 

Betapa terkejutnya kedua orangtua Sungmin tatkala melihat anaknya tak lagi terbaring diatas ranjangnya seorang diri, melainkan ditemani oleh seorang pria yang sangat tak asing bagi mereka, Kyuhyun.

 

Tuan Lee mengepalkan tangannya. Geliginya bergemeletuk melihat pemandangan dihadapannya. Secara tak sadar, Tuan Lee mencoba melangkah menghampiri mereka berdua, namun langkahnya tertahan oleh sebuah rangkulan tangan dilengannya yang tak lain adalah tangan sang istri, Nyonya Lee.

 

Tuan Lee memandang tajam ke arah sang istri, sementara Nyonya Lee memberikan isyarat dengan sebuah gelengan kepala pelan dan sejurus kemudian menarik lengan suaminya untuk keluar dari ruangan tersebut membiarkan Kyuhyun dan Sungmin tetap tertidur nyaman diatas ranjangnya.

 

Dan pintu yang tertutup pelan pun menandai kepergian mereka dari ruangan itu.

 

“Ng~ Miniming, sepertinya tadi aku dengar suara pintu.” Ucap Kyuhyun setelah sedikit melenguh karena tidurnya terganggu.

 

Sungmin membuka matanya dan perlahan mengusap pipi Kyuhyun lembut. “Mungkin kau hanya sedikit mengigau, Kyu. Tidak ada suara apa-apa sejak tadi. Sudah tidur lagi saja..” Ucap Sungmin mencoba membawa Kyuhyun kembali ke alam tidurnya.

 

“Ne Miniming.. Hoamsss….” Ucap Kyuhyun yang diakhiri dengan pejaman matanya kembali.

 

Sungmin tersenyum sembari terus mengusap pipi Kyuhyun.

 

‘Terima kasih Appa…’ Ucap Sungmin dalam hati sembari menyusul Kyuhyun ke alam mimpi.

 

***

 

Sungmin terduduk tegang di atas ranjang sembari terus menundukkan wajahnya. Dihadapannya sang ayah tengah berdiri memandangnya dengan tatapan tajam dengan kedua tangan terlipat didadanya. Sementara sang ibu tengah berdiri disamping suaminya dalam diam.

 

“Sungmin.” Panggil sang Ayah dengan nada cukup tegas. Membuat Sungmin terkejut dan langsung mengangkat kepalanya.

 

“Ne, appa..”

 

“Kau tahu apa yang akan Appa katakan padamu?” Tanya sang Ayah sekali lagi.

 

Sungmin mencoba membuka mulutnya dengan takut, dia sangat-sangat tahu apa yang akan ayahnya katakan pada dirinya.

 

“Ne , appa..”

 

“Huh..” Ayah Sungmin menghela nafas dalam.

 

“Appa sudah memutuskan, lebih baik kau…”

 

***

 

Mata melilhat…

Otak memikirkan…

Hati merasakan..

 

Sungmin memandang lurus pemandangan yang ada didepannya dengan tatapan kosong. Ingatannya tentang Kyuhyun dan dirinya berkelebat seperti roll film yang diputar secara berlanjut. Sesekali dia tertawa kecil dan bisa tiba-tiba menangis kecil. Terlalu banyak hal yang sudah dilaluinya beberapa waktu ini.

 

Meski sudah tidak seperti saat kali pertama dia mengenal Kyuhyun, rasa sayangnya terhadap laki-laki itu sama sekali tidak pernah luntur ataupun berkurang. Tanpa sadar tangannya tergenggam keras ketika mengingat kembali peristiwa pemukulan Kyuhyun beberapa waktu lalu.

 

Sungguh, kalau saja Sungmin mempunyai kekuatan lebih, dia pasti akan membalaskan pukulan itu kepada mereka untuk Kyuhyun, sayang sekali Sungmin tak lebih dari seorang wanita yang kekuatannya tak seberapa untuk dibandingkan dengan pria-pria berbadan kekar waktu itu.

 

Namun ekspresi wajahnya kembali sendu ketika mengingat peristiwa di rumah sakit ketika ayahnya yang tiba-tiba meminta berbicara padanya ketika dia berada dirumah sakit karena sempat pingsan dirumahnya.

 

“Miniming!!” Seru Kyuhyun sembari menepuk kaca mobil tempat Sungmin melamun.

 

Sungmin sedikit tersentak ketika mendengar suara Kyuhyun memanggilnya. Sejurus kemudian dia tersenyum pada Kyuhyun dan segera membukakan pintu mobilnya dari dalam.

 

“Miniming sudah lama menungguku?” Tanya Kyuhyun sembari masuk kedalam mobil dan duduk disamping Sungmin.

 

Sungmin membantu Kyuhyun melepaskan tas punggunggnya dan merapikan surai rambut Kyuhyun yang menutupi poninya dan kemudian menyeka peluhnya. “Sedikit..” Sahut Sungmin singkat.

 

Kyuhyun sedikit menundukan kepalanya, “Maaf ya Miniming , dokter Dasom tadi menahanku terlalu lama.. huh!” Gerutu Kyuhyun sembari melipat kedua tangannya didada, terlihat lucu dimata Sungmin.

 

Sungmin mengacak surai kecoklatan Kyuhyun lagi sambil tertawa kecil, “Kau ini, Kyu… Hem jadi kau mau pulang untuk istirahat atau mau jalan-jalan?” Tanya Sungmin sembari menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mesin mobil.

 

“Tentu saja jalan-jalan! Miniming kan sudah janji.” Sahut Kyuhyun antusias.

 

Sungmin kembali tersenyum tulus. “Kalau begitu… ” Sungmin memiringkan pipinya mendekat ke arah Kyuhyun.

 

Kyuhyun malah mengerucutkan bibirnya. “Ayo jalan Miniming!!”

 

Sungmin menarik tubuhnya. “Tidak kalau Kyu tidak mencium Minnie…” Ancam Sungmin membuat Kyuhyun sedikit frustasi.

 

Dan sepertinya kali ini ancaman Sungmin berhasil mengelabui Kyuhyun, dengan segera Kyuhyun langsung menarik wajah Sungmin hingga berhadapan dengannya dan sekilas mencium bibir Sungmin. Padahal kan Sungmin hanya meminta dicium dipipi. Ck!Kyuhyun.

 

Sungmin sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Kyuhyun. Dasar Kyuhyun, dalam keadaan seperti ini masih saja bisa membuat jantung Sungmin berdegup dengan cepat dan kencang. Tak berubah. Seru Sungmin dalam hati bersungut ria namun menikmati.

 

Sungmin tersenyum dan ganti mencium Kyuhyun dikening, hidung dan terakhir dibibir Kyuhyun. “Aku mencintaimu, Kyu…”

 

“Aku juga mencintai Miniming..”

 

 

***

 

END

 

Huft… Fiuh….~

Finally , berhasil juga nyelesain sekuelnya, well , meski ga terlalu bagus fanfictnya. Mohon komentarnya ya ^^ Maaf kalau terlalu panjang *bow*

 

Indonesia, 120527 06:05 PM

Advertisements

Super Junior Were A Family

Super Junior Were A Family

Leeteuk :

In the past we always had activities separately. Many had expressed their unhappiness about it.

But I always tell my fans, we have 13 members and will always have 13.

This determination must be present within us.

SJ is our home, a home that will not leave behind or forget any members.

Although this home is not big, but everyone of us, needs you.

Heechul :

We have many members, there are many times when we are apart.

But I hope we can cherish the times we will spend together, even if there’s only a minute.

Even if we are so busy that we are unable to meet.

I still hope that the members can enjoy the happy times together and comfort each other during hard times.

Hangeng :

It’s been 7 or 8 years since our member have been together, since trainee’s days.

We cared for each other, received awards, go through tough times and cried together.

There are many times that I’m sorry as well as grateful for towards our members.

I have never said this before, but I really want to thank the members who have always been by my side no matter what.

And I’m really sorry for not being there during difficult times.

Yesung :

The pas have already passed. Everything will start afresh.

We shall not forget that we are Super Junior’s member.

We are a family.

Kangin :

I don’t want to think what will become of us in the future or how long more can we be together.

Once I think about it, I’ll feel very sad.

But no matter what happens in the future, separation, or not being an artist.

I wish I can tell others, these are my family members.

We are Super Junior.

“From Teuki hyung to Kyuhyunie, they are as precious as a family.”

“Even if there are only 10 members on stage, always think that there are 13 members.”

Shindong :

I keep on thinking that it was because I couldn’t fit in, I can leave Super Junior.

But come to think of it, although there might be this determination. It is impossible to leave and forget about everything.

The members who are always worried about me, the worried members who called back from china upon knowing that I was on diet. and little I though of leaving is not being good to them but just pure selfishness.

I wish to stay by your side… and be a Super Junior member that doesn’t embarrass the group.

Sungmin :

I’ve always felt that Super Junior is a group that causes one to feel tired easily.

But I still think our group is the best.

Although we often have activities separately, but during introductions, we will always say “I am Super Junior xxx”

Those are the best moments…

The time we’re together are the best! I have hyungs in front of me and I have dongsaengs behind me. Everywhere I go will have everyone by my side.

Eunhyuk :

I’ve always been thinking what exactly can I do?

Other dance and rap, what can I give to the members?

How lucky am I, the not so special me, to always get introduce to others by the members proudly.

Thank you our dear members. Not other words or emotions can express my gratitude towards you.

“Even if a members age and become fathers. We said that we we could keep the unity and brotherhood as Super Junior.”

Donghae :

Others told me, “I trust and I love you”. This is what I want to tell our members now.

The member who tolerate whatever mistake I’ve made.

The hyungs who have been like a father to me. I love you forever.

To me, you are family who will never change or leave me.

Siwon :

When we are promoting in China, it is very tiring. And I really misses the members in Korea.

However, regardless if it is M or H, there is still a Super Junior in front.

Whenever I think about it, it makes me feel as if the members have always been together.

Ryeowook :

When we go in China, the fans will always raise huge placards, there are also Super Junior ones.

Whenever I see these placards, I will start counting our member from 1 to 13.

When I reach 13, it feels as if the members are together again.

I always believe, being apart is only a matter of time. We will definitely return and be by their side again.

Kibum :

I seldom attend activities with the members. There are many times when people ask me “Are you a member of a Super Junior”.

I’ve never been able to express how apologetic I am to the members.

Compared to other forms of addresses. Super Junior is still my favorite.

Although I’m unable to be on the stage with the members, my heart is still with our 12 members. Please believe me.

Kyuhyun :

China fans wrote a sentence on the pearl sapphire blue sea photo. “If one day the world betrays Super Junior. ELFs will betray the world.”

I’ve always been thinking, what we have done to deserve such love from them.

But come to think of it now, it is not just for me, but for our 13 members.

Though we’re often separated, the members who have never stopped working hard for this team called Super Junior.

Cr: Super Junior’s Baidu Bar
Translated by cleaver487@sj-world.net

posted by Lidya Natalia on lidyaelfish


Fantasy Fanfiction / Notavel / Friendship / Part2

 

 

Tittle                :  Notavel

Cast                 :

Eleve :

  • Jeremy Kimme Feehily : Kim Jong Woon
  • Joshua  Tan Edward : Tan Hangeng
  • Nathaniel Egan Coward : Kim Ryeowook
  • Aiden Bernard Coward : Lee Donghae
  • Vincentryas  Fluxion : Lee Sungmin
  • Marcus Jacob Fyrewolt : Cho Kyuhyun
  • Henryada Laurensia Belleguard : Henry Lau
  • Dennis Byrne Parker : Park Jung Soo
  • etc.

 

Bubble Elf :

  • Crystal  Vonda Luxembright
  • Crusher  Mighty  Schweiszt
  •  Luna Tinker Ginkerzt
  • Viska Brown Marianna

 

Bukcer :

  • Lexus
  • etc.

 

Other Cast :

  • Allan Grant : Dennisa’s friend

 

Genre                   :  Fantasy , Friendship , Genderswitch, Romance *sometimes*

Rate                       :  Teen

Length                 :  Chaptered

Part                        :  2 of ?

Warning               :  Hard Understanding , If all of you don’t like this fict , better for you to move on ^^ All cast belong to God , but Lee donghae belong with me ^^ Cast’s names at this fiction has changed with their west name with other created and name’s modify ^^

 

 

==Notavel==

Ditempat yang berbeda , lima orang remaja paruh baya berusia sekitar 15 tahun berdiri didepan pintu hunian tempat mereka. Hari ini awal sejarah baru akan terlahir , terukir terhitung sejak mereka memantapkan hati untuk bisa mendapatkan gengsi kelas atas ataupun menorehkan prestasi tidak biasa di Notavel. Sekolah , yang mereka yakini bukan hanya mereka yang ingin menuntut ilmu disana , tapi juga seluruh remaja sebaya mereka yang berada diatas tanah Oryfame.

 

Dan hari ini merupakan awal penentuan apakah mereka memang akan bisa ikut menorehkan nama disejarah baru Notavel atau tidak. Hari tes masuk Notavel , yang bagi beberapa orang remaja sangat sulit untuk dihadapi namun sangat mudah pula bagi beberapa diantaranya.

 

at Varklass

Seorang vampyras mungil menatap Oddanya yang tengah berbicara dengan Ranna dan Dadda dari teman sebayanya, Marcus. Dengan tangan terus meremas ujung jubah yang dikenakannya dan keringat dingin terus mengalir dari pelipisnya, ia bergeming mendengarkan percakapan yang sama sekali tidak dapat didengarnya karena otaknya yang sudah dipenuhi rasa khawatir akan hasil dari tes yang bahkan belum dijalaninya.

 

Sementara itu sang teman sebaya , dengan jengah menatap teman sebaya wanitanya itu. Menyesali kepolosan yang masih saja begitu kentara dipenglihatannya. Dengan cepat ditariknya tangan mungil yang bergetar itu dari jubahnya.

 

“Ma-marcus?” Lirihnya sembari menatap sang teman dengan tatapan sayu.

 

“Vincent! Berhentilah bersikap konyol seperti itu. Sudah kukatakan bukan , kau dan aku pasti akan bisa masuk kelas Exuarto dengan mudah, jadi kau tidak perlu cemas seperti itu. Sampai bergetar seperti ini tanganmu..” Seru Marcus dengan tegas namun pelan ditelinga Vincent.

 

Vincent menunduk. Ingin dia mempunyai pikiran seperti Marcus , tapi apa daya , dia tidak sepercaya diri Marcus , teman sebayanya yang memang diwarisi otak pintar dari keluarganya. Tidak seperti dirinya yang hanya memiliki kemampuan otak yang terbatas.

 

“Vincent!” Seru Marcus melihat Vincent yang malah menunduk. Bukan itu tanggapan yang dia harapkan dari Vincent. Marcus kembali menggenggam tangan Vincent, kali ini lebih erat. “Kau percaya padaku kan?” Tanya Marcus sembari mengangkat ujung dagu Vincent , yang kemudian menatapnya tajam kedalam dua manik mata Vincent.

 

Dengan pandangan sayu yang masih tersirat rasa tak percaya diri, Vincent menganggukan kepalanya lemah. “Iya , aku percaya padamu… tapi..” Omongan Vincent terhenti karena dia tidak yakin dengan tanggapan Marcus apabila mendengarnya.

 

“Tapi apa?” Tanya Marcus.

 

“Kalau aku tidak masuk kelas Exuarto , bagaimana?” Tanya Vincent lagi.

 

Marcus menghela nafas pendek. Ditariknya kedua tangan yang memegang ujung dagu Vincent dan  menggenggam erat tangan gadis vampyras tersebut. Sejurus kemudian diletakkannya dengan angkuh kedua tangannya dipinggang. “Aku akan pindah kekelas tempatmu berada. Bagaimana?” Ucap Marcus membuat raut wajah Vincent sumringah.

 

“Benarkah?” Tanya Vincent dengan mata berbinar. Sebenarnya yang dia takuti adalah bukan kelas yang akan ditempatinya nanti. Tapi yang ditakutinya adalah berpisah dengan Marcus , sahabatnya dari kecil.

 

“Apa aku mengatakan tadi kurang jelas?” Tanya Marcus dengan raut wajah angkuh nan cueknya.

 

Vincent jadi salah tingkah. “Tidak! Bukan begitu , maksudku bagaimana kalau aku masuk kelas Louwzad? Apakah kau tetap mau pindah kelas bersamaku, Marcus?” Tanya Vincent agak khawatir dengan jawaban yang diterimanya nanti dari Marcus.

 

Marcus memutar bola matanya jengah. Sedetik kemudian diletakannya kedua tangannya dibahu Vincentryas. “Ya , aku akan tetap pindah , meskipun harus ke Louwzad.” Ucapnya yakin membuat Vincent menganga tak percaya.  Ditariknya tubuhnya menjauh dari Vincent. “Mana mungkin aku membiarkanmu sendiri.” Ucapnya pelan tanpa bisa terdengar oleh Vincent yang masih ditempat bergeming kaku.

 

==Notavel==

at Pavilliun Diadem, Pulau Gorgossium

 

Kerlap-kerlip kecil bermunculan mengitari sesuatu yang sangat menarik bagi mereka. Itu adalah Bubble ELF yang tengah mengitari kepala Yesung yang tengah memangku wajahnya dengan ujung telapak tangan yang terkepal dan duduk disebuah batang kayu Clump yang sudah tua, tengah menunggu kedatangan Joshua , orang yang menyuruhnya bersiap pagi ini dan katanya akan mengantarkan dia ke suatu tempat yang menurut Bubble Elf sangat menarik.

 

“Bisakah kalian berhenti berputar-putar di atas kepalaku?” Tanyanya dengan nada ketus sebal.

 

Bukannya takut , para Bubble ELF tersebut justru terkikik mendengar nada keluhan yang bagi mereka sangat lucu itu. Membuat sesekali sepasang sayap indah mereka bergetar karenanya.

 

“Kau menunggu Joshua ya Lesung?” Tanya Viska dengan tampang merasa tak berdosa menyebut Lesung pada Yesung sembari terus memilin ujung rambutnya yang dikuncir kuda.

 

Yesung tambah memajukan bibirnya dengan lucu , “Namaku Yesung bukan Lesung!” Ralatnya cepat dan lagi-lagi membuat ketiga Bubble ELF tersebut kecuali , Crusher, terkikik. Sama sekali tidak menunjukan raut wajah takut karena bentakan Yesung tadi. “Iya aku menunggu orang itu , apa dia selalu terlambat seperti ini?” Tanya Yesung kesal pada keempat bubble ELF itu.

 

Keempat? Ya Keempat , karena meski Crusher tidak bersikap ramah padanya , tapi Crusher tetap ikut menemani Yesung , bersama ketiga teman Bubble ELFnya tersebut. Oleh karena itu, Yesung masih menganggapnya.

 

“Bukan selalu , tapi hanya padamu!” Seru Crusher ketus. Akibat dari perkataannya dia mendapat deathglare imut dari ketiga teman perinya itu.

 

Yesung mencibir sebal ke arah Crusher , dari awal kedatangannya Bubble ELF itu sama sekali tidak bisa bersikap ramah terhadapnya , berbeda dengan tiga temannya yang lain.

 

“Sudah , Jeremy jangan kau dengarkan Crusher , dia sebenarnya baik kok..” Ujar Crystal mencoba memberi pengertian pada Yesung. Yesung memutar bola matanya. Well , meski baru sehari dia disana. kehangatan mereka semua bisa membuat Yesung cepat akrab dan bisa menunjukkan rasa hatinya tanpa menutupi apa-apa.

 

“Hey!! Itu , Joshua!!!!” Seru Luna tiba-tiba ketika melihat kedatangan sosok yang tidak asing bagi mereka.

 

Kontan , semua Bubble ELF tersebut langsung mengelilingi Joshua dengan gemerlap kilau terpancar dari setiap kepakan sayap mungil mereka , termasuk Crusher.

 

“Lihat si Crusher itu!! Bahkan padaku saja tersenyum pun tidak, kenapa ekspresi wajahnya bisa semanis itu pada Joshua Joshua itu..?” Rutuk Yesung pelan ketika melihat pemandangan itu untuk kali pertama.

 

“Hey Jeremy , apa kau sudah siap?!” Tanya Joshua sembari menepuk pundak Yesung tiba-tiba , membuat tubuh Yesung yang lengah sedikit langsung limbung dan jatuh terperosok ke tanah berumput tersebut.

 

“Ups!” Seru Viska sembari menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.

 

“Apa aku terlalu keras menyentakmu?” Tanya Joshua sembari mengulurkan tangan membantu Yesung untuk bangkit. Yesung meraih tangan Joshua dan langsung menepuk-nepuk bagian belakang celana yang dia rasa cukup kotor akibat tersungkur ketanah tadi.

 

Yesung mengerucutkan bibirnya, “Tidak , aku saja yang lengah..” Jawab Yesung mencoba tetap bersikap sopan pada Joshua yang notabene dia rasa lebih tua dan lebih besar ukuran tubuhnya darinya.

 

Crusher mencibir, “Bukan lengah tapi memang tak bertenaga… ” Serunya cepat.

 

Joshua mengangkat ujung bibirnya sedikit. Menganggap lucu cibiran dari Crusher untuk Yesung tadi.

 

Yesung melotot pada Crusher, dan sejurus kemudian langsung melompat-lompat , mencoba menggapai dan menangkap Crusher yang terus melayang-layang di udara. Sepertinya kali ini dia sudah mulai hilang kesabaran pada Crusher.

 

Kontan , Crusher langsung terbang lebih tinggi dan bersembunyi dibelakang tubuh Joshua. Membuat Joshua , Crystal , Luna dan Viska tertawa karena gerakan tiba-tiba dua makhluk yang tengah bertengkar itu.

 

“Sini , kau Bubble ELF jelek!!” Seru Yesung sembari terus mencoba menangkap Crusher dengan terus melompat-lompat diatas tanah lembab Pulau Gorgossium itu.

 

“Awas, Crusher!! Nanti kau tertangkap!!” Seru Viska kesenangan dengan adegan didepannya. Sesekali dia bertepuk tangan, karena takut temannya tertangkap oleh Yesung. Sementara Joshua dan Crystal hanya tertawa melihat itu.

 

“Sebelah sini, Jeremy!! Crusher ada disini!!” Dan Luna lebih memilih membantu Yesung , agar kedudukan berimbang. Hal itu membuat Crusher merengut karena tidak dapat pembelaan dari temannya sendiri, dengan pandangan tajam menusuk Crusher melotot pada Luna. Kontan Luna langsung bersembunyi dibalik tubuh temannya yang tak berukuran jauh dengannya, Crystal.

 

Dan mungkin saja hal itu tidak akan berhenti kalau Joshua tidak menginterupsi Yesung untuk bersiap berangkat menuju sebuah tempat seharusnya dia berada.

 

“Sudah! Sudah! Crusher, Jeremy!” Sela Joshua. “Berhenti. Aku harus segera membawa Jeremy ke Notavel.” Lanjut Joshua membuat Yesung dan Crusher berhenti berputar.

 

“Hosh! Hosh!” Yesung memegangi dadanya yang terengah kelelahan. “Lain kali aku pasti akan menangkapmu, Crusher!” Seru Yesung ke arah Crusher. Sementara Crusher hanya menjulurkan lidahnya , tanda tidak takut pada Yesung.

 

“Lain kali?? Dalam mimpimu , J!” Sahut Crusher lagi.

 

Luna langsung terbang ke arah Joshua , ketika Joshua dan Yesung sudah bersiap pergi. “Joshua!! Jeremy akan kembali lagi kemari kan?” Tanya Luna dengan raut wajah dibuat sedih yang sepertinya tidak rela berpisah dengan Jeremy.

 

“Tenang saja , Luna. Jeremy akan sesekali berkunjung kemari. Akan kupastikan itu. Mengerti ?” Jelas Joshua dengan senyum indahnya mencoba memberi pengertian pada Bubble ELF yang memang mudah berubah-ubah perasaan dan suasana hatinya. Dan itu perasaan mereka sangat berpengaruh pada keadaan alam di Notavel.

 

Luna mengangguk mendapatkan jawaban Joshua yang cukup memuaskan dirinya. Dan langsung menjauh dari Joshua dan Yesung , mendekat kepada teman-temannya.

 

Dan dengan cepat didepan keempat Bubble ELF itu, Joshua membentangkan jubah merah maroonnya menutupi tubuh Yesung dan langsung menghilang dalam sekejap mata saat itu juga.

 

==Notavel==

 

at Miinahaltland

Sebuah gubuk berdinding kayu clump tua didaerah pinggiran pusat kota Miinahaltland terlihat tidak berpenghuni. Dengan pintu terbuka secara asal dan daun pintu yang hampir terpisah dari engselnya itu sungguh menambah kuat akan kekosongan didalamnya.

 

Kini didepan gubuk reot tersebut berdiri beberapa orang yang berkelompok menjadi satu. Memandangi gubuk yang hampir rubuh tersebut dengan tatapan heran dan kesal.

 

“Kau yakin dia tinggal disini?” Tanya seorang yang bertubuh paling besar diantara mereka dengan mencondongkan leher kepada seorang valky kecil yang tengah terjerat lingkar leher bajunya sendiri karena ditarik paksa oleh orang-orang yang lebih besar dan berkuasa daripadanya.

 

“Ii.-iya , aku tidak mungkin berani berdusta padamu. Dia tinggal digubuk tua ini. Bahkan kemarin aku baru saja berkunjung kemari. Sungguh. Aku tidak bohong…” Jawab Valky itu dengan susah payah.

 

“Dasar bedebah kecil!! Tampang seperti itu mau masuk Notavel?!” Sungutnya kesal.

 

Dia menarik kembali lehernya dan menatap lekat pada gubuk tua dihadapannya.

 

“Sulit dipercaya!” Serunya sembari membanting keras ranting kecil ditangannya. “Aku bahkan tidak tahu , kalau di balik semak-semak ini ada gubuk.” Lanjutnya sembari mendekati gubuk tua itu.

 

Memang. Gubuk tua itu benar-benar tersembunyi. Tersembunyi dibalik semak dan rumput-rumput liar yang dengan angkuhnya terus tumbuh hingga melampaui tinggi pohon Ek disekitarnya. Sulur-sulur daun pohon Ek tua yang terjatuh pun seperti memberi kesan menutupi keberadaannya.

 

Perlahan didekatinya daun pintu yang seolah mengundangnya untuk masuk kedalam.

 

“Kretek!”

 

“Kalian diam disitu!” Titahnya ketika mendengar langkah lain yang terdengar seperti mau mendekat , menyusulnya.

 

Suasana sunyi dan hawa lembab yang sangat mencolok sedikit mengganggu indera penciumannya. Padahal dia baru sampai depan pintu. Belum mendorong daun pintu itu lebih lebar. Masih belum. Dengan terpaksa diarahkannya tangan kanan ke arah hidung untuk menutupi udara busuk yang masuk kedalam lubang hidungnya.

 

“Tempat apa ini?!!” Umpatnya kesal.

 

Sungguh kalau bukan karena perintah dari atasannya , takkan mau dia bersusah payah seperti ini mencari valky kecil yang sangat lemah dan tak berguna itu baginya.

 

“Brakkk!!!”

 

Akhirnya dengan tidak penuh perasaan , didorongnya daun pintu rapuh itu dengan tendangan kakinya. Dan itu membuatnya sukses terlepas dari engselnya hanya dalam sekali tendangan.

 

Dengan cepat dia kibaskan debu-debu yang sempat menempel dibajunya akibat tendangan tadi. Aneh. Hawanya lembab , tapi… kenapa berdebu? Pikirnya dalam hati. Terbesit sedikit keraguan dalam hatinya untuk masuk kedalam gubuk tua itu. Namun bayangan Sang Valky besar yang akan membunuhnya apabila dia tidak membawa objeknya membuat keraguan dalam dirinya hilang seketika. Dia masih belum mau mati cepat. Bahkan dia baru saja naik pangkat menjadi RoValk II. Dia masih belum mau namanya terukir dengan cepat ditaman pemakaman RoValk. Masih bagus kalau nyawanya disemayamkan disana , kalau diberikan untuk makan Booster? Sungguh demi Gruwolvas yang mengawasinya dari atas sana , dia tidak mau tubuhnya sia-sia dimakan oleh Booster buas itu.

 

“Huh.. ” Dihelanya nafas pendek pelan. Bagaimanapun dia tidak ingin terdengar seperti pengecut didepan para anak buahnya.

 

Diayunkannya kaki kanan sebagai langkah pertama dan ketika kaki tersebut menapak didalam gubuk tua itu…
“AAAAA!!!!!”

 

Kontan , seluruh anak buah dari RoValk II tersebut langsung berlari menyusul atasannya itu. Sampai-sampai mereka melepaskan tahanan mereka.

 

Tanpa mereka sadari, dibalik kecemasan yang mereka hadapi terdapat seorang valky yang mereka cari-cari tengah menyeringai senang dibalik pohon Ek besar.

 

Sementara tahanan kecil tadi langsung melihat keberbagai arah seperti mencari sesuatu. Dan ketika matanya menangkap bayangan suatu objek. Hatinya terasa perih. Dengan lirih dia benamkan tangannya memegang dada kirinya.

 

“Dennis….”

 

==Notavel==

 

at QuittenWonder

 

“Siap , Nathly?” Tanya Aiden dengan semangat kepada sang adik sembari mengusap puncak kepalanya.

 

“Selalu, Aiden!” Sahutnya semangat.

 

“Apa kau gugup ?” Tanyanya lagi.

 

“Tidak pernah segugup ini sebelumnya..” Jawab Nathly lagi sembari memainkan kedua ujung jari telunjuknya, meski jawabannya terdengar lesu , raut cerianya sama sekali tak pudar.

 

“Jangan terlalu gugup! Kau pasti bisa!” Sahut Aiden menyemangati.

 

“Tentu saja!! Bukan hanya pasti bisa, tapi aku memang harus bisa!!” Kali ini nada dan raut wajahnya sejalan.

 

“Nah, tidak ada yang tertinggal kan? Kau sudah siapkan semuanya? Plaque mu ada tidak?” Tanya Aiden lebih cerewet. Mengingat adiknya ini termasuk orang yang ceroboh dan pelupa dalam hal menyimpan barang-barang miliknya sendiri.

 

“Hahaha…” Nathaniel sedikit tertawa melihat kecemasan dari Oddanya sendiri akan dirinya membuat Aiden memandang bingung ke arahnya. “Tenang saja , Anna sudah memastikan semuanya lengkap tadi. Jadi pasti tidak akan ada yang tertinggal..” Ucap Nathaniel percaya diri.

 

“Siapa bilang?” Sela Aiden.

 

“Ha?”

 

“Kau masih melupakan satu hal..”

 

“Apa itu?” Tanya Nathaniel bingung. Keningnya mengerut sementara bibirnya mengerucut lucu. Seingatnya dia tidak melupakan apapun untuk tesnya hari ini.

 

“Chup~”

 

“Kau melupakan ciuman keberuntungan dariku , kali ini. Untung saja aku ingat!” Desah Aiden setelah mencium kilat kening adiknya.

 

Nathaniel tersenyum manis melengkungkan bibirnya , sementara matanya membentuk sebuah garis lengkung yang berlawanan arah dengan bibirnya. “Terima kasih, Aiden!” Serunya ceria.

 

 

 

==Notavel==

at Elfame

 

Seorang neraida kecil termangu menatap kedepan dengan pandangan kosong. Sebentar lagi penentuan masa depannya akan segera dihadapi.  Memang Annanya sama sekali tidak menuntutnya harus masuk kekelas Exuarto atau tidak. Sang Anna justru membebaskan minatnya sendiri untuk masuk kelas mana yang dia inginkan dan juga yang dia mampu, tentu. Tapi lagi-lagi bayangan akan Silsilah garis keturunan keluarganya sebelum dirinya kembali membuat kepalanya lagi-lagi pusing dengan perasaan sedikit tertekan. Bagaimanapun dia tidak ingin dicap sebagai generasi perusak garis keturunan.

 

Minimal dia bisa masuk  Avegga dan syukur-syukur dia bisa masuk Exuarto , meski rasanya begitu sulit.

 

“Huh…” Dia kembali menghembuskan nafas pendeknya. Ini sudah yang kelima kali hari ini. Kali ini posisinya sedikit berubah, dihampirinya sebuah kursi yang terbuat dari kayu pohon Clump , dipangkunya dagunya yang bagai lebah bergantung tersebut dengan kepalan tangan kanannya.

 

“Belle…” Sebuah suara yang tiba-tiba sedikit membuat lamunan bayangan beban yang terlintas dipikirannya buyar.

 

Neraida kecil tersebut menoleh kesumber suara. “Anna…” Lirihnya saat tahu kalau yang memanggilnya barusan adalah sang Anna.

 

Anna dari neraida kecil itu segera menghampiri anaknya tatkala dia mendapatkan raut wajah muram milik anak perempuan satu-satunya itu. “Ada apa, Belle? Kenapa wajahmu muram seperti ini? Sebentar lagi kita kan akan ke Notavel…” Tanya sang Anna beruntun. Setau dirinya, anaknya itu sudah sangat tidak sabar untuk segera ke Notavel, tapi mendapati raut wajah muram anaknya sebelum mereka berangkat ke Notavel sedikit membuatnya bingung.

 

“Tidak apa , Anna. Aku hanya sedih saja membayangkan aku akan berpisah denganmu dalam waktu yang sangat lama. Aku takut akan merindukanmu nanti.” Sahutnya sedikit beralasan. Dia memang tidak bohong, Belle memang belum pernah tinggal jauh dari keluarganya. Yah , walaupun alasan utama kemuramannya tersebut bukan karena hal itu. Tetap saja itu juga berpengaruh.

 

Sang Anna tersenyum lembut sembari mengusap puncak kepala Henryada Belleguard dengan penuh kasih sayang. “Tenang saja, ketika kau belajar disana. Kau akan begitu menikmatinya sampai-sampai tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tiba-tiba saja kau bisa bertemu lagi dengan Anna dan Dadda..” Ucap Sang Anna mencoba menghibur putri kecilnya.

 

Belle menatap sang Anna dengan mata mengungkapkan rasa tak percaya, “Benarkah?” Tanyanya kemudian dengan raut wajah sangat polos dan menggemaskan.

 

“Ya, apa Anna pernah berbohong padamu, Belle?”

Belle menggeleng. “Tidak, Anna..”  Sahutnya kemudian.

 

“Nah, kau percaya pada Anna, kan? Sudah sekarang kau jangan memasang wajah muram lagi ya.. Keberuntungan akan menjauh kalau kau memasang wajah jelek seperti tadi.. Mengerti?” Kali ini sang Anna mencubit gemas kedua pipi chubby putri kecilnya.

 

Belle tersenyum melihat tingkah sang Anna,

 

“Iya , Anna. Aku mengerti…”

==Notavel==

TBC


Kyumin’s Fanfiction / Genderswitch / Fantasy / Romance / Friendship / IKIMONOGAKARI / Part 5

Tittle : IKIMONOGAKARI

Part : 5 of ?

Cast : Lee Sungmin , Cho Kyuhyun , and other cast

Author : Dimas GK

Editor : LidyaNatalia

Genre : Fantasy, Fighting, Friendship, Romance

Length : Chaptered

Rate : Teen

Warning : Don’t Like Don’t Read!

Summary : If  you die I’ll never forgive you…

Lidya’s note : Okay , guys , this isn’t my Fiction , this is my friends fiction. Ehm , well , aku cuma mau saranin , baca pelan-pelan fiction ini , jangan terburu-buru , karena perlu pemahaman tinggi buat mengerti isi ceritanya #pengalaman ~

So , yang udah baca jangan lupa tinggalkan jejak ya~

Let’s check this out …

==IKIMONOGAKARI_Chapter5==

Der Junge, der alles wissern möchte

Der Junge, der nichts weiβ

Wenn du groβ bist , verstehts du sagte die Mutter

Der Junge, der alles sofort wissen möchte

*Flashback*

“Heyy!! Itu anak mu?” Tanya Mrs. Janet dengan antusias terbukti dengan matanya yang berbinar tatkala menatap kedua anak kecil didepannya.

“Iya mereka berdua anakku…” Jawab seorang perempuan berambut putih panjang. Dia menunjuk dua bocah kecil yang berdiri di belakangnya sambil menarik baju ibu nya dengan mata bulat penuh polos memandang takut ke arah orang yang bagi mereka sangat asing dihadapan mereka.

“Kembar ya? Kok rambut mereka berbeda?” Mrs. Janet kembali bertanya seraya meletakkan tangannya di ujung dagunya dan sesekali mengusapnya tanpa arti.

“Iya..  anak perempuanku yang pirang ini lebih mirip dengan ayahnya.. haha… “ Tawa kecil dari sang ibu membuat kedua anaknya melihat wajah ibu mereka.

“Oh ya, apa melahirkan itu menyakitkan??” Bisik Mrs. Janet pelan dengan raut wajah takut-takut namun penuh rasa penasaran.

“Hmph.. kau akan mengetahuinya nanti..” Perempuan itu tersenyum lebar. “Nah kau belum tahu namanya kan? Kenalkan, yang pirang berambut dan panjang ini bernama Sungmin. Ayo ulurkan tangan mu sayang…. ” Ucapnya kepada sang buah hati dengan memberikan sedikit dorongan pada tubuh mungil buah hatinya tersebut dengan lembut.

Bocah kecil itu menurut dan mengulurkan tangannya yang manis kepada Mrs. Janet.

“Kalau yang ini namanya Heechul. Dia sedikit pendiam…” Heechul berjalan pelan dan menghampiri Mrs. Janet dan ia mengulurkan tangannya.

“……”

Anak itu tak berbicara apa-apa. Dia hanya menatap mata Mrs. Janet lurus tanpa pandangan takut-takut seperti saudari kembarnya.

Mrs. Janet sedikit menarik sudut bibirnya mencoba untuk tersenyum ramah , walau agak sedikit kikuk dengan tatapan Heechul barusan. “Kenalkan namaku Mrs. Janet…heehee..” Mrs. Janet tersenyum dengan polosnya. Bocah itu menjadi malu dan kembali ke belakang ibunya.

“5 tahun lagi mereka akan masuk E.L.F jadi mohon bantuannya ya…” Perempuan itu kembali tersenyum sembari membungkuk dalam pada Mrs. Janet.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin!!” Mrs. Janet berkata sambil mengepalkan tangannya penuh semangat percaya diri yang menggebu.

Perempuan tersebut tersenyum penuh arti. “Aku mengandalkanmu.. Mrs. Janet Tu Odeschwanck.”

*flashback end*

==IKINOMOGAKARI==

Setelah menerima Senjata dari Mrs. Adelia, Kibum pergi ke atap sekolah. Ia bermaksud menenangkan diri disitu. Ia berjalan meyusuri anak tangga yang panjang dengn sedikit berlari. Sesampaiya disana Kibum membuka pintu dan melihat pemandangan atap sekolah dengan lantai marmer dan pagar besi yang menghalanginya.

Setelah mendapatkan tempat yang tepat , ia merebahkan tubuhnya di lantai dan melihat ke langit. Kibum tidur telentang berbantalkan tangannya di atap sekolah  yang luas. Ia memandang langit biru dengan awan yang berarak dan angin yang berhembus sepoi-sepoi.

“Hoahhmmm….” Kibum menguapkan mulutnya lebar kala tubuh dan pikirnya terkena terpaan angin yang berhembus pelan yang seakan menggodanya untuk memejamkan mata.

“Sudah 5 tahun aku berteman dengan Sungmin. Sepertinya aku masih mengingat waktu pertama kita bertemu… ”

*flashback*

_Kibum’s POV_

-5 tahun lalu…

Aku hidup di keluarga keturunan bangsawan. Orangtuaku sangatlah kaya raya, mainan apapun akan dibelikan oleh mereka. Rumahku pun ada di jalanan tersendiri dengan taman dan kolam renang pribadi. Kedua orangtuaku sangat sibuk mengurus masalah bisnis Logistik antar kota. Tetapi walaupun begitu, mereka masih sempat untuk bermain dan menyempatkan waktu  bersamaku. Di mata orang keluarga kami begitu sempurna tanpa adanya kekurangan.

Pada Suatu hari mereka pergi mengantarkan bahan –bahan Logistik ke daratan Glasis, Perbatasan antara Kota Lacrimost dan Daratan merah Kematian yang menjadi medan perang. Aku ditinggal sendiri bersama Butler dan maid ku.

“Bummie, Jagalah rumah ini. Aku dan ibumu akan pergi mengantarkan Logistik untuk saudara kita.” Ucap Ayah dengan lembut sambil mengusap kepalaku. Waktu itu masih memegang boneka beruang Wawa ku.

“Betul Bummie… kau jangan nakal nanti dirumah ya.  Ayah dan ibumu akan kembali beberapa bulan lagi.” Tambah Ibuku ketika itu.

Ibu mencium pipiku dan mereka berdua pergi memakai kereta kanavan. Mereka tersenyum ke arahku dan melambaikan tangan mereka. Kereta itu berjalan dengan kencang dan menghilang di jalan ke luar Lacrimost. Tiba- tiba Aku  merasakan firasat buruk yang akan menimpa mereka.

Kehidupan ku kembali biasa. Walaupun tak ada rrangtuaku aku bisa bermain dengan Butlerku. Keseharianku diisi oleh kesenangan dan kebahagiaan tanpa kesepian yang berlanjut.

Tetapi tanpa disadari olehku yang masih kecil, tragedi demi tragedi datang. Yang pertama terjadi  pada hari ke-355, 5 tahun lalu. Ada seorang teman ayahku yang membawa kabar berita tentang tewasnya orangtuaku. Mereka terbunuh oleh seorang bocah perempuan seumuranku. Ia membantai seluruh pasukan dan komandan disana sendirian. Sang teman ayahku berkata sambil mengambil nafas dan terengah-engah.

Kontan aku tak percaya dan tertawa di waktu itu. Tapi teman Ayahku menjelaskan ini bukan Kebohongan, ia bersumpah melihat mayat kedua orangtuaku dikremasikan disana.

“Ini Bohong!! Bohong!! Mereka berjanji kepadaku akan pulang mereka Bohong!!” Racauku tak jelas.

Hey! Saat itu aku masih terlalu kecil untuk menerima kabar buruk seperti itu, bukan? Bahkan mungkin, kalau saat itu aku sudah berumur seperti sekarang, aku yakin aku juga masih akan tetap terkejut dengan kabar buruk yang tiba-tiba itu.

“BRAKKK!!”

Kubanting pintunya seakan-akan aku meluapkan amarahku. Airmataku mengalir dadaku sesak. Mukaku memerah, perasaan ku tercampur antara amarah dan kesedihan.

Hati polos kecil ku terus bertanya-tanya. Mengapa ini semua terjadi ? Dan siapa anak kecil itu?

Esoknya, aku datang bersama butlerku ke makam orangtuaku. Aku menaruh bunga kamboja dan lilia putih kesukaan ibuku, di depan makam mereka. Aku seperti tak punya semangat dan tujuan hidupku lagi.hari ini hujan begitu deras seperti langit ikut menangis kehadapanku.

Aku benci hidup ini.

Aku tak suka .

Mereka Bohong kepadaku.

Aku lari dari rumah berlari tanpa arah yang jelas. Berlari dan terus berlari. Kulihat sebuah jembatan terlintas di dalam benakku untuk bersembunyi di bawah jembatan. Sesampainya disitu aku duduk termenung dan  Menatap air yang mengalir dengan derasnya. Aku iri dengan air yang mengalir. Aku ingin hidup seperti air, tak perlu merasa kehilangan. Kusentuh air itu dengan jari jemari ku.

“Byuuurr!!”

Tetapi sepertinya kekuatan arus air itu membuat ku kewalahan dan aku pun terbawa arus itu. Ini gawat!! Aku tak bisa berenang!! Seseorang tolong aku!!

“To.. tol pfha tol bbblrllplp….Tolong!!”

Nafasku sesak aku tak bisa mempertahankan kesadaranku. Dalam hati aku berpikir kalau aku mati aku akan menyusul mereka. Betul juga lebih baik aku mati saja..

Kulihat bayangan sesorang berambut panjang menarikku ke atas permukaan air.

“Kau pegang erat tanganku!! Jangan lepaskan!” Seru seorang perempuan kecil sambil membawa aku yang kesadarannya samar-samar ke ujung sungai yang deras.

“Hyaaaa…” Aku berhasil terangkat. perempuan kecil itu mengambil nafas karena kecapekan.

“Haah.. haah.. Kau!! Apa-apaan sih main di tempat seperti ini! Jangan permainkan nyawamu!!!” perempuan itu membentak dengan keras.

“Kau jangan ikut campur!!” Aku membalas bentak kepada perempuan itu.

“PLAAKK!!!”

Sebuah tamparan mendarat di pipiku.

“Kau pikir kalau kau mati akan menyelesaikan masalah?”  Bentaknya lagi kepadaku. Ia benar-benar errrr…. kelihatan marah.

“Memangnya tahu apa kau tentang masalahku?! Hah?” Aku sedikit merasa emosi.

“Aku memang tak tahu masalah mu! Tapi… apa dengan begini kau akan puas? Bagaimana orangtuamu? mereka akan sedih ketika kau meninggalkan mereka. Kalau misalnya kau tak memikirkan mereka mati saja sana!”  Seru perempuan itu dengan satu tarikan nafas tanpa jeda sedikitpun.

Aku terdiam. Tak bicara apa-apa..

“Huh!! Bahkan untuk bilang terimakasih saja tidak!” Lanjut si perempuan itu.

“Mmaaf .. aku aku..  huaaaaa !!!”Aku menangis meluapkan kesedihanku yang kupendam.

“Hhhh… ya sudahlah.. sepertinya aku yang salah.  Maaf ya? ” Perempuan itu mengulurkan tangannya yang mengarah kepadaku. “Oh,ya namamu  siapa?” Lanjutnya.

“Namaku Kibum, Kim Kibum ..” Jelasku sambil terisak.

“Kalau aku Lee Sungmin salam kenal ya …”

_End of Kibum’s POV_

*flashback end*

Kibum terkekeh karena ingatan pertemuannnya dengan Sungmin. Tapi ingatan itu terhenyak karena sesuatu ledakan besar membuat badai debu sekilas

“Segel #3 Tridenta!!”

“BLARRRR!!!!”

“!!!”

Kibum berlari ke arah sumber suara disana ternyata di gedung sebelah terdapat Gogon Hitam yang besar dan 1 orang memakai kacamata memegang buku.

Di lubang itu terlihat Sungmin yang kaget dan Kyuhyun yang terjatuh. Secara intuisi Kibum berkata, “Dia mengincar Sungmin!!!”

==IKINOMOGAKARI==

-Lorong kelas-

Mrs. Janet berlari mencari asal ledakan tadi. Dia berlari ke kelas –kelas.

“Apa disini ada Lee Sungmin??” Tanya Mrs. Janet dengan nafas terengah-engah.

“ Tidak, tak ada!” Jawab sang guru yang sedang mengajar.

“Maaf!!” Mrs. Janet kembali berlari ke koridor koridor. Dan kejadian seperti tadi terus berulang hingga beberapa kali.

“Kelas menembak? Bukan! Kelas memasak? Bukan! Pasti ada di kelas meramu milik Aria!!”

Mrs. Janet kembali berlari ke arah Kelas Ms. Aria yang ada di gedung sebelah sambil membawa Naginata dan Pedang Aeon di belakangnya. Ia berlari sekuat tenaga untuk sampai tepat pada waktunya.

Sementara itu…

“Adududuh!!” Kyuhyun jatuh terduduk karena efek ledakan. Ia melihat seseorang seumurannya memakai kacamata dan membawa buku diatas Kepala Gogon yang dijulurkan seperti jembatan.

“Hmph… sepertinya dia bukan .. ”Gumam Hangeng sendirian.

“Apa kau sudah menemukannya? Jangan membuatku menunggu Hangeng!” Seseorang keluar dari singgasana Gogon itu.

“Kyuhyun? Kau tak apa-apa?” Sungmin menolong Kyuhyun yang terjatuh dan membantunya berdiri.

“Sepertinya dia…” Tunjuk Hangeng ke Sungmin, ia memberitahukan Heechul kepada orang yang dicarinya selama ini.

Sungmin dan Kyuhyun kontan menoleh tatkala mendengar Hangeng berseru lantang.

“Kau …” Kata- kata Sungmin terputus tatkala dia melihat ke arah orang yang menyebutkan namanya dengan lantang tersebut.

DEG!

DEG!

DEG!

Jantung Sungmin berdetak lebih cepat . De Javu itu kembali lagi.

Sungmin tiba- tiba ada di ruangan yang gelap.

Ruangan itu berwarna abu-abu dengan diterangi cahaya bulan seorang anak perempuan kecil berambut putih dengan noda darah di pipinya. Mayat yang bertumpuk diantara mereka. Mereka berdua terdiam. Tetapi perempuan kecil itu membuka mulutnya.

 

“Mengapa? mengapa kau membunuh mereka?”

 

Keadaan menjadi hening… Keringat jatuh dari pelipis Sungmin. Pada saat yang bersamaan darah juga jatuh dari pipi anak itu.

 

“Jika kau membunuh mereka aku akan membunuhmu…” Sahutnya dengan tatapan tajam menusuk ke arah Sungmin.

 

“!!!” Sungmin sedikit tersentak dengan apa yang dikatakan oleh perempuan kecil itu.

“Sungmin Jangan bengong!!” Kyuhyun membangunkan Sungmin dari de javu yang terlintas di pikirannya.

“ Sudah lama ya, Lee Sungmin… “ ucap Heechul dengan nada tajam penuh sirat kebencian.

“Keluarlah… Medo No Shirayuki!!!” Heechul mengambil pedang dari dimensi lain yang mengeluarkan aura hitam dan gelap.

“LEE SUNGMIN!! “ Teriak seseorang yang berada di depan pintu kelas.

“Bunuh!” Heechul langsung berlari dengan mengacungkan pedang ke arah Sungmin.

Sungmin menoleh kearah pintu kelas terlihat Mrs. Janet yang memasang kuda-kuda dan mengambil pedangnya.  Disaat yang bersamaan Heechul makin dekat dan….

Tiba-tiba

“Segel # 98 Mist!!!”

“WUUSH!!!”

Sebuah kabut yang pekat dan putih menghalangi pandangan Heechul. Kontan ia terhenti seketika. Ternyata segel itu diucapkan oleh Aria Links

“Hmm..” Heechul memejamkam matanya dan mengandalkan instingnya.

==IKINOMOGAKARI==

-Di luar Kelas-

“Terima kasih atas pertolonganmu Aria!” Mrs. Janet , Kyuhyun dan Sungmin tiba-tiba ada di depan kelas.

“Tak usah berterima kasih padaku.. cepat kalian pergi dari sini!!” Titah Aria dengan cepat.

“Baik, ayo kalian berdua!! Murid yang lain akan diurus oleh Aria Ayo cepat !” Ajak Mrs. Janet ke Kyuhyun dan Sungmin

“ Ne !”  Kyuhyun mengikuti perkataan Mrs. Mrs. Janet  sementara Sungmin mengangguk.

==IKINOMOGAKARI==

“Segel  #02 Dandelion!!!”

“Huh, ternyata kabut ini memang dipasang Kekkai Mistis. Hangeng!!” Heechul mulai kesal karena kabut yang terus menghalangi pandangannya.

“Baik!! Segel #21 De-select!”  Hangeng langsung mengerti apa yang diperintahkan Heechul.

Kabut itu berangsur angsur menghilang tapi, ada sesuatu yang besar di depan mereka berdua.

“Ternyata dia Aria Links Komandan si ‘Wizard of Tree’.” Hangeng berkata dengan penuh waspada, begitu juga Heechul.

Terlihat bunga Dandelion raksasa yang ditunggangi oleh Aria Links.

“Ayo Danddelion Sayang ku, hanguskan para penyelundup ini..”  Sambil mengusap kepala bunga itu.

“BRUSHHHH!!!”

Semburan api membakar Gogon perang itu. Tentu saja Gogon itu jatuh ke bawah dan hancur.

Hangeng dan Heechul Menghindar dari Semburan api itu.

“Segel #8 Ice Snow Cannon!!” Hangeng membalas dengan meriam bola Salju yang berada di depan mereka. “ Tembak!!  Hangeng memerintah cannon itu untuk menembak.

“DUARR! !”

“Percuma .. Dandelion tak akan mati karena serangan lemah seperti itu .. ” Aria Links terseyum licik.

Heechul berlari ke arah pintu, tetapi di halangi oleh Dandelion Aria Links

“Tembakk!! ”

Bola meriam menghancurkan akar bunga yang menghalangi Heechul, Heechul langsung kembali berlari mengejar mereka.

“Hmmm.. walaupun kau menghancurkan akar bungaku, ini akan berubah kembali ke keadaan semula. Satu lari yang satu tetap bertahan ..  kau akan melawanku?  Ini akan menjadi pertarungan yang cepat.” Ucap Aria dengan senyum sinis.

“Ya aku jamin itu…” Hangeng menjawab perkataan Aria dengan tersenyum penuh misteri.

==IKINOMOGAKARI==

“DRAPP!!”

“DRAP!!”

“DRAPP!!!”

Sungmin, Mrs. Janet dan Kyuhyun berlari menyusuri sekolah. Mereka menuju pintu Gerbang Sekolah yang ada di depan Sekolah.

Tanpa disadari Kyuhyun, Mrs. Janet dan Mrs. Adelia yang tiba-tiba saja sudah bergabung bersama mereka, Sungmin masih kalut dan gelisah dengan hal tadi.

“ Nona Adel, bisa kau beritahu aku siapa yang berniat membunuhku tadi?” Sungmin bertanya sambil terus berlari.

“ …… nanti kau akan kuberitahu masalah ini.” Sahut Mrs. Adelia pada akhirnya.

***

“PERINGATAN Siaga 1 sudah mencapai sekolah kita!! Para murid diharapkan keluar dari gedung sekolah dan pergi ke pos Pengamanan yang ada di gerbang.. !! Kuulangi ini hal darurat tolong jangan tergesa-gesa ketika keluar dari pintu Sekolah!!”

“Adelia …“ Mrs. Janet bergumam di dalam pikirannya.

“Disitu!”Mrs. Janet menunjuk di ruangan nya. Ruangan itu tepat untuk bersembunyi.

“Brakkk!!!”

Mereka bertiga masuk dan mengunci pintu ruangan Mrs. Janet. Kyuhyun dan Sungmin mengambil nafas, sementara Mrs. Janet mengambil barang bawaannya.

“Sungmin, Kyuhyun ini senjata kalian. Pergunakanlah sebaik-baiknya. Walaupun disini kalian belum mempelajari Segel., aku tahu kalian akan bisa di kemudian hari.” Titah Mrs. Janet pada Kyuhyun dan Sungmin.

“Tapi, Mrs. Janet…” Kyuhyun memotong pembicaraan.

“Tidak ada tapi-tapian. Ini keadaan yang paling genting. Kau adalah laki-laki yang ditakdirkan untuk melindungi Sungmin. Jadi kutitipkan Sungmin kepadamu… ” Jelas Mrs. Janet

Sungmin terdiam.. tiba-tiba ia mulai berbicara.

“Sebenarnya siapa dia Mrs. Janet? Tiba-tiba datang dan ingin membunuhku…” Sungmin berbicara dengan penuh rasa penasaran di dalam hatinya.

“Aku mengerti keadaanmu yang ingatannya dihapus oleh para petinggi, tapi mau tidak mau . kau harus menerima kenyataan ini..” Mrs. Janet berkata dengan mimic wajah yang serius.

“Maksudmu?” Sungmin makin bingung.

“Dia adalah kakak kandung kembarmu.. yang bernama Heechul Minamoto”

“A.. pa ?” Sungmin sangat terkejut dengan perkataan Mrs. Janet yang  Terlalu mencengangkan.

“Aku akan menceritakan lebih lanjut bagaimana dia ingin membunuhmu. Tapi, melihat keadaan seperti ini aku akan menahan dia dalam sekejap. Kalian harus lari ketika kesempatan itu terbuka…”

“Aku tidak akan lari!” Sungmin sedikit berteriak pada Mrs. Janet.

“Jangan membangkang apa perkataanku! Kau ini hanya seseorang yang akan tewas jika melawannya! ingat kau masih belum mempelajari apapun tentang hal–hal pertarungan!!” Mrs. Janet membalas bentakan Sungmin.

“Mrs. Janet benar Sungmin, kita harus lari dari sini. Kita serahkan semuanya ke Mrs. Janet..” Kyuhyun mengenggam tangan Sungmin untuk membujuk Sungmin.

“Cih!!” Sungmin sedikit mendengus. “Baiklah!” Namun pada akhirnya Sungmin menuruti perkataan Mrs. Janet, mereka bertiga berbisik untuk rencana yang nanti akan dilakukan di depan Heechul.

“Kalian mengerti?” Tanya Mrs. Janet.

Sungmin dan Kyuhyun menganggukkan kepala mereka , tanda mereka mengerti rencana Dari Mrs. Janet

“Setelah ini kalian cepat Ccari Kibum-sshi dan pergi dari sini, aku mendapat firasat buruk tentangnya.”

“Ne!!” Sahut mereka berdua.

==IKINOMOGAKARI==

-Tangga Sekolah-

“Sial!! Kenapa bisa jadi begini?” Kibum mendengus kesal sambil terus menuruni anak tangga.

“DRAPP!!”

“DRAP!!”

“DRAPP!!!”

“Tadi tiba- tiba kulihat sebuah kabut putih menyeruak keluar, mereka pasti lari kabur dari entah siapa itu. ” Duga Kibum dalam hatinya.

“Tapi… sebelum aku kesana aku harus menyiapkan dulu peluruku…” Lanjut Kibum lagi.

Kibum mengambil empat selongsong peluru dan masing-masing memasukkannya ke dalam pistol kembar. Lalu masih sambil berlari ia menyarungkannya ke belakang jas sekolahnya..

Ia berlari menuju kelas nona Aria  tapi… sesampainya disana…

Sesosok Bunga Dandelion dengan indahnya berada di dalam Kristal es raksasa, di dalamnya terdapat seorang wanita. Yang sadisnya terbelah menjadi dua secara horizontal dengan darah yang melayang-layang yang tak dipungkiri menjadi es juga

!!!”

“Apa ini…”

Suasana kelas juga berubah menjadi hamparan salju dengan es yang tergantung di atasnya..

Di depan kristal es itu hanya ada tumpukan salju, Gogon yang tadi menghilang dan murid-murid yang lain menjadi patung es yang bermacam-macam.

==IKINOMOGAKARI==

“Kalian bersembunyilah disana!!” Perintah Mrs. Janet kepada Sungmin dan Kyuhyun.

Dalam hati Mrs. Janet. Ia merasa tak karuan dan  bingung dari  penyerangan tadi.

“Sial!!! Kenapa harus sekarang…”

==IKINOMOGAKARI==

“KRIIIIIINGGGG!!!!”

“KRIIIINNNGGGG !!!!!!!”

Terdengar suara bel yang memekakkan telinga. Bel itu menunjukkan bahwa keadaan perang siaga 1 di Lacrimost. Walaupun sang penyerang Lacrimost hanya berada di E.L.F School. Para pasukan bantuan menuju E.L.F untuk mengevakuasi, semua pasukan dikerahkan menju E.L.F School.  Di langit, Gogon berterbangan. Pasukan berkuda mulai mendobrak masuk E.L.F

Heechul berlari di tengah koridor sekolah. dengan tenang, ia mencari ke seluruh kelas dan ruangan yang ada di tempat itu tapi tiba-tiba….

“BRAKKK!!!!”

Sebuah pintu kelas ambruk dan keluar lah para murid yang panik dan berlari menyelamatkan diri mereka.  Derap langkah kaki mereka yang karuan telah membuat Heechul berhenti sejenak dari lari nya dan mulai waspada.

“Kyaaaa!!! Lariiii!!” Teriak salah satu siswi.

“Cepat lari semua!!” Sahut salah seorang siswa .

Mereka berlari kearah Heechul, “Ternyata hanya sampah….” Heechul mengambil pedangnya

“CRASSHHHH!!!!~ ”

Dari luar jendela sekolah E.L.F terlihat dipenuhi darah, didalamnya Heechul kembali menyarangkan pedangnya ke sarungnya.

Ia kembali berlari tiba –tiba ada pesan telepati dari Hangeng

“Nona Heechul, yang kau cari ada di ruang ke 3 di bangunan ke 2 sekolah.” Begitulah isi pesan dari telepati Hangeng. Heechul menaikan sudut bibirnya dingin. Terkesan tampak tersenyum jika dilihat dari jarak jauh, namun siapa sangka kalau itu merupakan seringaian tajam penuh kebencian.

“Mengerti.” Sahut Heechul singkat sembari pergi menuju tempat yang diinstruksikan oleh Hangeng.

==IKINOMOGAKARI==

Sementara itu Hangeng pergi keatap Sekolah dan membuka bukunya.

“Synchronizing…” Buku itu memunculkan peta seluruh sekolah dengan efek teknologi canggih yang dimiliki Hangeng.

“ Searching…”

“Nona Heechul, mereka ada tepat di depan ruangan yang kau tuju…” Terlihat gambar Heechul di layar kecil buku Hangeng yang bergerak kearah lurus.

“Ya.. ” Heechul mempercepat langkahnya dan bersiap mengambil pedang yang disarungkannya tadi.

Ruangan itu berpintu megah dengan plat emas di samping pintunya  yang menunjukkan itu adalah ruang guru. Ruang guru tersebut berada di akhir lorong sekolah.

“Kyaaaa!!!!” Segerombolan siswa terdengar oleh Heechul dari arah bawah tangga. Derap kaki mereka kembali membuat Heechul menoleh dan kembali berhenti.

“Cih!!!” Decak Heechul kesal.

“Gwaaaaa!!!”

Kembali terdengar teriakan yang menuju Heechul. Mereka semua dengan anehnya berlari menuju Heechul tanpa melihat ke depan. Heechul mengeluarkan pedangnya, dan kembali menebas siswa –siswa itu.

“Apakah ini hanya perasaanku saja? Ini seperti diulang–ulang…” Gumam Heechul

Dia kembali melanjutkan larinya.

“DRAPP!!”

“DRAP!!”

“DRAPP!!!”

Heechul sampai di depan pintu megah itu, perasaannya tiba-tiba tertekan oleh sesuatu. Ketika ia memegang kenop pintu itu dan memutarnya ….

“Apa?”

==IKINOMOGAKARI==

Pikiran Mrs. Janet masih berkecamuk, tiba-tiba ia mengingat dan memutar balik ‘kenangannya ‘ bersama Heechul.

*flashback*

-10 tahun lalu setelah tragedi hari ke-360 bulan ke-12 –

_Mrs. Janet‘s POV_

Hari itu bersalju deras sekali, aku pulang dari misi selama 1 minggu di Dead alley dan aku sedang menuju rumahku di Lacrimost Barat. Ditengah perjalanan aku melihat sesorang bocah kecil di atas jembatan. Dia menutupi sebagian tubuhnya dengan sehelai kain lusuh oklat yang usang.

Aku mendekatinya.

“Heyy!!  Kau tidak apa-apa?”  Aku mengusap rambutnya dan menarik kain yang menutupi tubuhnya.

Dia tetap tak bergeming. Rambut putih pendek kubelai pelan. Sepertinya aku mengenal anak ini, tapi dimana ya? Iya! Dia anak sulung dari keluarga Lee.

“Dimana ibumu?” Tanyaku dengan pelan.

“Mereka semua…” Dia mulai menjawab dengan air mata yang mulai menetes.

“Hitam, hitam…. HITAM!!! HITAM!!! KYAAAAAAA!!!!!” Dia berteriak sekencang kencangnya  menundukkan kepalanya dan memegangnya dengan kencang sambil menggeleng-geleng.

“Hey!! Tenang lah!!” Aku berusaha menenangkannya.

“PERGI!!” Dia mengambil pisau kecil dari belakangnya .

Aku berusaha mendekati dan mengambil pisaunya.  Dan berhasil tapi ia mendorongku.

“KUBILANG PERGI!!!”

Aku memeluknya dan membelai rambutnya , ia menangis sekuat-kuatnya

“Tenanglah, aku akan membawa mu kerumahku ya?”

Dia tak menjawab dan mulai tenang.

Satu yang kupikirkan ada apa ini?

Sesampainya di rumahku, ia tertidur di tempat tidurku, kulihat badannya penuh luka yang menghitam dan masih mengeluarkan auranya. Aku mencoba mengobatinya tapi, tanganku malah terkelupas kulitnya dan berdarah. Sepertinya luka ini akan kuteliti di sekolah besok.

-Keesokan harinya…-

Aku berjalan menuju ke ruanganku. Sesampainya disana semua guru memasang muka tegang. Suasana di tempat itu begitu sunyi.

“Kau datang, Mrs. Janet..”  Mrs. Adelia menyambutku dengan ekspresi biasa.

Kami semua mengelilingi Mrs. Adelia yang menjabat kepala sekolah waktu itu.

“Apa kau melihat anak ini?” Mrs. Adelia menyodorkan foto 2 orang bocah kecil yang sangat aku tahu. Heechul dan Sungmin.

“ memang ada apa dengannya ? “ jawabku penasaran

“Kau tak tahu ya? Insiden ini memakan seluruh warga Lacrimost pusat…”  Aria mulai berbicara.

“Benar, awalnya insiden ini berasal dari rumah keluarga Lee ada sebuah cahaya aneh yang mengelilinginya, sekarang , para Penyelidik sedang menuju kesana..” Jelas Aria.

“Insiden apa?”

“Kamipun tak tahu Mrs. Janet, seketika itu juga waktu seakan-akan berhenti.” Mrs. Adelia menjawab sambil menghela nafas.

“Lalu apa hubungannya dengan kedua anak ini?” Tanyaku masih penasaran.

“Kami akan meminta keterangan… kepada mereka…”

“Baiklah terserah kalian saja…” Aku keluar menuju pintu dan kembali ke ruanganku.

Setelah itu, Heechul dimintai keterangan oleh para interrogator penyelidikan, aku menemaninya di ruangan itu, anehnya Heechul tak berkata apa-apa. Ia malah menatap sang interogator itu dengan tatapan benci. Ber menit-menit bahkan berjam-jam Heechul tak angkat bicara. Ia masih tetap diam. Diam membisu.

Aku melihatnya tatapan nya begitu kosong tanpa harapan.

“Ctrek!!”

Pintu ruangan tiu terbuka Mrs. Adelia datang dan memberikan secarik kertas padaku.

“Sudah malam, lebih baik dia pulang, dia tak akan dimintai keterangan. Atasan memberitahu dia hanyalah bocah kecil yang tak berdaya. Jadi mereka memutuskan untuk menjadikannya saksi utama yang dilindungi” Jelas Mrs. Adelia.

“Mulai hari ini dia adalah murid E.L.F maka dari itu kau ditugaskan bertanggung jawab menjaganya…”

==IKIMONOGAKARI_Chapter5==

_To Be Continued_