Read it and Enjoy it ~

White Christmas

white christmaas_副本

Tittle : White Christmas

Cast : Super Junior

Author : LidyaNatalia

Genre : Friendship

Length : Oneshoot

Rate : Teen

 

***

 

Hey , perkenalkan aku adalah seorang rusa pengendara kencana Santa. Namaku ELF. Kalian tahu hari ini tanggal berapa? Yap, tepat sekali, hari ini tanggal 25 Desember. Dan kalian tentu tahu bukan , ada perayaan besar apa yang tepat pada tanggal ini? Natal!!

 

Well, sebenarnya malam ini aku sudah harus mulai berkeliling dengan Santa untuk memberikan hadiah-hadiah untuk anak-anak baik diseluruh penjuru dunia. Tapi sebelum itu, aku mau mengajak kalian ketempat Santa terlebih dahulu. Santa akan bercerita tentang satu anak yang mendapatkan Natal spesial tahun lalu.

 

Hal itu sudah menjadi rutinitas kami semua , sebelum bertugas. Santa akan selalu menceritakan alasan dan kisah tentang anak yang mendapatkan hadiah Natal Spesial.

 

Dan aku sangat tertarik dengan cerita anak yang terpilih Natal tahun lalu. Setahuku , yang akan mendapatkan Natal spesial itu adalah anak-anak baik. Tapi tahun lalu. Justru seorang pencuri kecil yang mendapatkannya.

 

Hey , Santa sudah mulai bercerita! Well , daripada banyak bicara dan menganggu yang lain lebih baik kita dengarkan kisah anak tersebut.

 

***

 

Seorang anak kecil bertudung coklat kayu berlari kencang menyusuri lorong-lorong gedung tinggi di ujung jalan Notavel 15 dengan tergesa. Sambil berlari dia  terus memegangi benda yang sedari tadi coba dipertahankannya dari kejaran orang-orang dewasa bertubuh besar.

 

“Hampir dekat.” Desahnya ketika dia melihat kumpulan kardus yang sudah lama tersulap menjadi sebuah hunian kecil. Dilihatnya lagi kebelakang. “Mereka tidak mengejarku lagi?” Serunya seraya kemudian menggantikan larinya dengan berjalan.

 

“Sudah aman!” Serunya sekali lagi.

 

Anak kecil tersebut pun tersenyum sembari berjalan lurus dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya yang ternyata adalah sebuah dompet. Dibukanya dompet tersebut dengan cepat.

 

“Wow. Hari ini aku akan dapat banyak.” Serunya ketika melihat apa yang jadi tujuannya. Dan setelah itu langsung melanjutkan kembali langkah cerianya menuju tempat yang ia sebut rumah yang tinggal beberapa meter lagi.

 

***

 

“Aku pulang!” serunya ketika sampai dirumah kardus tersebut.

 

“Minnie, hari ini kau dapat berapa?” Tanya si kecil Donghae ketika Minnie baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk.

 

Sungmin merogoh kantung jubahnya, kemudian mengeluarkan isinya dan ditunjukkan didepan Donghae, “Aku belum dapat. Tapi lihat ini, banyak kan?” Katanya seraya melangkah masuk meninggalkan Donghae didepan pintu.

 

“Wah, banyak sekali Minnie, Tapi kau tidak .” Ucapan Donghae sedikit terpotong  sembari mengikuti Minnie dari belakang. Alhasil ketika Minnie mendadak berhenti, dia jadi menabraknya.

 

“Donghae..” Panggil Minnie.

 

“Kemana Teuki?” Tanyanya setelah menyadari orang yang ingin dia temui pertama kali ketika sampai dirumah tidak ada.

 

“Ah, Teuki tadi pergi ke Toko Paman Sam untuk membeli makan malam kita.”

 

“Sendiri?”

 

“Tidak, dia berdua dengan Wookie.”

 

“Ouh, begitu,, yasudah, daripada bosan menunggu Teuki pulang , bagaimana kalau kita makan ice cream Donghae? Kau sudah lama tidak makan ice cream kan?” Tawar Minnie pada Donghae yang beberapa bulan lebih muda darinya itu.

 

“Kau serius Minnie?” Tanya Donghae dengan pandangan berbinar khas anak kecil.

 

“Tentu saja aku serius. Ayo!” Minnie langsung menarik Donghae keluar setelah menutup pintu rumahnya.

 

Dia membawa Donghae ke kedai ice cream paling enak di Jalan Notavel 15. Tempat itu biasanya ramai kalau siang, terlebih saat musim panas. Namun musim dingin seperti ini pun tidak menghalangi untuk membuat kedai ice Cream milik tuan Shindong sepi.

 

“Aku pesan ice cream strawberry dengan lelehan coklat pekat diatasnya.” Ucap Minnie ketika sampai didepan kedai tersebut. “Kau sendiri , Hae?”

 

“Aku mau ice cream coklat dengan taburan kacang almond.” Sahut Donghae.

 

“Kami pesan itu , dan juga 3 buah cup ice cream vanilla.”

 

Setelah mendapat yang diinginkannya Sungmin dan Donghae bergegas kembali pulang ke hunian kardus mereka. Namun ditengah jalan Sungmin dan Donghae melihat sesuatu yang sangat menawan.

 

“Hae kau lihat itu?” Tanya Sungmin tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari sesuatu tersebut.

 

Donghae mengangguk, “Iya aku lihat. Indah.” lanjut Donghae memberikan komentar atas apa yang dia lihat.

 

“Hae!” Sungmin menoleh ke arah Donghae. “kesana dulu, yuk!” Sungmin langsung menarik tangan Donghae tanpa menunggu persetujuan darinya.

 

Mereka menghampiri sebuah pohon besar yang penuh dengan kemilau sinar lampu terang, dengan sebuah mistletoe dan bintang diatasnya. Hiasan putih dan merah mendominasi pohon tersebut. Besar. Pohon tersebut sangat besar, wajar saja kalau diletakkan ditengah – tengah taman seperti ini. Tujuannya tak lain adalah agar seluruh penduduk jalan Notavel 15 dapat melihat dan merasakan keindahan serta kebahagian yang terpancar dari pancaran sinar pohon tersebut.

 

Sungmin dan Donghae terus menatap ke arah pohon tersebut.

 

“Hae!” Seru Sungmin memanggil Donghae yang masih terkesiap dengan keindahan pohon tersebut.

 

“Ya.” Sahut Donghae seadanya.

 

“Natal tinggal berapa hari lagi memangnya?” Tanyanya pada Donghae.

 

“Sekitar 3hari lagi.” Jawab Donghae, “Memang kenapa?” Lanjutnya bertanya pada Sungmin seraya menoleh ke arahnya.

 

“Aku ingin punya pohon natal seperti ini untuk kita pada saat malam natal Hae,.” Jawab Sungmin terdengar naïf tak sekalipun melepaskan pandangannya ke arah pohon tersebut. Pandangannya tepat mengarah ke arah Mistletoe yang menggantung indah disertai bintang berkilau keemasan.

 

“Kau bercanda Minnie?” Tanya Donghae agak terkejut dengan keinginan Sungmin yang baru saja ia dengar.

 

Sungmin menoleh ke arah Donghae, “Aku serius Hae, dan aku akan berusaha mewujudkannya.” Jawabnya sembari tersenyum manis.

 

Lagi-lagi Donghae melihat senyum Sungmin yang seperti itu, itu berarti Sungmin tidak main-main akan keinginannya.

 

Sungmin kembali menatap ke arah pohon didepannya, matanya menangkap 2 buah patung burung merpati putih kecil. Dipegangnya patung tersebut, dan kemudian secara spontan dia tersenyum lagi, kali ini deretan putih giginya terlihat dengan jelas.

 

Donghae terus memandangi orang yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung tersebut. ‘Aku harap Tuhan akan mendengar keinginanmu, Minnie.’ seru Donghae dalam hati sembari memandangi Sungmin dan kemudian ikut-ikutan menatap ke arah 2 merpati yang sedang dimainkan oleh Sungmin.

 

***

 

“Aku pulang!” Seru Sungmin dan Donghae berbarengan ketika sudah sampai dirumah mereka.

 

“Bruk!!!”

 

Baru saja Sungmin melangkahkan langkah pertamanya kedalam rumah itu, dia sudah menerima sambutan sebuah kain kumal yang dilempar oleh seseorang dari arah dalam. Entah bermaksud sengaja atau tidak, kain tersebut tepat mengenai wajah SUngmin.

 

“Wookie!!” Seru sebuah suara yang tidak asing ditelinga  Sungmin dan Donghae.

 

Sungmin mengambil kain kumal dan kemudian memeganginya.

 

“Ini punya siapa?” Tanya Sungmin kemudian.

 

“Itu punyaku!!” Sahut Ryeowook sengit.

 

“Oh,” balas Sungmin kemudian menghampiri Ryeowook. “Ini Wookie. Kau pasti tadi tidak sengaja melemparnya.” Ujar Sungmin. Sementara Sungmin mendekat ke arah Ryeowook, Donghae lebih memilih menghampiri Leeteuk.

 

“Tidak!!” Seru Ryeowook sembari menangkis tangan Sungmin yang mencoba memberikan kain tersebut. “Aku memang sengaja! Kain kumal itu memang pantas menutupi mukamu yang tidak tahu malu!” Seru Ryeowook kasar.

 

“Wookie!! Dia itu lebih tua darimu. Sopan sedikit!” Seru Leeteuk.

 

“Sopan? Untuk apa? Untuk apa aku bersikap sopan pada maling ini?!” Ucap Ryeowook lagi sambil membuang muka, tak mau menatap wajah Sungmin.

 

“Kim Ryeowook!!!” Geram Leeteuk.

 

Sungmin langsung memberikan isyarat kepada Leeteuk untuk tidak memarahi adik kecil mereka. Sementara Donghae berusaha menahannya dengan memegang tangan Leeteuk.

 

“Kenapa kau marah padaku, hyung?!” Tanya Ryeowook. “Kau tahu? Setiap dia habis mencuri, selalu aku yang dikejar dan dicari oleh orang-orang yang menjadi korbannya! Selalu aku yang merasa ketakutan!” Seru Ryeowook dengan penuh emosi menatap Sungmin dan Leeteuk secara bergantian.

 

“Semua sebayaku bahkan menjauhiku karena dia!” Tunjuk Ryeowook pada Sungmin.

 

“Sungmin hanya diam melihat Ryeowook meluapkan emosinya. Tak berusaha menyangkal ataupun memberi penjelasan.

 

“Aku juga tidak bisa main bersama temanku karena dia! Orangtua mereka tidak mau anaknya bermain bersamaku. Mungkin kalau hanya karena alasan aku miskin dan seorang gelandangan itu tidak terlalu menyakitkan. Karena dari dulu aku memang sudah terbiasa dengan hinaan seperti itu. Tapi ini?  Mereka takut aku mencuri barang-barang anak mereka! Mereka takut aku mengajarkan anak mereka mencuri HYUNG!!!!” Seru Ryeowook lagi dengan tatapan lebih tajam penuh kekesalan.

 

Mata Ryeowook sedikit berlinang , namun tak sedikitpun air mata keluar dari pelupuknya. Donghae terkejut melihat sikap adiknya yang  tiba-tiba berubah seperti ini. Dia sedikit kesal mendengar kecaman Ryeowook pada Sungmin.

 

“Harusnya hyung tidak membawanya kemari. Harusnya hyung biarkan saja dia dijalanan.” Lanjut Ryeowook lagi dengan nada makin keras.

 

Sungmin dan yang lainnya diam , Leeteuk sudah menggeretakkan gigi beberapa kali melihat sikap Ryeowook yang sangat kekanakan seperti ini. Donghae memilih diam sembari menepuk pundak Sungmin. Dan Sungmin sendiri lebih memilih diam mendengarkan Ryeowook sambil menahan rasa sakit dan sedihnya. Dia juga bisa merasakan ketidaknyamanan Ryeowook ang mengalami perlakuan seperti itu.

 

Ryeowook tidak tahu apa-apa. Begitu juga Leeteuk dan Donghae. Satu hal yang diketahui Leeteuk adalah Sungmin memang mencuri , tapi mencuri dariorang jahat. Begitu Sungmin pernah bercerita. Selebihnya Leeteuk tidak mengetahui apapun.

 

“Sekarang! Kalian boleh memilih..” Ryeowook berdiri sembari memberikan jeda pada perkataannya, “Aku atau dia yang pergi dari sini?!!!” Ucapnya tegas.

 

“Wookie!”

 

Sungmin tersentak kaget, “Tidak Wookie!” Seru Sungmin selanjutnya. “Kau jangan pergi. Kau disini saja!” Katanya pada Ryeowook.

 

“Baguslah kalau tahu diri!” Sahut Ryeowook sembari membuang muka.

 

“Tapi Minnnie..” Sela Leeteuk.

 

“Tak apa hyung. Biar aku saja yang yang pergi. Mungkin memang tidak seharusnya aku kau ajak kemari. Dan memang seharusnya aku tidak menganggu kalian.” ucap Sungmin menahan sesaknya. “Aku pergi dulu..” Lanjut Sungmin.

 

Sebuah tangan langsung menahannya ketika Sungmin baru melangkahkan satu langkah.

 

“Minnie..” Lirih Donghae yang sedari tadi diam dengan mata berlinang. “Aku ikut..” lanjutnya.

 

“Tidak, Hae.” Sahut Sungmin sembari berbalik menghadap ke Donghae dan menangkap kedua wajah Donghae dengan telapak tangannya. “Besok kau sekolah kan?” Tanya Sungmin dengan senyum tulus.

 

Donghae mengangguk lemas. “Tapi aku ingin ikut denganmu, Minnie..” Ucap Donghae sambil menundukkan wajahnya dengan bulir-bulir air mata yang mulai memaksa keluar dari pelupuknya.

 

“Hae,” Panggil Sungmin. “Tolong biarkan aku pergi. Aku ingin menikmati Salju musim dingin kali ini sendiri” Ucap Sungmin.

 

“Tapi diluar dingin, Minnie.” Lirih Donghae

 

“Perasaanmu menghangatkanku Hae..” Ucap Sungmin sekali lagi membuat Donghae diam.

 

“Aku pergi dulu ya” Sahut Sungmin sembari tersenyum kearah Donghae , leeteuk dan kemudian Ryeowook yang masih tak mau memandangnya secara bergantian.

 

***

 

Silent Night

Holy Night

All is calm

All is bright

‘Round yon virgin Mother and Child

Holy infant so tender and mild

Sleep in heavenly peace

 

Sungmin berjalan ditengah kota tua sepi yang  jalanannya dipenuhi salju-salju putih yang baru saja turun.

 

Dingin. Semua orang pasti kini tengah saling menghangatkan diri bersama keluarganya didalam hunian nyaman mereka.

 

Sementara dia. Berjalan ditengah malam , membelah cetakan butiran salju yang mewarnai dinginnya malam.

 

“Appa..” Lirihnya pelan, bibirnya bergetar tatkala mengucapkan kata itu.

 

“Kau bilang apa yang kulakukan sudah benar.” Lanjutnya pada diri sendiri. Seakan-akan dia sedang berbicara dengan orang lain.

 

“Kau bilang , kau akan tetap menjagaku dari sana.” Sungmin menatap keatas langit. Tak ada bintang sedikitpun.

 

Langit mendung mengiringi perjalanan tanpa arahnya malam itu.

 

“Appa..” Lirihnya sekali lagi. “Bawa aku bersamamu appa , aku tak mau sendiri. Aku tak mau sepi seperti ini.” Sungmin terus melanjutkan keluh kesahnya , hingga tanpa sadar dia sampai disebuah tempat , dimana tadi dia dan Donghae melihat sesuatu yang menyita perhatiannya.

 

Sungmin diam tepat didepan pohon natal tersebut. Kemudian memandang kemegahannya dari bawah sampai keatas. Nyala kerlip lampu dibagian paling atas sedikit menyilaukan mata sembabnya.

 

“Padahal aku ingin sekali merayakan natal dengan keluarga baruku, appa. Aku ingin mempunyai pohon natal seperti ini untuk natal  besok.” Ucap Sungmin kemudian tertunduk.

 

Sungmin terduduk didepan pohon tersebut.

 

“Hiks.” Dadanya naik turun menahan sesak yang dari tadi tertahan.

 

“Appa!!!!!!”

 

***

 

Kicauan burung terdengar menggema disekitar pohon – pohon. Mengiri perjalan lesu seorang bocah laki-laki menuju sekolah musim dinginnya.

 

Dimusim dingin yang harusnya dia bisa berlibur dan berkumpul dengan keluarganya dia ganti dengan pergi kesekolah. Kesempatan tidak datang dua kali. Bisa bersekolah adalah salah satu dari sekian banyak kemurahan Tuhan yang dia dapatkan.

 

Namun , pagi ini perjalanannya terasa berat dan lama. Dia sudah sejak pagi tadi berangkat menuju sekolahnya, tetapi belum sampai juga ditempat tujuannya. Padahal biasanya, hanya dalam 15 menit dia sudah bisa sampai, tapi kali ini sudah 30 menit. Dan masih juga setengah jalan.

 

“Biasanya aku pergi bersama Minnie..” Ucapnya sedih sembari menendang batuan kecil dihadapannya.

 

“Tuk!!”

 

“Aww!!! Hey Kau!!”

 

Dia mendongakkan kepalanya, “Minnie?!!!!”

 

Sungmin tersenyum melihat Donghae yang langsung menghampiri dan memeluknya.

 

“Minnie , aku kangen!” Ucapnya sambil memeluk Sungmin erat.

 

“Ah masa ? Baru juga sehari tidak bersamaku.” Sahut Sungmin.

 

Donghae melepas pelukannya kemudian mengerucutkan bibirnya. “Kau tidak kangen padaku Minnie?” Tanyanya.

 

Sungmin mengelus puncak kepala Donghae , “Tentu saja aku kangen padamu, Hae. Makanya aku mengunjungimu kesini. Ayo berangkat!!” Seru Sungmin sembari menarik tangan Donghae.

 

Sungmin dan Donghae melanjutkan perjalanan  mereka menuju sekolah Donghae.

 

“Minnie..” panggil Donghae.

 

“Iya?”

 

“Semalam kau tidur dimana?” Tanya Donghae tiba-tiba.

 

Sungmin tersenyum kecil, kecil penuh luka. “Ehm , aku tidur didepan pohon natal impian kita^^” Ujar Sungmin senang.

 

“Pohon natal impian kita?” Tanya Donghae lagi.

 

Sungmin mengangguk.

 

“Itu kan adanya ditaman , Minnie. Diluar ruangan.” Seru Donghae tiba-tiba.

 

“Iya.” Sahut Sungmin enteng.

 

“Jadi kau tidur diluar.” Ucap Donghae dengan nada sedih sembari menatap Sungmin sendu.

 

Sungmin yang merasa tidak enak karena membuat Donghae jadi seperti itu , kemudian memegang tangan Donghae dan menggenggam tangannya erat sembari terus berjalan.

 

“Aku tidur ditemani peri – peri Natal yang dikirimkan oleh Santa , Hae.” Sahut Sungmin berbohong.

 

“Benarkah?” Tanya Donghae. “Bagaimana bisa?” Lanjutnya.

 

“Aku kan sudah 15tahun , lagipula aku itu anak baik , jadi Santa mengirimkanku peri – peri natalnya untuk menemaniku tidur didepan pohon impian kita itu.” Ucap Sungmin menambahi.

 

“Yasudah kalau begitu aku ikut denganmu ya , Minnie. Aku juga ingin bertemu dengan peri – peri Santa itu.” Ucap Donghae polos.

 

Sungmin langsung merutuki apa yang dia katakan pada Donghae tadi.

 

“Ehm , tapi Hae kau tidak bisa.” Sahut Sungmin

 

“Kenapa?” Tanya Donghae tak terima sembari menghentikan langkahnya.

 

“K-kau masih 13 tahun, Hae.” Ucap Sungmin sembari mengusap puncak kepala Donghae. Ya meski mengetahui umurnya lebih muda daripada Sungmin , Donghae memutuskan untuk memanggil Sungmin tanpa embel-embel hyung dari kali pertama.

 

“Bohong!!” Seru Donghae. “Mana mungkin seperti itu, jangan selalu membohongiku Minnie!!” Rajuk Donghae sembari menghentakkan kakinya ketanah.

 

“Iya , iya. Maaf. Aku memang berbohong. Tapi kau memang tidak bisa ikut bersamaku, hae.” Ujar Sungmin lebih lembut.

 

“Tapi kenapa?” Tanya Donghae meminta penjelasan.

 

“Teuki hyung membutuhkanmu, Hae. Wookie juga. Mereka itu keluargamu. Apa kau tega meninggalkan mereka? Kau mau mereka sedih?” Tanya Sungmin.

 

Donghae terdiam dan menunduk.

 

“Mungkin saat ini kau belum bisa merasakan kesedihan kalau kau kehilangan kerluargamu, tapi kalau nanti itu terjadi , penyesalan akan terus menghantuimu , Hae. Kau tidak mau kan?”

 

“Tapi kau kan juga keluargaku.!!” Seru Donghae sembari menepis bulir air mata yang jatuh dari pelupuknya.

 

Sungmin memeluk Donghae erat. Tidak dia kira, ternyata Donghae benar-benar menganggapnya seperti keluarga. “Iya aku tahu , Hae. Kau juga keluargaku.” Ucap Sungmin kemudian.

 

“Kalau begitu biarkan aku ikut bersamamu, Minnie..” Donghae masih terisak ditengah pelukan Sungmin.

 

“Maaf, hae. Kalo itu aku masih belum bisa mengajakmu untuk bersamaku. “ Ucap Sungmin seraya melepaskan pelukannya. “Suatu saat nanti aku pasti akan bersama kalian lagi. Tapi bukan sekarang.” Lanjut Sungmin dengan perasaan penuh sesak.

 

Siapa yang  tak mau bersama keluarganya? Meskipun hanya dianggap keluarga itu sudah lebih dari cukup bagi Sungmin. Sungmin tak mungkin tega memecah Leeteuk, Donghae dan Ryeowook. Sungmin memang senang bila Donghae mau bersamanya. Tapi dia bukanlah seorang egois yang mementingkan kebahagiannya sendiri.

 

Berpisah dengan keluarganya adalah hal paling menyakitkan didunia yang pernah dia rasakan. Dan dia telah mengalaminya untuk yang kedua kalinya. Dia tidak ingin orang yang disayanginya merasakan hal yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

 

Sungmin yakin , perasaan Donghae kali ini hanya perasaan sesaat yang nanti akan hilang dengan seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu dia harus  tetap mempertahankan keputusannya untuk tidak mengajak Donghae bersamanya.

 

***

 

 

Ryeowook berjalan gontai menuju suatu tempat. Hal yang mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman selama ini memang sudah pergi. Tepatnya 2hari yang lalu. Harusnya dia merasa senang bukan? Iya seharusnya.

 

Tapi yang didapatnya justru kebalikannya. Leeteuk dan Donghae terus saja mendiaminya semenjak kepergian Sungmin. Ryeowook masih ingat betul bagaimana Leeteuk langsung menatapnya dingin, sementara Donghae sama sekali tidak mau memandangnya sama sekali.

 

Bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin hidupnya lebih tentram dan lebih nyaman. Apa keinginannya itu salah?

 

Ditengah lamunannya , dari jauh Ryeowook melihat sosok yang tidak asing sedang berlari tergesa-gesa menuju sebuah tempat untuk bersembunyi.

 

“Tuhkan!” ucap Ryeowook, “Dia beraksi lagi. Untung saja dia sudah pergi dari rumah.” Ucap Ryeowook ketika melihat Sungmin kini tengah meringkuk disamping sebuah kardus berukuran besar.

 

Tak berapa lama setelah Sungmin bersembunyi , ada dua orang laki-laki paruh baya yang sepertinya adalah orang yang mengejar Sungmin. Mereka berhenti tepat didepan Ryeowook.

 

“Hey, bocah! Kau lihat anak kecil yang berlari disekitar sini.?” Tanya salah satu dari mereka.

 

Ryeowook menyunggingkan sudut bibirnya kemudian mengangguk kepada 2 laki-laki tersebut dan menunjuk ketempat persembunyian Sungmin dibalik kardus dengan ujung dagunya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

 

Kedua laki-laki tersebut  langsung ternyesum kecil pada Ryeowook kemudian melangkah dengan hati-hati menuju kardus tersebut.

 

Sementara Ryeowook langsung pergi dari tempat itu.

 

Dari jauh terdengar dengan sangat jelas suara rintihan karena dipukuli seseorang. Bukan hanya rintihannya bahkan suara pukulannya pun terdengar dari jauh. Padahal sudah sekitar 30 langkah yang dilangkahkan Ryeowook.

 

“Rasakan itu! makanya jangan jadi maling!”

 

***

 

Seorang anak kecil terus saja memegangi wajahnya yang terluka penuh memar. Sekujur tubuhnya babak belur akibat dipukuli oleh dua orang yang barang curiannya dicuri lagi oleh dirinya. Baru kali ini dia ketahuan.

 

“Mungkin ini memang hari sialku.” Ucapnya lirih sembari  menahan perih luka-lukanya.

 

“Eh , tidak-tidak. Ini bukan hari sial. Ini malam natal. Hari dimana semua orang merasakan kebahagiaan.” Ralatnya kemudian.

 

“Mungkin hanya aku dan tuan tadi yang mendapat sedikit ketidakberuntungan hari ini.” Lanjutnya sembari menyandarkan diri disebuah pohon lain dihadapan pohon natal yang sudah 3malam ini selalu menemaninya.

 

” jingle bells, jingle bells… Jingle all the way, Oh what fun it is to ride ..In a one-horse open sleigh, oh..” Dengan lirih menahan sakit  Sungmin menyenandungkan lagu itu. Lagu yang sangat tepat untuk malam ini dan besok pagi yang seharusnya dia dendangkan bersama Leeteuk , Donghae dan Ryeowook, orang-orang yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.

 

“Jingle bells…… jingle bells…” Kali ini nada dari nyanyian Sungmin berubah, lebih lirih dan terdengar mengandung kesedihan yang mendalam , temponya melambat , bulir air mata turun dari pelupuk matanya. Sudah hampir 3malam dia selalu menangis didepan pohon natal impiannya ini.

 

Menangisi kesendiriannya yang justru terjadi pada saat saat dimana seharusnya dia  bisa merasakan kehangatan akan momen Natal.

 

“Jing…le… all… the way…”

 

***

 

“Permisi!” Seru seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan lebih didepan rumah kardus kecil yang rapuh dan mudah hancur.

 

“Iya.” Sahut Sebuah suara dari dalam yang tak lain tak bukan adalah suara orang tertua yaitu Leeteuk.

 

Leeteuk membuka pintunya, dan sedikit keheranan ketika mendapati orang asing bertamu kerumah mereka.

 

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Leeteuk dengan sopan.

 

“Ehm , apa benar ini kediaman Sungmin?” Tanya Laki-laki tersebut.

 

“Maaf , anda siapa?” Tanya Leeteuk lagi.

 

“Boleh saya masuk? Diluar  terlalu dingin.” Tawar laki-laki tersebut.

 

“Silahkan masuk.” Leeteuk akhirnya mempersilahkan orang asing tersebut masuk. “Maaf rumah kami sempit.” lanjut Leeteuk kemudian setelah mempersilahkan laki-laki itu masuk dan duduk.

 

“Tidak apa. Oh iya apa Sungmin ada?” Tanyanya lagi.

 

“Memangnya kenapa Ahjussi? Apa dia mencuri barangmu?”  Celetuk Ryeowook yang juga berada diruangan  3 x 2 meter tersebut.

 

“Wookie!” Sentak Leeteuk membuat Ryeowook langsung diam dan menundukan kepalanya.

 

“Ah , bukan. Dia tidak mencuri barangku, justru sebaliknya. Dia mengembalikan dompetku yang dicuri oleh berandal beberapa hari yang lalu. Dan saya kemari mau mengucapkan terima kasih. Kemarin waktu saya ingin memberinya imbalan dia malah langsung pergi. Akhirnya saya mencari tahu tentang Sungmin  dipos polisi tempat saya kecopetan. Dan saya mendapatkan informasi mengenai alamat Sungmin disini dari polisi tersebut.” Jelas laki-laki tadi.

 

Ryeowook tersentak dan sontak mengangkat kepalanya menatap kearah laki-laki asing itu.

 

“Bukannya Sungmin itu pencuri? mana mungkin dia mengembalikan dompet anda ahjussi.” Cela Ryeowook tak percaya.

 

“Wookie, dia itu lebih tua darimu, sopan sedikit dalam menyebut namanya..” Seru Leeteuk lagi.

 

“Sudahlah hyung , kau itu selalu saja membela pencuri itu..” Sahut Ryeowook.

 

“Ehm , maaf. Tapi kalau yang kalian kamu maksud pencuri itu Sungmin yang menolongku , kau salah. Justru dia yang membantuku. Dan aku juga dengar dari beberapa polisi yang tadi kutanyai tentang Sungmin. Sungmin itu tidak pernah mencuri , justru dia yang membantu orang-orang yang kecurian untuk mendapatkan kembali barang mereka yang dicuri.” Jelas laki-laki tersebut.

 

“Jadi maksud Ahjussi  Sungmin itu mencuri dari seorang pencuri?” Tanya Leeteuk.

 

“Iya , dan kemudian mengembalikannya kepada pemiliknya lagi.” Sahut Laki-laki itu.

 

Leeteuk dan Donghae tersentak. Terlebih Ryeowook. Ternyata dia sudah salah menilai Sungmin. Bahkan tadi dia telah membuat  Sungmin dipukuli oleh dua lelaki dewasa yang ternyata adalah pencuri sebenarnya.

 

Ryeowook langsung bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangan tersebut , disusul Donghae yang mengejarnya dari belakang.

 

“Wookie, kau mau kemana?!!” Teriak Donghae dari jauh sembari mengejar Ryeowook yang larinya cepat.

 

“Mencari Sungmin hyung!!” Seru Ryeowook tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan larinya.

 

Donghae menghentikan langkahnya ketika mendengar Ryeowook berteriak seperti itu. Sebuah senyum tersungging diwajahnya.

 

“Akhirnya”

 

***

 

“Dashing … through… the snow”

 

Sungmin masih terus mendendangkan lagu itu sedari tadi, dia tidak ingin malamnya sepi. Bernyanyi merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kesepian itu. Sesekali dia rapatkan tudung berwarna coklat kayu yang setia melekat melindungi kepalanya.

 

Hawa dingin seperti mencapai puncaknya malam ini. Salju terus turun , bertaburan disekitarnya. Membuat kesepiannya lengkap sudah.

 

“In a one-horse open sleigh….” Sungmin terus melanjutkan syair jingle natal tersebut. “Through the fields we go … laughing all the way…”

 

“Bells on bob-tail ring …making spirits bright…what fun it is to ride and sing…a sleighing song tonight.”

 

Sungmin langsung menoleh kesumber suara yang melanjutkan nyanyiannya  tadi. Dan begitu terkejut ketika didapatinya Ryeowook berdiri sembari berurai air mata.”

 

“Wookie??!” Lirihnya pelan. Keheranan mengapa Ryeowook bisa ada disini.

 

Ryeowook melangkah mendekat kearah Sungmin. “Jingle bells…Jingle bells..Jingle all the way..” Lanjutnya didepan Sungmin dan selesai itu langsung memeluk  Sungmin erat.

 

“Minnie!!” Isak Ryeowook.

 

Sungmin mengelus punggung Ryeowook lembut. “Hey! kau kenapa Wookie?!!” Tanyanya kemudian.

 

“Maafkan aku hyung!!” Seru Ryeowook. “Maafkan aku!!” Ucap Ryeowook terus menerus.

 

“Iya Wookie , sudah jangan menangis lagi..” Ucap Sungmin. “Aw..” Rintih Sungmin ketika Ryeowook malah memeluknya makin erat.

 

Ryeowook melepaskan pelukannya , “Maaf , hyung. Wajahmu..” Ryeowook menyentuh  pelan wajah Sungmin.

 

Sungmin memegang tangan Ryeowook, “Tidak apa. Tadi aku hanya terlalu ceroboh sedikit.”

 

“Tidak , itu salahku!” Seru Ryeowook sembari menghentakkan kakinya sekali ketumpukan salju dibawahnya. “Kalau saja aku tidak memberi tahu mereka dimana kau bersembunyi, kau pasti  tidak akan jadi seperti ini, hyung.” Ryeowook tersungkur menyesali perbuatan bodohnya tadi.

 

“Tidak , Wookie..” Balas Sungmin, “Ini bukan kesalahanmu..” Sungmin berjongkok , mensejajarkan posisinya dengan Ryeowook.

 

“Tidak! Hyung!! Ini salahku!!”

 

“Iya! Iya ini salahmu. Sudah tak usah dipikirkan, lebih baik kita bernyanyi  lagi..” Ujar Sungmin sembari tersenyum pada Ryeowook.

 

“Kau sudah memaafkanku hyung?” tanya Ryeowook tidak yakin sembari menatap dalam mata Sungmin.

 

Sungmin mengangguk penuh. “Bukankah kita keluarga?”

 

Ryeowook tersenyum menanggapi pertanyaan Sungmin. “Ayo hyung kita bernyanyi didepan pohon natal itu!” Ajak Ryeowook.

 

“A day or two ago, I thought I’d take a ride…” Ryeowook memulai baris pertama pada bait ketiga jingle tersebut.

 

“And soon miss fanny bright…was seated by my side…” Sungmin melanjutkan lirik tersebut.

 

“Hey! Kalian melewatkan malam natal tanpa kita berdua..?” Tanya sebuah suara yang ternyata adalah Leeteuk dengan Donghae disampingnya.

 

“Hyung! Hae!” Seru Sungmin bahagia.

 

“Sungmin!”

 

“Minnie!”

 

Leeteuk dan Donghae langsung menghampiri Sungmin dan memeluknya erat. Dan Ryeowook melengkapi dibelakangnya.

 

Kini bayangan akan kesuraman malam natal terhapus sudah dari benak Sungmin. Ini merupakan kado natal terindah yang dia dapat seumur hidupnya. Meski harus merasakan kesakitan untuk merasakannya.

 

Sungmin tidak menyesal sama sekali.

 

Dia sama sekali tidak mengharapkan hadiah besar dengan bungkusan berwarna-warni dihiasi pita merah diatasnya. Tidak juga dengan banyak makanan disekitarnya. baginya bisa merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga yang dimilikinya sekarang sudah lebih dari cukup ketimbang menerima  hadiah lain.

 

Tuhan itu tidak memberikan yang terbaik untuk kita, tapi Tuhan memberikan apa yang dibutuhkan oleh kita.

 

***

 

Well, itu dia sekilas kisah tentang anak yang menerima hadiah special dari Santa.

 

Wow!! Tak kusangka! Ternyata hati anak itu mulia sekali. Pantas dia mendapatkan hadiah special dari Santa.

 

Aku sedikit terharu mendengar cerita dari Santa tadi.

 

Huh.. Jadi penasaran , kira-kira siapa ya , yang akan mendapat hadiah special natal tahun ini ?

Santa selalu mempunyai cara tersendiri dalam memberikan kado natalnya ^^

 

***

END

 

 

Advertisements

One response

  1. kyumi wijayanti

    ternya wookie tuch salah paham. tarnyata sungmin tuch mbantuin orang yang kecopetan. baik bangettttt..

    14 April 2014 at 7:47 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s