Read it and Enjoy it ~

Sistar – Exo Fanfiction | Don’t Go | Dasom– D.O | Hurt– Romance – Twoshoot | Part 2.1

dkd_副本1

Don’t Go

 

.: by Lidya Natalia:.

 

Cast : Kim Dasom , Do Kyungsoo ,

Support Cast : Lee Jongsuk , Kim Woobin , Park Luna , Choi Sulli , etc

Pair : DaD.o

Genre : Romance , Hurt/Comfort , Straight

Rating : T

Length : Two Shoot

Part: 2.1

Disclaimer : They’re belong  both to God and theyself. But the plot and the story originaly belong to  me.

Warning : Typo(s) , OOC , DLDR , Bash not allowed!!

***

 

Hangang Park. Jam 5.

 

Dasom meremas kertas yang baru saja dibacanya. Tidak seperti biasanya, kali ini Dio yang berinisiatif untuk mengajak bertemu. Biasanya Dasom akan terus mengirimi Dio pesan yang berisi ajakan untuk bertemu.

“Ada apa ini…”

Dasom terus menggenggam kertas tersebut dengan kuat. Perasaannya makin tak karuan saat ini. Laki-laki paling pintar di kelasnya tersebut sukses membuat hatinya jadi tak tenang. Bukankah harusnya Dio yang meminta maaf dan merasa bersalah? Dasom kira kertas tersebut akan berisi kalimat permintaan maaf atau paling tidak, sedikit penyesalan.

Well, Dasom tak terlalu perduli  akan hal itu saat ini sebenarnya. Dasom kembali memasukan kertas tadi ke dalam sakunya. Ditariknya nafas pelan-pelan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia tidak boleh berfikiran macam-macam saat ini.

“Dasom! Apa kau masih lama?” Tanya Sulli yang berada dibalik pintu toilet. Saat ini memang mereka sedang di toilet.

“Cklek!”

Sulli sedikit terkejut ketika tiba-tiba pintu terbuka tanpa aba-aba dari Dasom.

“Apa yang kau lakukan? Menangis?” Tanya Sulli. Well , bisa saja kan Dasom sakit hati mendengar apa yang diteriakkan oleh Luna tadi.

Dasom mengerenyitkan keningnya. “Sejak kapan aku menangis karena adu mulut dengan Luna?” Tanya Dasom sembari melangkah ke arah westefel.

“Lalu?” Tanya Sulli yang kini berada di sampingnya.

“Hanya mengecek jadwal datang bulanku. Harusnya hari ini sudah selesai.” Sahut Dasom sembari merapikan kemejanya.

Sulli mengangguk tanpa paham.

“Baiklah! Ayo kembali ke kelas!” Seru Dasom sembari menggandeng lengan Sulli.

***

Dasom melirik ke arah pergelangan tangan kirinya. Pelajaran Multimedia sudah berjalan selama 15 menit namun Dio dan Luna tak kunjung kembali ke kelas.

“Apa mereka masih bimbingan?!”

Sulli yang merasakan gelagat tidak tenang Dasom melirik ke arahnya.

“Ada apa?” Bisik Sulli dengan pelan.

Dasom yang terkejut akan pertanyaan Sulli buru-buru menggeleng. “Tidak ada.”

“TOK!TOK!TOK!”

Perhatian kelas langsung tertuju pada dua sosok yang baru saja masuk. Dio dan Luna. Setelah meminta izin pada Song Seongsaenim, keduanya dipersilahkan untuk duduk.

Pandangan Dasom dan Dio sempat bertemu ketika Dio hendak duduk di tempatnya. Dan demi apapun , Dasom sekuat hati menguatkan pikirannya agar tidak membuat bibirnya mengembang. Dan untunglah hal itu cukup berhasil.

“Jangan bohong!” Seru Sulli masih dengan suara yang rendah sembari menyenggol lengan Dasom.

“Hah? Apa?”

“Tuhkan!” Seru Sulli. “Kau itu kenapa? Apa kau punya rahasia yang tidak kuketahui? Atau… Kau punya masalah? Ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa membantu.” Lanjut Sulli.

Dasom menarik ujung bibirnya. “Well, selain dengan Luna, aku tidak punya masalah lain di sekolah ini dan soal rahasia..” Dasom menggigit bibir  bagian bawahnya.

“.. soal rahasia?” Ulang Sulli yang kini semakin penasaran dengan pernyataan Dasom selanjutnya.

“Sepertinya tidak ada…” Sahut Dasom kemudian membuat Sulli menghembuskan nafasnya karena jengah.

Melihat itu Dasom segera menarik pipi chubby Sulli hingga sang empunya memukul mukul lengan Dasom untuk menghentikannya.

“Dia tidak tersenyum tadi… ”

 

***

Semilirnya angin di sekitaran sungai Hangang memberikan suasana damai bagi Dasom. Dihirupnya oksigen yang semakin melegakan dadanya. Ini memang baru setengah lima. Dan Dasom sudah setengah jam yang lalu tiba di tempat ini.

Dia terlalu bersemangat dan penasaran dengan hal yang akan dibicarakan oleh Dio nanti. Setengah jam memang sangat terasa lama bagi Dasom saat ini, tapi mengingat hal yang dia nantikan adalah kekasih hatinya, tak terbesit sedikitpun sesal dan kesal dalam hatinya. Lagipula bukankah dia yang datang terlalu cepat? Jadi ini bukan salah Dio kan?

Dasom membuka matanya yang tadi sempat terpejam menikmati angin senja. Dia tersenyum melihat seekor anak anjing kecil yang tengah bermain – main dengan seorang balita laki-laki. Ah, dia jadi ingin cepat-cepat menikah dengan Dio bila melihat anak kecil.

“Ah nanti aku dikira menikahi seorang bocah sekolah dasar lagi…” Ucap Dasom pada dirinya sendiri. Well , dibalik kacamatanya yang membuat Dio terlihat lebih tua , ada sosok wajah bayi menggemaskan yang sangat disukai oleh Dasom. Mata bulat, bibir berbentuk hati dan pipi chubby yang sangat menyenangkan untuk ditarik oleh Dasom ketika dia sedang merasa gemas.

Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali Dio menggerutu akan hal itu, namun Dasom tetaplah Dasom. Mana mungkin dia akan berhenti ketika dia merasa sudah kecanduan.

Dasom berjalan ke arah dimana matahari masih memberikan sinarnya. Dia mencoba mengukur sudut posisi dia berdiri dengan sinar matahari yang mengenainya untuk mengetahui sudah jam berapa saat ini. Well, dia bisa saja langsung melihat pada jam kecil yang melingkar dari pergelangan tangan kirinya, but, dia melakukan ini hanya untuk membuang-buang waktu. Dia sangat jenuh saat ini.

Dasom merengut sebal , 10 menit yang lalu dia melakukan hal itu dan hasilnya masih sama dengan hasil yang baru saja dia dapat. Dengan gemas dia lihat jam tangannya.

“Kenapa waktu berjalan sangat lambat hari ini?” Keluh Dasom sembari berjalan-jalan berkeliling.

Dasom menghentikan pandangannya ketika melihat sosok Dio mulai berjalan mendekat ke arahnya. Dasom mengembangkan senyumnya melihat penampilan Dio yang menurutnya selalu membuatnya terpesona.

“Hai.” Seru Dio ketika sampai di hadapan seorang Kim Dasom. “Maaf aku terlambat.” Lanjut Dio yang kemudian.

Dasom tersenyum menanggapi permintaan maaf Dio sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya, sedikit isyarat untuk meminta Dio duduk tepat di sampingnya.

“Aku kira hanya aku yang antusias untuk bertemu denganmu…” Ujar Dasom ketika Dio mulai duduk.

“Hah?” Dio mengangkat ujung alisnya tak terlalu mengerti.

“Lihat!” Dasom mengangkat pergelangan tangannya. “Masih kurang 15 menit lagi untuk tepat jam 5.”

Dio tersenyum, “Maaf…” Ucap Dio membuat Dasom diam. Dasom mengenal Dio dengan sangat baik. Kekasihnya ini bukanlah orang yang suka menyakiti orang lain, oleh karena itu dia juga bukanlah tipe orang yang dengan begitu mudah untuk mengucapkan maaf.

“Untuk?” Dasom memutar badannya sehingga mereka saling berhadapan.

Dio memperhatikan wajah Dasom dengan seksama, raut ceria dihadapannya kini hanyalah sebuah topeng yang terpasang baginya. “Membuatmu menangis.” Ucap Dio sembari menangkupkan wajah Dasom dengan tangan kecilnya.

Dasom memegang tangan Dio di wajahnya, Dasom menundukkan wajahnya. Sungguh, dia tidak sanggup lagi untuk tidak menangis sekarang. “Tidak membelamu…” Lanjut Dio sembari menyibakkan poni sang gadis yang hampir menutupi wajahnya.

“Dan bersikap seperti pengecut.”

Dasom menggelengkan kepalanya sembari meletakkan telunjuknya dibibirnya sendiri. Terlihat jelas oleh Dio, air mata Dasom kembali mengalir. Ditariknya tubuh Dasom ke dalam dekapan tubuhnya. “Aku mencintaimu Kim Dasom.” Ucap Dio sembari mengusap puncak kepala kekasihnya tersebut.

Nado, Oppa…” Sahut Dasom di sela isak tangisnya.

“Tapi aku tidak bisa terus bersikap egois padamu..”

Dasom mengangkat kepalanya dari pelukan Dio. Dia berusaha menghapus air matanya yang membuat matanya terlihat kembali sembab.

“Aku tidak bisa membuat mata ini terus mengeluarkan mutiaranya…” Ucap Dio sembari menghapus air mata Dasom dengan kedua ibu jarinya.

“Aku tidak bisa terus menyakitimu dengan terus menyembunyikan hubungan ini..” Lanjut Dio lagi. Kali ini Dio menggenggam erat pergelangan tangan Dasom.

Dio menarik nafasnya dalam – dalam membuat Dasom menautkan kedua alisnya dengan gelisah. “Aku harus melepaskanmu…”

Mwo?” Seru Dasom terkejut.

“Ini untuk kebaikanmu, Dasom..” Ucap Dio sekali lagi sembari menggenggam kedua tangan Dasom. “Hubungan ini hanya akan terus menyakitimu… Lagipula… aku yakin kau akan dengan mudah mendapatkan pengganti diriku..”

“PLAKK!!”

“Apa yang sudah dikatakan Luna padamu, Oppa? Katakan padaku, Oppa! Apa yang dia katakan padamu?!” Seru Dasom dengan isak tangis yang semakin menjadi. “Kalau memang menurutmu ini akan terus menyakitiku kenapa kau pikir aku selama ini bertahan? Kenapa kau mengikatku selama ini hanya untuk membuangku ketika aku sudah sangat bergantung padamu?! Kenapa?”

Emosi yang sudah tertahan lama akhirnya mencuat. Dasom mengeluarkan semua keresahan hatinya yang nyatanya benar-benar terjadi saat ini.

“Aku tidak pernah menuntut apapun darimu dan begini balasanmu?” Seru Dasom lagi.

“Aku melakukan ini karena ini yang terbaik untukmu, Dasom..”

“Jangan katakan kalau yang kau lakukan adalah yang terbaik untukku kalau sikapmu saja berdampak sebaliknya untukku.” Sahut Dasom dengan air mata berurai.

Kyungsoo menatap wajah Dasom dengan sendu.

Dasom menghapus air matanya dengan tergesa ketika tak mendapati sahutan dari Kyungsoo.

“Sudahlah. Terserah kau saja. Aku mau pulang.”

“Dasom?!” Kyungsoo berusaha menarik lengan Dasom untuk menghentikan langkahnya.

“Biar kuantar…”

Dasom menepiskan pegangan Kyungsoo dengan kasar. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

“Dasom!”

***

TBC

Iya tahu kok ini ff udah lama banget dan baru dilanjut sekarang, well, sebenarnya ini udah dilanjut dari tahun 2013 juga tapi males postingnya ~ dan kenapa ga langsung end dan malah tbc? yaaa karena ini udah lama jadi pengen aja perbaiki ini ff biar bisa lebih bagus lagi, nah untuk part 2.1 ini agak pendek tapi nanti di part 2.2 dijamin panjang dan langsung selesai deh ~ ayo yang udah minta dilanjut segera komen XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s