Read it and Enjoy it ~

SUPER JUNIOR COUPLE’s Fanfiction / Genderswitch / Romance / Friendship / Your Man Part 6

cover your man 6

Tittle       : Your Man

Part         : 6 of ?

Cast        : Super Junior couple

Author     : LidyaNatalia

Genre      : Romance, Friendship

Length     : Chaptered

Rate         : Teen

Warning    : Some typos, Bored story, Don’t Like Don’t Read!!

A/N : Moga ga lupa dan bosen sama ceritanya ya 🙂 Oh iya this is part special for Yewook and Kangteuk.

Happy Read ^^

Lets check it out …

***

-HanChul-

story before ..

‘RSJ SEOUL’

“Rumah Sakit …” ucap Hangeng heran kemudian menoleh ke arah Heechul.

Dan Heechul hanya membalasnya dengan senyuman lembut.

“Ayo Han!” Ajak Heechul sembari merangkul lengan Hangeng untuk masuk kedalam.

Setelah sampai didalam , Heechul tidak langsung menuju ke sebuah ruangan manapun, melainkan ke sebuah taman di rumah sakit tersebut.

Dari jauh kemudian mereka memandangi seorang gadis yang tengah duduk dikursi roda ditemani seorang pria tinggi bertubuh tegap. Dan dengan telaten , pria itu menyuapi sang gadis tersebut makan dengan pandangan kedepan yang kosong.

Hangeng menolehkan pandangannya ke arah Heechul, “Kau mengenal mereka?” tanya Hangeng kemudian.

“Ne. Mereka adalah Ahjussi Zhoumi dan nona Henry..” sahut Heechul menjawab pertanyaan Hangeng. “Kau tahu , Han. Menurutku kisah cinta yang paling nyata yang paling bisa kulihat adalah kisah cinta mereka..” Sambungnya sembari menoleh ke arah Hangeng.

Hangeng memandang Heechul heran.

Heechul menampar pelan pipi Hangeng tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun, “Jangan pandangi aku seperti itu..” rengeknya. “Kau mau tetap disini atau ikut aku kesana?” Tanya Heechul.

“Ehm, aku mau disini saja.” Jawab  Hangeng.

“Yasudah, kalau begitu tunggu aku disini ya , aku tak akan lama.” Ujar Heechul.

“Ne” sahut Hangeng.

Hangeng memandangi punggung Heechul yang beranjak menjauh dari tempatnya. Dia bingung akan tujuan dan maksud Heechul membawanya kesini. Menunjukan sepasang kekasih? Untuk apa? Apakah ini tanda bahwa Heechul ingin segera dia untuk menyatakannya rasa sukanya , ah bukan suka tapi cinta.

“Tidak, tidak. Itu tidak mungkin!”

***

“Apa maksudmu membawaku kemari , Chullie ?” Tanya Hangeng sekembalinya Heechul.

Heechul tak langsung menjawab pertanyaan Hangeng. Diselanya nafas panjang dengan pandangan lurus kedepan. Kemudian menoleh ke arah Hangeng.

“Mereka itu keluargaku.” Ucap Heechul kemudian.

“Lalu?” Sahut Hangeng.

“Kau sudah tahu keadaan keluargaku kan sekarang? Aku harap kau bisa memikirkan lagi niatmu untuk mendekatiku, Han.” Ucap Heechul lirih. Sebenarnya dia tak mau mengatakan hal ini kepada Hangeng. Namun Hangeng memang harus tahu. Heechul tak ingin Hangeng tahu belakangan dan merasa malu kemudian.

Hangeng malah tersenyum mendengar ucapan Heechul. “Apa menurutmu perasaanku bisa luntur hanya karena itu?” Tanya Hangeng pada Heechul yang sedang menundukan kepalanya dalam.

“Aku..hanya…”

Hangeng menggenggam kedua tangan Heechul , “Hanya apa? Apa kau tidak menyukaiku?” Tanya Hangeng kemudian.

Heechul menatap Hangeng , “Bukan. Bukan karena itu!” Heechul buru-buru memberi penjelasan. “Aku hanya tidak mau kau malu. Kau adalah anak dari keluarga terpandang. Sedangkan aku? Hanya anak penjual pastel, yang mempunyai keluarga yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa.” Jelas Heechul sembari tertunduk lagi.

“Aku tidak pantas untukmu. Apa kata kolega keluargamu nanti ketika mengetahui kau mempunyai hubungan denganku. Bahkan untuk bermimpi bersamamu saja, aku takut, Han.” Lanjut Heechul.

Hangeng menatap Heechul sendu. Tak disangkanya ternyata alasan Heechul menolak perasaannya selama ini adalah karena itu. Karena dia adalah anak dari orang terpandang disana.

“Hey.” Seru Hangeng pelan sembari mengangkat wajah Heechul yang sedari tadi ditundukkannya. “Tenang saja , Chullie, orang tuaku sudah tahu siapa dirimu sebenarnya , bahkan mereka malah ingin aku membawamu kehadapan mereka.” ucap Hangeng pada Heechul.

Kontan Heechul terkejut tak percaya.

“Iya. Kau tahu? Aku selalu menceritakan tentangmu sebelumnya.” Tambah Hangeng.

Mata Heechul perlahan menjadi berkaca-kaca. “Jangan bercanda!” Seru Heechul.

“Aku tidak bercanda, Chullie..” Ucap Hangeng sembari memegang kedua pipi Heechul dengan lembut.

Heechul menatap dalam mata Hangeng mencoba mencari kebohongan disana yang sama sekali tidak dia temukan.

“Jadi kau mau kan?” Tanya Hangeng

“Mau apa?” Tanya Heechul tak mengerti dengan pertanyaan Hangeng.

“Mau menjadi orang yang berada disampingku.” Lugas Hangeng kemudian.

“Aku..”

***

Angin berembus lembut menyapu kulit wajah dua sejoli yang tengah menikmati keindahan dan ketenangan disebuah taman rumah sakit dalam diam.

Perlahan sang wanita langsung membuka matanya. Dengan suara agak tersendat dia mencoba berbicara walaupun sedikit terbata. “M-mi …m-mi ge..”

Orang yang dipanggil namanya sontak ikut membuka mata dan sejurus kemudian langsung menoleh ke arah sumber suara. “Ne…?” Sahutnya lembut. “Waeyo , Mochi-ah?” Tanyanya sambil mengusap puncak kepala orang yang dia panggil Mochi tersebut, masih dengan lembut.

“Bi-bi..sa k-ki..t-ta ja-lan…ja-lan..” Tanyanya dengan susah payah.

Zhoumi tersenyum lembut dan sejurus kemudian langsung beranjak dari duduknya. Tangannya langsung saja mengambil alih pegangan kursi roda tempat Mochi nya duduk. “Tentu saja.. kemanapun kau mau…” Ucapnya seraya mulai mendorong dengan perlahan kursi roda yang ditempati Mochinya itu.

Mereka terus berjalan dalam diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Zhoumi , apalagi sang Mochi. Dia lebih memilih diam , karena memang sulit baginya untuk berbicara. Terlebih dia tidak tahu apa yang harus jadi bahan pembicaraannya.

Beginilah setiap harinya. Meski selalu bersua , tak jarang suasana diam dan keheningan melingkupi mereka.

Setelah beberapa menit terus berkeliling , Zhoumi kembali memutuskan untuk menghentikan langkah mereka. Tepat dibawah pohon rindang besar. Tidak jauh berbeda suasananya dengan tempat pemberhentian mereka sebelumnya , hanya saja disini benar-benar terasa sangat tenang dan nyaman , terlebih disini tidak banyak orang. Tempatnya tepat dibelakang rumah sakit tersebut.

Zhoumi beranjak dari belakang kursi roda menuju kesisi kiri Mochi. Dielusnya puncak kepala orang yang sangat dia cintai tersebut. “Bagaimana? Indah kan tempatnya?” Tanya Zhoumi sembari menatap Mochi lembut.

Dan Mochi aka Henry tersebut hanya mengangguk sebagai jawaban.

Setelah pembicaraan itu , tidak ada lagi pembicaraan lainnya. Hening kembali. Sungguh silent couple ini hanya benar-benar berbicara seperlunya. Membuat orang lewat yang terkadang melihatnya mengerutkan kening.

Biasanya keadaan seperti itu akan bertahan sampai Zhoumi pulang , karena jam besuk sudah habis. Namun kali ini Zhoumi tidak ingin seperti itu. Dia kemari karena ingin mengutarakan sesuatu. Sesuatu yang menurutnya sudah tepat dikatakan apabila mengutarakannya sekarang.

Ini sudah 5 tahun berlalu bukan?

“Mochi-ah…” Panggil Zhoumi memecah keheningan. Henry yang tengah memandang lurus kedepan sontak menoleh kearah Zhoumi dengan pandangan bertanya.

“Aku telah memikirkan hal ini lama….” Zhoumi memberikan penjedaan pada kalimatnya membuat Henry penasaran hingga mengerutkan keningnya.

“Aku ingin mengajakmu tinggal dikediamanku. Kau mau kan?” Ucap Zhoumi membuat Henry terlonjak kaget. Henry mengalihkan pandangannya kedepan , hatinya tiba-tiba berdegup kembali. Awal dari keadaannya sekarang ini adalah ajakan yang sama dari orang yang berbeda.

“A-a-ak-ku… a…ak-ku…” Henry berusaha menjawab pertanyaan Zhoumi dengan gugup sembari menarik – narik ujung baju yang menandakan dia pasien dirumah sakit tersebut.

Zhoumi langsung menggenggam tangan tersebut untuk menenangkan Henry. Selalu seperti ini. Batinnya berucap.

“Tidak usah dipaksakan kalau memang kau tidak bisa.” Ucap Zhoumi lagi membuat Henry menghentikkan usahanya untuk menjawab ajakan Zhoumi.

Zhoumi beranjak dari keadaan jongkoknya dan beralih kebelakang kursi roda Henry. “Udara disini semakin bertambah dingin , dan itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kita kembali ke dalam ya?” Ucap Zhoumi dan Henry hanya mengangguk pasrah.

Dia jadi merasa tidak enak dengan Zhoumi. Bagaimanapun pasti Zhoumi marah. Begitu pikir Henry dalam hatinya.

Zhoumi ternyata benar-benar membawa Henry kembali masuk kedalam ruangannya. Dan setelahnya dia langsung beralasan ada perlu dan pergi. Padahal biasanya dia baru akan pulang setelah suster memintanya , karena jam besuk sudah habis.

Henry menghela nafas panjang-panjang. Bukan maksudnya untuk menolak ataupun meragukan kesungguhan Zhoumi. Hanya saja dia masih terlalu takut , dia masih menyimpan trauma mendalam , meskipun kejadian itu sudah berlangsung 5 tahun yang lalu.

Bagaimana mungkin dia akan lupa dengan peristiwa yang hampir merenggut kehormatannya sebagai wanita? Kekasihnya pada waktu itu mengajaknya tinggal bersama dan secara tak terduga hendak melakukan pelecehan terhadap dirinya pada malam harinya. Dan ketika dia terus memberontak , kejadian yang tak diinginkan terjadi. Kediaman kekasihnya waktu itu mengalami musibah kebakaran sesaat setelah dia berhasil melarikan diri dari pelecahan yang hampir diterimanya. Dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kediaman mantan kekasihnya tersebut meledakkan dentuman suara yang seperti berasal dari tabung gas didalam rumah tersebut.

Dia melihat kejadian itu dari luar , dengan baju compang camping karena tercabik oleh tangan kasar kekasihnya yang memaksanya untuk melakukan hubungan yang menurutnya hanya bisa dilakukan setelah mereka menikah.

Dan itu cukup menyakitkan hatinya.

Bahkan waktu 5 tahun pun masih belum cukup untuk membuatnya lupa akan kejadian menyakitkan yang terjadi padanya 2 kali lipat tersebut.

***

“Annyeong!!” Seru Leeteuk sembari membuka pintu rumahnya.

“Bummie….” Panggil Leeteuk ketika melihat dia tertidur dimeja diruang santai mereka dengan banyak buku-buku dan kertas-kertas disekitarnya. Ah mungkin dia terlalu lelah mengerjakan tugas sambil menunggu kepulanganku sampai tertidur seperti ini. Begitu pikir Leeteuk. Lagipula ini sudah hampir jam 10.30 malam.

Leeteuk merendahkan tubuhnya agar tangannya dapat meraih wajah Kibum dan mengusapnya sayang. Dia sangat bersyukur bahwa anaknya benar-benar bersekolah dan tidak menyia-nyiakannya. Setidaknya kerja kerasnya untuk Kibum juga tidak sia-sia belaka.

Sejurus kemudian Leeteuk berinisiatif untuk merapikan buku-buku yang berserakan.

“Umma…?” Lenguh Kibum ketika matanya mendapati bayangan tidak jelas seseorang yang tengah berada didepannya.

Leeteuk menoleh. “Ah , kau terbangun Bummi-ah?” Kata Leeteuk sembari tetap membereskan barang-barang Kibum.

Kibum mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya , dia lihat jam tangan dipergelangan tangan kirinya. “Kenapa umma baru pulang? Apa ada lembur lagi dikantor umma?” Tanya Kibum.

Leeteuk menggeleng. “Aniya , tadi didekat kantor umma , hujan turun dengan sangat deras bahkan disertai petir , apa disini tidak hujan , Bummie-ah?” Tanya Leeteuk balik pada Kibum.

“Tadi sih sempat gerimis kecil , tapi aku tidak tahu kalau sampai deras dan ada petir , sambil mengerjakan tugas aku mendengarkan musik dengan headset , umma..” Jawab Kibum yang sekarang juga membantu Ummanya membereskan buku-bukunya.

“Ah begitu. Kau belajar setiap malam seperti ini , apa tugasmu benar-benar banyak , bummie-ah?” Tanya Leeteuk.

Kibum sedikit terlonjak dengan pertanyaan Ummanya. Namun buru-buru dia anggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ummanya.

“Mianhae umma….” Batin Kibum dalam hati. Menyesal karena telah berbohong pada Ummanya. Dia memang banyak tugas dan peer , tapi tidak sampai setiap hari seperti ini. Dia selalu mengerjakan tugas setiap hari , karena beban tugas dan peer yang dikerjakan 2 kali lipat dari yang diberikan gurunya. Tentu kalian sudah tahu kenapa bukan?

Kibum juga turut mengerjakan tugas Siwon yang berbeda kelas dengannya. Apabila sedang beruntung , tugas ataupun peer mereka akan sama , bila sedang tidak beruntung , Kibum harus ekstra bekerja untuk mengedit ataupun membuat ulang tugas yang berbeda untuk dirinya dan Siwon. Dan sayangnya dia sering tidak beruntung.

Leeteuk meletakkan tumpukkan barang-barang Kibum diatas meja , dan setelahnya kembali menghampiri Kibum dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. “Jaga kesehatanmu ya bummie-ah , kalau lelah berhenti saja sejenak baru lanjutkan mengerjakan lagi setelah lelahmu berkurang. Bagaimanapun juga meski nilai bagus itu penting , lebih penting lagi kesehatanmu. Arra?” Ujar Leeteuk menasehati anaknya.

Kibum mengangguk sembari tersenyum , dia sungguh sangat beruntung memiliki orangtua yang tidak terlalu menuntut kepadanya. Meski hanya seorang ibu.

“Yasudah sekarang lebih baik kau bawa-bawa barangmu ini kekamar dan cepatlah tidur.”

“Ne , umma…”

***

TBC

Advertisements

6 responses

  1. jadi Leeteuk ibu Kibum… ga punya ayah? wah ntar klo Leeteuk ma Kangin jadian Kibum ma Ryeowook bisa bersaudara donk ya

    10 March 2013 at 6:23 PM

  2. akhirnya ini chap keluar juga..eon EunHae nya ko jarang keluar ya…??? chap selanjutnya eunhae ya eon..*kedip mata*
    ceritanya makin bagus walaupun udah agak sedikit lupa… next part jangan lama-lama ya eon..he… gomaawo..

    11 July 2013 at 6:56 PM

  3. kiki amalia azhari

    huaaaaaaaaa >_< kurang panjang hehehe
    aku suka ceritanya, semuanya saling berkesinambungan jadi ga terlalu ribet l, kesian si Mochi semoga Mochi bisa berubah pikiran deh.
    oiya jelasin pertemuan antara Zhoumy ama Mochinya dong chingu biar tmbh jelas kkk~
    buruan update chap selanjutnya ne 🙂

    18 January 2014 at 5:06 PM

  4. kyumi wijayanti

    kyumin couplenya mana? kok ga da c?? tapi tetep seru meskipun ga da kyumin couple..

    14 April 2014 at 6:38 PM

  5. Mita

    Ternyata kibum anak’a leeteuk
    couple’a sedikit disini iya,tapi tetep seru
    makasi ffnya

    8 June 2014 at 2:41 PM

  6. kiki amalia azhari

    ini baru bacaaaaaaa><
    padahal udh baca 1-5 udh review belom yak??
    pokonya suka ama ini fanfict sukaaasaa bgt

    4 August 2014 at 11:36 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s