Read it and Enjoy it ~

The Most Beautiful Moment in Life

cv2 copy

Tittle : The Most Beautiful Moment in Life

Cast : Kim Taehyung, Cheng Xiao, etc

Genre : Straight, Romance, Friendship

Rate: Teen

Length : Oneshoot

Author : LidyaNatalia

Seoul, 15 September 2013, pukul 09:45 PM

Suasana ramai menyelimuti seluruh ruangan. Gegap gempita musik yang keras memanjakan para pendengarnya yang memang datang guna melepas kepenatan yang harus diterima dalam hidup. Ada yang sedari tadi terus menggeleng-gelengkan kepalanya di bawah pengaruh minuman yang entah sudah keberapa gelas malam itu. Ada juga yang tengah berbincang-bincang sembari mengangkat gelasnya ke udara dan sesekali diaduk, menimbulkan suara dentingan gelas yang khas. Namun, ada juga yang hanya diam tertunduk, membiarkan alam bawah sadarnya di bawah kendali minuman.

“Cheng Xiao!”

“Ya?”

“Tolong bawakan minuman ini ke meja nomor 8.”

Okay!

Cheng Xiao, gadis keturunan Cina yang sudah lama tinggal di Korea Selatan, sudah 1 tahun dia bekerja paruh waktu di Cosmic Bar. Dia masih seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 2 SMA. Keadaan memaksanya untuk bekerja di tempat penuh gemerlap seperti sekarang ini.

“Hey, manis…” Seru sebuah suara yang tiba-tiba menghalangi jalannya sembari mengambil gelas yang berada di tangan Cheng Xiao.

“Aih, tuan itu bukan untuk Anda.”

“Tuan?” Seru orang tersebut yang ternyata laki-laki dengan nada bertanya.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya dan kemudian mengangguk sekali.

“Jangan panggil aku tuan…” Ucap laki-laki itu lagi. Cheng Xiao tidak begitu dapat melihat wajahnya karena dia mengenakan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Kali ini badannya sedikit sempoyongan laki-laki tersebut mendekat ke arah Cheng Xiao. “Panggil aku Oppa!”

Cheng Xiao kembali mengerutkan keningnya. “Sepertinya Anda sudah terlalu mabuk.” Ucap Cheng Xiao sambil menarik laki-laki tersebut untuk mendudukannya di meja nomor 3. Cheng Xiao langsung mengambil gelas yang berada di tangan laki-laki tersebut.

“Maaf ya tuan, minuman ini punya pelanggan milik meja nomor 8. Kalau tuan mau aku akan mengambilkannya lagi setelah ini.” Ucap Cheng Xiao yang kemudian tersenyum kecil dan membalikkan badannya.

“HAP!!”

“Chu!”

Cheng Xiao membelalakan matanya.

“PRANG!”

Suara gelas yang terjatuh menghentikan waktu di dunia Cheng Xiao. Laki-laki tersebut baru saja menciumnya. Tepat di bibir. Untuk beberapa saat mereka terdiam, membiarkan kedua bibir mereka saling menempel. Cheng Xiao yang masih terkejut tidak bisa melakukan apa-apa karena laki-laki tersebut menahan pingganggnya yang dia tarik mendekat ke tubuhnya. Sementara Cheng Xiao membelalakan matanya, laki-laki tersebut malah memejamkan matanya seolah-olah sangat menikmati saat-saat keintiman mereka.

Cheng Xiao langsung mendorong tubuh laki-laki tersebut. Waktu di dunianya kembali berjalan. Dia mengelap bibirnya. Itu ciuman pertamanya!

Cheng Xiao memandang kesal laki-laki yang sekarang malah tertawa. Dia tahu laki-laki itu memang sedang dalam keadaan mabuk. Tapi… tidak begini caranya! Begitu pikir Cheng Xiao.

“BRUK!!”

Baru saja Cheng Xiao mengambil ancang-ancang untuk menampar, laki-laki tersebut malah terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Hufffft….” Cheng Xiao menghembuskan nafasnya.

***

“Maaf! Tolong maafkan kelakukannya. Dia memang suka mencium orang dengan sembarangan kalau sedang mabuk.” Jelas seorang laki-laki bernama Jung berusia sekitar 30an yang mengaku sebagai manajer dari seseorang yang saat ini masih berusaha kembali ke alam sadarnya.

Cheng Xiao memandang tak tega. Ini sudah kesekian kalinya manajer tersebut meminta maaf dan menjelaskan. Namun raut mukanya kembali menjadi marah tiap kali dia melihat tersangka yang dengan tidak sopannya sudah merebut ciuman pertamanya.

“Taehyung-ah cepat kau minta maaf pada nona ini!” Seru manajer Jung.

Laki-laki bernama Taehyung tersebut menggelengkan kepalanya sembari memijat keningnya sebelum akhirnya melihat ke arah Cheng Xiao.

“Cheng Xiao? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Taehyung.

“Pletak!” Manajer Jung menjitak kepala Taehyung. Taehyung mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya, dia menatap manajer Jung dengan raut wajah meminta penjelasan. “Cepat minta maaf padanya!”

Taehyung memiringkan kepalanya ke kiri, terlihat mengingat-ingat sesuatu. “PLAK!” Dia langsung menepuk kepalanya begitu menyadari alasan mengapa dia harus minta maaf.

Cheng Xiao langsung membalikkan badannya. Dia marah dan sangat malu saat ini. Taehyung, teman sekelasnya yang juga merupakan seorang anggota group terkenal di Korea Selatan baru saja menciumnya dan mengetahui bahwa dia bekerja di tempat seperti ini. Entah apa yang ada dalam pikiran Taehyung saat ini tentangnya.

“Xiao-ah…” Panggil Taehyung. “Mian?

“Pletak!” Lagi-lagi manajer Jung menjitak kepala Taehyung. “Cepat minta maaf yang benar. Aku akan mengurus kerugian yang kau timbulkan dengan manajer Bar ini, dan begitu aku selesai kau harus sudah ada di mobil. Mengerti?”

“Aish, hyung! Berhenti menjitak kepalaku!” Ucap Taehyung.

Manajer Jung baru saja akan kembali menjitak Taehyung, namun Taehyung langsung menghindar sembari memeletkan lidahnya.

“Cepat minta maaf yang benar!” Seru Manajer Jung sembari berlalu ke luar dari ruangan pegawai.

“Cheng Xiao?”

Cheng Xiao masih membelakangi Taehyung.

“Aku tahu kau sangat marah. Aku minta maaf atas perilaku lancang yang mungkin aku lakukan ketika aku mabuk. Kau tahu kan aku di bawah pengaruh alkohol saat itu.” Ucap Taehyung.

Cheng Xiao membalikan badannya dan mendelik tajam ke arah Taehyung dengan masih menahan amarah. Terbukti dari pipinya yang terus menggembung merah.

“Kau ini masih berumur 18 tahun dan sudah mabuk-mabukan begini? Dan apa kau sadar dengan kelakuanmu ketika sedang mabuk itu?” Seru Cheng Xiao.

Taehyung berusaha bangkit dari sofa berwarna coklat tua tempat dia tak sadarkan diri tadi.

“Aw..”

Cheng Xiao agak terkejut ketika mendengar suara mengaduh Taehyung, Taehyung terlihat meringis.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Cheng Xiao yang malah jadi khawatir. Dia memang melihat banyak luka lecet pada kaki Taehyung ketika para pelayan Bar Cosmic lainnya membawa Taehyung ke ruang khusus pegawai tadi.

Taehyung menggeleng sembari tersenyum konyol seperti biasa.

“Mau aku…”

“Tidak perlu, kau tak perlu repot mengobatiku, ini hanya luka kecil biasa akibat latihan dance kok.”

Cheng Xiao mengerutkan keningnya, “Apa sih? Dasar tidak jelas! Siapa juga yang mau mengobatimu?” Tanya Cheng Xiao, Taehyung mengerutkan keningnya. “Aku cuma mau menawarkan apa kau mau aku panggilkan manajermu. Itu saja. Kenapa kau berpikir aku mau menawarkan diri untuk mengobatimu? Terlebih setelah kejadian tadi.”

Taehyung mengangkat bahunya sembari memeletkan lidahnya, “Ah aku kira kau mau mengobatiku. Sudahlah maafkan aku ya, aku kan sudah minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ujar Taehyung sembari mengangkat dua jarinya.

Mwo? Tidak akan? Tentu saja! Ini adalah yang pertama dan terakhir!”

“Iya… iya… jadi kau memaafkanku kan? Kau tidak akan menuntutku?”

Cheng Xiao terkejut, dia memang sempat terfikir untuk menuntut Taehyung, tapi diurungkan niatnya karena itu sangat terdengar konyol, kan tidak lucu kalau nanti ada orang yang bertanya apa alasannya menuntut Taehyung dan Cheng Xiao menjawab ‘karena dia telah merebut ciuman pertamaku!’.

“Baiklah! Tapi ada syaratnya.” Seru Cheng Xiao pada akhirnya. Well, dia tidak terlalu suka berurusan lama-lama dengan orang-orang seperti Taehyung. Idol.

“Syarat?” Tanya Taehyung sembari menggaruk kepala bagian belakangnya.

“Berpura-pura kita tidak pernah bertemu malam ini.”

Taehyung memiringkan kepalanya ke kanan 15 derajat, sedikit bertanya-tanya kenapa Cheng Xiao mengajukan syarat tersebut. “Baiklah.”

“Yasudah kau boleh pergi.” Sahut Cheng Xiao.

“Tidak sopan. Masa kau mengusir pelanggan?” Canda Taehyung.

Kka!

***

Pasti kalian bertanya-tanya bagaimana Cheng Xiao dan Kim Taehyung, nama lengkapnya, bisa saling mengenal. Well, Taehyung dan Cheng Xiao adalah teman sekelas. Lagipula semua orang sudah pasti tahu siapa Taehyung, seorang anggota group rookie yang langsung melejit namanya begitu mereka debut.

Taehyung memang sudah jarang masuk sekolah. Tapi dia dan Cheng Xiao sangat sering kebagian tugas kelompok bersama dulu. Jadi secara tidak langsung mereka tentu saja saling mengenal. Kehidupan di dunia musik membuat Taehyung seringkali absen dari sekolahnya. Dan tak jarang wali kelas mereka meminta Cheng Xiao untuk memberitahu Taehyung mengenai tugas ataupun jadwal ujian pada Taehyung karena Cheng Xiao adalah ketua kelas di kelasnya.

 

***

Seoul 16 September 2013, pukul 02:00 PM

 

“Aku duluan ya!” Seru Eunseo pada Cheng Xiao. Cheng Xiao mengangguk.

“Hati-hati di jalan.” Seru Cheng Xiao pada Eunseo. Eunseo tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya pada Cheng Xiao, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Cheng Xiao.

Cheng Xiao membereskan barang-barang yang ada di atas mejanya sebelum memasukannya ke dalam tas merah mudanya. Kegiatannya mendadak berhenti ketika sebuah bayangan berdiri di hadapannya.

Cheng Xiao menengadah ke atas. Sedetik kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya membereskan barang-barangnya.

“Bisa bicara sebentar?” Tanya orang di hadapannya.

“Kalau tentang masalah semalam, aku pikir aku sudah menegaskan kepadamu,” Sahut Cheng Xiao.

“Bukan itu.” Seru orang tersebut yang ternyata adalah Taehyung.

“Lalu?”

“Bisakah kau membantuku belajar untuk ulangan harian Bahasa Inggris minggu depan?” Tanya Taehyung sembari menggaruk kepala bagian belakangnya, takut-takut kalau Cheng Xiao menolak.

“Kenapa aku?” Tanya Cheng Xiao. “Maksudku, Xuan Yi lebih pintar dalam pelajaran Bahasa Inggris dibanding diriku.” Lanjut Cheng Xiao.

“Aku tidak terlalu dekat dengan Xuan Yi, dan tidak enak kalau tiba-tiba meminta bantuannya untuk mengajariku.” Jelas Taehyung.

“Bona?” Tanya Cheng Xiao. “Selain pintar Bahasa Inggris, dia juga sangat mengidolakanmu. Dia pasti mau mengajarimu.” Jelas Cheng Xiao.

“Aku tidak terlalu dekat dengannya.” Sahut Taehyung.

“Aku kira kita juga tidak terlalu dekat.” Timpal Cheng Xiao.

“Kalau kau tidak bisa juga tidak apa-apa.” Sahut Taehyung sembari bersiap pergi. Raut wajah Taehyung sedikit berubah menjadi agak kesal.

Cheng Xiao menahan tangan Taehyung, “Memangnya aku bilang tidak bisa?” Sahut Cheng Xiao yang kemudian langsung melepaskan tangan Taehyung.

Senyum lebar merekah dari wajah Taehyung, “Jadi kapan kau ada waktu?” Tanya Taehyung sembari mendekatkan wajahnya ke arah Cheng Xiao.

“Hari ini aku punya waktu 2 jam sebelum kerja part time ku” Ujar Cheng Xiao.

Taehyung mengerucutkan bibirnya, membuat Cheng Xiao mengerutan keningnya, “Besok bisa tidak?” Tanya Taehyung kemudian. Cheng Xiao membelalakan matanya, “Hari ini aku ada latihan sampai tengah malam. Jadi besok saja ya? Bisa kan?”

“Yang butuh di sini itu siapa sih?” Sindir Cheng Xiao tajam.

Taehyung mengusapkan kedua tangannya di depan Cheng Xiao, berharap Cheng Xiao mengerti. “Bisa ya??”

Cheng Xiao menutup resleting tasnya. Dia beranjak dari duduknya, meski begitu tubuh Taehyung masih lebih tinggi darinya. “Baiklah, besok jam 3 di perpustakaan. Dan berhentilah bertingkah aneh di depanku.” Ucap Cheng Xiao sebelum akhirnya pergi meninggalkan Taehyung.

“Aku aneh? Ah yang benar saja!”

***

Seoul 3 Januari 2016 , pukul 12:45 PM

 

Cheng Xiao tak hentinya mengscroll layar handphonenya. Melihat beberapa berita di sela-sela makan siangnya. Dia tersenyum membaca salah satu judul berita mengenai orang yang sangat dikenalnya.

“Ddddrrrttt…”

Handphone Cheng Xiao bergetar, tanda sebuah panggilan masuk.

“Halo!” Sahut Cheng Xiao.

“…”

“Iya aku sudah baca.”

“…”

“Bukankah hari ini mereka libur?”

“…”

“Aku tidak tahu. Taehyung tidak memberitahuku.”

“…”

“Mungkin.”

“…”

“Tidak juga. Untuk apa aku marah?”

“…”

“Sudah ya aku tutup, aku ingin menyelesaikan makanku.”

“…”

“Okay, love you too, Eunseo-ya…”

Cheng Xiao menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kebawelan sahabatnya itu. Cheng Xiao melirik waktu yang ditunjukkan oleh handphonenya.

“Gawat! Aku harus segera kembali ke kampus!”

 

***

Seoul, 17 September 2013, pukul 04:10 PM

 

“Maaf Xiao,bisa kau ke tempatku? Alamatnya di xxxx xxxxxxxx xxxxx…”

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya panjang.

“Si Taehyung ini benar-benar tidak tahu diri!” Seru Cheng Xiao.

“SSSSSSTTTTTT!!!”

Cheng Xiao langsung menutup mulutnya. Dia lupa kalau saat ini dia berada di perpustakaan. Dia sudah menunggu selama satu jam, dan Taehyung baru mengabarinya sekarang.

“Ddddrrrrttt…”

Cheng Xiao mengambil handphonenya yang kembali bergetar.

“Aku mohon kali ini saja….”

“Awas saja kau Taehyung, aku akan menghajarmu sesampainya di sana!” Gerutu Cheng Xiao sembari membereskan barang-barangnya.

***

“Kau dimana? Aku sudah di depan.”

“Ddddrrrrrrttt…”

“Langsung masuk saja, aku tidak bisa turun.”

Cheng Xiao menghentakkan kakinya. Kekesalannya sungguh memuncak saat ini. Dia bisa saja kembali pulang, namun dia tidak akan bisa menghajar Taehyung kalau dia pulang sekarang. Dan kalau besok, belum tentu Taehyung masuk sekolah lagi, seperti hari ini.

Dengan berat hati Cheng Xiao pun memutuskan untuk masuk ke dalam gedung di hadapannya.

Cheng Xiao memandang kantong plastik yang ada dalam jinjingannya. Taehyung tadi sempat menitip makanan tadi, sebenarnya Cheng Xiao tidak mau membelikannya, tapi dia juga sedang lapar, karena belum makan siang dari tadi. Jadi yaa sekalian saja, begitu pikirnya.

Cheng Xiao berjalan ke arah resepsionis, “Onnie permisi… kalau ruang Latihan itu ada dimana ya?” Tanya Cheng Xiao.

Aggashi ada keperluan apa ya?” Tanya resepsionis yang mengenakan name tag bertuliskan Kim So Hee tersebut.

Cheng Xiao mengambil handphonenya dan menunjukkan pesan yang dikirim oleh Taehyung pada resepsionis tersebut.

“Ah, jadi Aggashi temannya Taehyung, Aggashi bisa langsung naik ke lantai 3, dan dari lift nanti, belok ke kiri, dan di sana ruangannya.”

“Ah, baiklah, terima kasih, Onnie..” Ucap Cheng Xiao sembari tersenyum ramah pada Kim So Hee.

Sesuai dengan arahan Kim So Hee tadi, akhirnya Cheng Xiao sampai di ruangan yang dia maksud. Dia mengangkat tangannya henda mengetuk pintu ketika pintu tersebut secara tiba-tiba terbuka.

“Ah, Xiao nunna?”

Cheng Xiao mengerutkan keningnya, “Nunna? Aku pikir kau lebih tua dariku, Jungkook-sshi.” Cheng Xiao mengalihkan pandangannya ke arah lain, setahu dia Eunseo pernah menyebut Jongkook dengan panggilan “Oppa” ketika dia sedang melakukan fangirling. Dia tahu tentang Taehyung dan anggota groupnya, tapi dia tidak tahu mengenai data pribadi atau kehidupan mereka, tidak seperti Eunseo yang merupakan penggemar mereka.

“Bukankah kau teman Taehyung hyung?”

Cheng Xiao mengangguk, “Tunggu…” Cheng Xiao kembali mengerutkan keningnya, “Hyung? Taehyung lebih tua darimu?” Tanya Cheng Xiao. Jungkook mengangguk.

Jungkook menarik tangan Cheng Xiao, “Ayo Nunna cepat masuk, tidak enak berbicara di depan pintu seperti ini.”

Hyung lihat siapa yang datang!”

“Whoaaa, siapa ini? Kenapa gadis secantik ini bisa ada disini? Kau trainee baru?” Tanya Hoseok tanpa henti.

Cheng Xiao menggaruk kepala bagian belakangnya, merasa tersipu dengan pujian yang diucapan Hoseok barusan.

Aniyaa! Xiao Nunna ini temannya Taehyung Hyung..” Jelas Jungkook.

“Hoseok..” Ucap Hoseok sembari mengulurkan tangannya.

“Cheng Xiao…” Ucap Cheng Xiao sembari menyambut uluran tangan Hoseok.

“Suga…”

“Cheng Xiao..”

“Namjoon..”

“Cheng Xiao..”

“Jiminniee…” Seru Jimin sembari beraegyo. Membuatnya mendapat pukulan dari Suga dan Hoseok.

Cheng Xiao tersenyum sekilas sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Jimin, “Cheng Xiao..”

“Jin..”

“Cheng Xiao..”

“Karena kau teman Taehyung, berarti kau seumuran dengannya dan Jimin, aku lebih tua darimu setahun, jadi panggil aku Oppa ya?” Ucap Hoseok.

Cheng Xiao tersenyum kecil sembari mengangguk. “Ngomong-ngomong, apa Taehyung ada?” Tanya Cheng Xiao kemudian.

“Ah, sebelumnya maaf, Nunna.. sebenarnya yang mengirimimu pesan tadi adalah aku.” Aku Jungkook sembari tersenyum kecil.

“Hah?” Cheng Xiao sedikit terkejut.

“Dan nomor tadi itu nomornya manajer hyungnim… Manajer hyungnim memintaku untuk membalas pesan-pesan Xiao Nunna.”

“Aku kira itu nomor Taehyung.” Ucap Cheng Xiao

“Kami tidak diijinkan memegang handphone, Xiao..” Ucap Hoseok.

Cheng Xiao memukul keningnya pelan, merutuki kebodohannya yang sering memarahi Taehyung lewat sms, karena itu berarti selama ini manajer mereka melihat pesan makian tersebut.

“Cklek!”

“Loh? Xiao?” Seru Taehyung yang baru saja masuk ke dalam ruang latihan. Dia terkejut melihat keberadaan Cheng Xiao di sana. “Sedang apa kau di sini?” Tanya Taehyung sembari memegang pergelangan tangan Cheng Xiao.

Cheng Xiao melemparkan senyum membunuhnya ke arah Taehyung, “Bahasa Inggris?” Tanyanya pada Taehyung, “… dan ini…” Lanjut Cheng Xiao sembari mengangkat plastik putih di tangannya.

“Ah, Nunna, itu tadi aku yang memesannya..” Seru Jungkook sembari mengambil bungkusan putih tersebut.

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya panjang.

“Ayo ikut aku!” Sahut Taehyung sembari menarik Cheng Xiao keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan 6 anggota Bangtan lain yang memandangnya bingung.

 

***

Seoul, 6 Januari 2016, pukul 04:01 PM

 

Hari ini langit begitu gelap, padahal jam tangan yang melingkar di tangan Cheng Xiao masih menunjukkan waktu pukul 4 sore. Dia bergegas menuju apartementnya sebelum rintik hujan turun deras. Jarak yang dekat dari kampus ke apartementnya membuat Cheng Xiao memilih berjalan kaki dibandingkan naik kendaraan. Jaraknya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

“Cklek!”

“KYAAAA!!”

“YAK! KIM TAEHYUNG! SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN UNTUK TIDAK MASUK KE APARTEMENTKU TANPA SEIJINKU?!”

Cheng Xiao menggeram kesal ketika laki-laki yang diteriakinya malah menutup telinganya dengan bantal bersarung putih.

“Diamlah sedikit. Aku ingin tidur sebentar.” Sahut Taehyung.

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya dengan cepat. Dia langsung menuju kulkas untuk mengambil segelas air mineral. Meskipun sudah biasa, jalan kaki selama 15 menit itu cukup melelahkan terlebih dia tadi berlari untuk menghindari hujan yang ditakutkan akan turun.

“Glek! Glek!”

Cheng Xiao melihat sepatu dan topi Taehyung yang berserakan di lantai. Taehyung tengah berbaring di sofa membelakanginya mengenakan kaos berwarna hitam dengan celana pendek selutut.

Kenapa dia tidak tidur di tempatnya sih?” Tanya Cheng Xiao dalam hatinya.

Semenjak kejadian 3 tahun lalu. Taehyung dan Cheng Xiao menjadi lebih akrab. Bahkan bisa dibilang Taehyung adalah satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya layaknya sahabat begitu juga sebaliknya. Taehyung tidak begitu punya banyak teman di sekolahnya dulu dikarenakan pekerjaannya. Namun entah kenapa dia malah bisa jadi dekat dengan Cheng Xiao.

Cheng Xiao berjalan ke arah kamarnya. Tak lama kemudian pakaian yang melekat di badannya sudah terganti. Dia kembali menuju dapur.

“Kau sudah makan?” Tanya Cheng Xiao sembari melihat ke arah Taehyung.

Taehyung tidak menjawab.

“Sepertinya dia benar-benar tertidur.” Ucap Cheng Xiao.

Cheng Xiao mengambil beberapa kotak makanan dari dalam kulkas, dia kembali melihat ke arah Taehyung yang masih tidur menghadap ke sofa.

“Tidak seperti biasanya.” Ucap Cheng Xiao yang merasa begitu sepi, biasanya Taehyung akan sangat bawel atau jahil padanya, tapi kali ini seperti tidak ada siapa-siapa kecuali Cheng Xiao. Cheng Xiao memutuskan menghampiri Taehyung yang tertidur di sofa tersebut.

“Taehyung!” Panggil Cheng Xiao sembari menepuk pundak Taehyung. Taehyung tidak menyahut dan malah semakin menutupi kepalanya dengan bantal.

“YAK!” Cheng Xiao mengambil bantal tersebut. Dan didapatinya Taehyung tengah terlelap dengan wajah gelisah penuh dengan bulir keringat dari keningnya.

Cheng Xiao meletakkan tangannya di leher dan kening Taehyung, “Aish, kau sakit?” Cheng Xiao langsung beranjak ke kamarnya mengambil handuk kecil berwarna putih.

“Sakit begini kenapa malah kesini? Bukannya ke rumah sakit?” Tanya Cheng Xiao pada Taehyung yang masih memejamkan matanya. Cheng Xiao mengelapi keringat dingin yang mengalir di leher dan kening Taehyung.

Setelahnya, Cheng Xiao kembali ke dapurnya, dia memutuskan untuk memasak bubur untuk Taehyung. Kurang dari setengah jam, bubur tersebut matang. Cheng Xiao memaksa Taehyung untuk bangun.

“Makan ini dulu, baru nanti kau minum obat ini.” Ucap Cheng Xiao sembari meletakkan bubur dan obat di meja di hadapan Taehyung.

Taehyung masih berusaha membuka matanya dengan benar. Dia memang sudah bangun dari tidurnya tetapi dia malah kembali menyandarkan tubuhnya di sofa berwarna abu-abu tersebut.

“Hhhhh…” Cheng Xiao menghela nafas panjang. Dia memutuskan untuk duduk di samping Taehyung setelah melepas apronnya. Diambilnya mangkok yang berisi bubur hangat tersebut.

“Buka mulutmu!”

Taehyung hanya menurut. Dia membuka mulutnya kecil.

“Yang lebar. Biasanya juga mulutmu bisa terbuka 5 kali lipat dari ini.” Seru Cheng Xiao.

Taehyung menjitak kening Cheng Xiao dengan kekuatan yang masih tersisa dia membuka mulutnya lebih lebar lagi.

“YAK! Sudah sakit masih saja jahil!” Seru Cheng Xiao sembari menyuapi Taehyung.

Taehyung sudah meminta Cheng Xiao untuk berhenti menyuapinya di suapan kelima, tapi bukan Cheng Xiao namanya kalau tidak bisa memaksa Taehyung untuk menghabiskan makanannya.

“Nah sekarang kau minum obat ini.” Titah Cheng Xiao.

“Gomawo Xiao-ah…” Ucap Taehyung yang kemudian hendak membaringkan tubuhnya lagi.

“Jangan tidur di sini.” Seru Cheng Xiao.

Taehyung melihat ke arah Cheng Xiao. “Aku sedang tidak ingin ke asrama. Suasananya sedang ramai, hari ini jadwal petugas kebersihan membersihkan asrama.” Jelas Taehyung.

“Siapa juga yang menyuruhmu ke asrama?” Tanya Cheng Xiao. Cheng Xiao sering kali merasa kesal dengan sifat sok tahu Taehyung, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali Taehyung memotong perkataan Cheng Xiao, dan menduga-duga seenaknya.

“Lalu?”

“Tidurlah di kamarku. Tidur di sofa, hanya akan membuat badanmu tambah sakit.” Jelas Cheng Xiao. “Nanti setelah kau agak baikan, kau pindah lagi di sofa. Mengerti?”

Nde, seongsaenim!” Sahut Taehyung sembari beranjak dari sofa menuju kamar Cheng Xiao.

“Jangan meledekku!”

***

Seoul, 10 Juli 2014, Pukul 13:25 PM

 

Taehyung menggeram kesal menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya mendengar cerita Cheng Xiao yang baru saja diputuskan oleh Song Yunhyeong, yang juga merupakan teman sekelasnya.

Cheng Xiao kini berada di dalam pelukannya, menangis tersedu. Sehabis memutuskannya, Yunhyeong langsung terlihat tengah bermesraan dengan Exy, anak kelas sebelah yang juga merupakan ketua dari ekstrakulikuler cheerleaders.

Cheng Xiao tidak menceritakan apapun pada Taehyung, tapi bukan Taehyung namanya kalau tidak mengetahui apapun tentang Cheng Xiao. Cheng Xiao masih tenggelam dalam kesedihannya, sedangkan Taehyung masih diam menahan amarah, tak bersuara sedikitpun, bahkan niat untuk menenangkan Cheng Xiao dengan kata-katanya pun tidak ada.

Cheng Xiao menggenggam tangan Taehyung yang terkepal, dia tahu Taehyung tengah menahan amarahnya, “Jangan lakukan apapun,” Ucap Cheng Xiao sembari mengangkat wajahnya. Cheng Xiao menghapus air matanya dan kemudian memegang kedua tangan Taehyung yang masih mengepal.

“Ini salahku…” Lanjut Cheng Xiao lagi, Cheng Xiao menundukan kepalanya. “Seharusnya aku mendengarkanmu waktu itu.. seharusnya aku…”

Taehyung menarik tubuh Cheng Xiao ke dalam pelukannya. “Tenang saja, kau masih punya aku…”

Cheng Xiao tersenyum mendengar perkataan Taehyung barusan. Dia menarik tubuhnya dari dekapan Taehyung, “Bukankah kau ada jadwal latihan hari ini?” Tanya Cheng Xiao.

Taehyung mengangguk, “Sudahlah, aku bisa ijin untuk terlambat beberapa jam.” Sahut Taehyung sembari kembali menarik Cheng Xiao.

Dan Cheng Xiao kembali menarik tubuhnya, “Jangan begitu,” Ucap Cheng Xiao, “Nanti kau harus latihan sampai tengah malam lagi seperti waktu itu. Sudahlah cepat pergi ke tempat latihanmu!” Lanjut Cheng Xiao sembari mendorong tubuh Taehyung agar menjauh darinya.

“Yasudah, ayo aku antar kau pulang.” Ucap Taehyung yang pada akhirnya mengalah.

“Tidak perlu.” Sahut Cheng Xiao. “Aku masih ada janji dengan Eunseo. Pergilah!” Usir Cheng Xiao.

Taehyung menghela nafasnya pelan. Ditariknya tubuhnya Cheng Xiao untuk mendekat.

“Chu!”

Taehyung mengecup kening Cheng Xiao sekilas membuat sang empunya kening sedikit terkejut. “Jangan kau pikirkan lagi laki-laki brengsek itu. Aku pergi dulu!” Pamit Taehyung sembari berjalan menjauh meninggalkan Cheng Xiao yang saat ini tengah memegangi kening yang baru saja disentuh oleh bibir Taehyung.

 

***

Seoul, 6 Januari 2016, pukul 09:00 PM

 

Cheng Xiao melihat ke arah jam yang berada di dinding. Ini sudah pukul 9 malam, dan Taehyung masih belum keluar dari kamarnya.

“Dia masih belum bangun?” Tanya Cheng Xiao pada dirinya sendiri.

Cheng Xiao beranjak menuju kamarnya. Dilihatnya Taehyung yang belum menunjukkan tanda-tanda sudah bangun.

“Kenapa demamnya malah semakin tinggi?” Tanya Cheng Xiao sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Suhu badan Taehyung naik 2 derajat.

Cheng Xiao berjalan ke arah kamar mandi dan mengisi baskom kecil dengan bebatuan es kecil. Dimasukkannya bebatuan es tersebut ke dalam handuk putih dan di tempelkannya ke kening Taehyung.

Dapat terlihat dengan jelas oleh Cheng Xiao wajah gelisah Taehyung dalam tidurnya. Entahlah apa yang sedang dimimpikan oleh Taehyung saat ini. Melihat Taehyung yang seperti ini membuat Cheng Xiao kembali mengingat peristiwa bagaimana dia pertama kali bertemu dan mengenal Taehyung.

Saat itu di hari penerimaan murid baru, Taehyung juga demam seperti ini. Dan Cheng Xiao harus menemaninya di UKS karena petugas UKS yang sedang tidak hadir pada hari itu. Tetapi pada hari itu setelah minum obat, beberapa jam kemudian demamnya turun dan dia sudah bisa kembali ke kelas.

Dan ketika mereka kembali ke kelas bersama, sorakan seluruh anak kelas menyambut mereka. Saat itu Taehyung masih menjadi siswa biasa, bukan seorang anggota dari sebuah group idola. Tidak seperti Cheng Xiao yang cemberut karena mendapati sorakan, Taehyung malah tertawa lebar seolah dia tidak baru sakit sebelumnya.

Cheng Xiao tersenyum mengingat hal tersebut. Setelah kejadian tersebut dia berusaha menjauhi Taehyung, tapi takdir seakan berkata lain karena mereka terus-terusan disatukan pada tugas kelompok sekolah ataupun pada pertemuan di luar sekolah yang tak terduga seperti yang terjadi di Bar 3 tahun yang lalu.

“Xiao…”

“Hm?” Cheng Xiao terkejut ketika Taehyung memanggil namanya dalam keadaan tertidur.

“Xiao…”

“I-iya? Aku. Kenapa Taehyung-ah?” Tanya Cheng Xiao. Cheng Xiao kembali mengecek suhu di kening Taehyung dengan tangan kanannya.

“CHENG XIAO!!” Taehyung terbangun dari tidurnya membuat tangan Cheng Xiao sedikit tersentak. Sepertinya dia mengalami mimpi buruk, dan kebetulan ada aku di mimpinya, begitu pikir Cheng Xiao.

“Mimpi buruk?” Tanya Cheng Xiao.

Dengan nafas yang memburu, tanpa berniat menjawab pertanyaan Cheng Xiao, Taehyung langsung menarik tubuh Cheng Xiao dan memeluknya. “Jangan pergi!” Seru Taehyung.

“Kau kenapa?” Tanya Cheng Xiao yang masih bingung dengan tingkah Taehyung yang tiba-tiba. Cheng Xiao tahu kalau Taehyung mempunyai golongan darah AB, yang membuatnya sedikit aneh dan unik. Tapi ini sudah benar-benar aneh, begitu pikir Cheng Xiao.

“Jangan pergi!” Seru Taehyung lagi dengan nafasnya yang tersengal, seperti habis berlari jauh. Dapat dirasakan oleh Cheng Xiao nafas Taehyung yang memburu yang membuat tubuhnya naik turun.

Cheng Xiao menepuk-nepuk pundak belakang Taehyung. “Iya, aku tidak akan pergi..” Ucap Cheng Xiao yang memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Suhu badan Taehyung yang tinggi dapat dirasakan oleh Cheng Xiao dari balik kaos hitam Taehyung.

Cheng Xiao membiarkan Taehyung terus memeluknya sampai laki-laki tersebut bisa tenang dan melepaskan pelukannya.

***

Seoul, 24 November 2014, 16:25 PM

 

“Apa kau benar-benar harus kembali ke China?” Tanya Taehyung dengan pandangan sendu bertanya pada Cheng Xiao.

“Ayahku memintaku untuk kembali dan menetap di China…” Sahut Cheng Xiao yang saat ini tengah meletakan kepalanya di atas meja sebuah Cafe dekat tempat tinggalnya.

“Apa katanya?” Tanya Taehyung lagi.

“Aku diberikan waktu di sini sampai kelulusan nanti.”

Taehyung membenarkan letak topinya sembari mengaduk-aduk chocolate milkshake di hadapannya.

“Lalu kau bilang apa?” Tanya Taehyung untuk kesekian kalinya.

“Entahlah. Tapi ibuku bilang, aku pulang saja dulu, dan kalau memang aku ingin tetap tinggal di sini, aku harus membujuk ayahku untuk mengijinkanku menetap di sini lebih lama lagi.” Jawab Cheng Xiao sembari menarik kepalanya yang kini memilih menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Yasudah, kau ikuti saja saran ibumu..”

“Tidak semudah itu, Kim Taehyung… ” Sahut Cheng Xiao sembari menghela nafas panjang.

“Baiklah terserah kau mau bagaimana, yang penting tinggalah lebih lama di Seoul.” Ujar Taehyung sembari memegang tangan Cheng Xiao.

Cheng Xiao menarik tubuhnya ke depan untuk lebih dekat ke arah Taehyung, “Makanya kalau aku suruh cari teman lain, ya cari, gara-gara kau malas mencari teman, kau hanya punya aku dan teman-teman satu groupmu sebagai temanmu.” Seru Cheng Xiao sembari memeletkan lidahnya setelah dia menyeruput strawberry milkshake nya.

“Itu tidak ada hubungannya!” Sahut Taehyung.

“Yang benar?” Tanya Cheng Xiao. Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya. “Jadi kalau aku tidak tinggal di sini lagi tidak apa-apa dong?” Lanjut Cheng Xiao.

Taehyung menarik hidung Cheng Xiao mendengar pertanyaan terakhir gadis tersebut.

“YAAAA!!!!”

***

Seoul, 6 Januari 2016, pukul 09:45 PM

World Tour?” Ulang Cheng Xiao.

Taehyung mengangguk.

“Berapa lama?” Tanya Cheng Xiao.

“Enam bulan.” Jawab Taehyung.

Jadi selama enam bulan Taehyung tidak akan datang ke sini. Ucap Cheng Xiao dalam hati.

“Memang masih sebulan lagi, tapi waktu sebulan itu akan digunakan untuk latihan persiapan yang akan dilakukan secara intens. Namun sebelum itu…” Taehyung membuka suaranya. “Aku ingin memastikan sesuatu..”

Cheng Xiao memandang Taehyung dengan raut wajah bingung, “Memasti-”

“Xiao-ah…” Seru Taehyung sembari memegang tangan Cheng Xiao. “Aku tahu selama ini kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat.” Ucap Taehyung.

Cheng Xiao menganggukan kepalanya sekali.

“Tapi aku tidak.” Seru Taehyung. “I Need U Girl…” Lanjut Taehyung to the point.

Cheng Xiao melepaskan genggaman tangan Taehyung pada kedua tangannya. Dia kembali menempelkan punggung tangannya di kening dan leher Taehyung. “Sepertinya demammu bertambah parah…” Ucap Cheng Xiao.

Taehyung mengerutkan keningnya, dan kembali menarik tangan Cheng Xiao untuk kembali dia genggam. “Aku serius, ini bukan karena pengaruh demam.” Jelas Taehyung. “Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu, dan ini adalah kesempatan terakhir sebelum aku melakukan world tour selama 7 bulan dimana itu berarti aku tidak bisa menemuimu untuk 7 bulan ke depan. Setidaknya aku tidak tahu kapan aku punya waktu untuk menemuimu dalam jangka waktu tersebut.”

Cheng Xiao kembali menarik tangannya dari genggaman tangan Taehyung. “Jangan bercanda Kim Taehyung,” Cheng Xiao bangkit dari duduknya dan mendorong tubuh Taehyung dengan perlahan untuk kembali berbaring. “Berbaringlah, aku akan mengambil ob-”

“HAP!” Taehyung menarik tangan Cheng Xiao hingga tubuh gadis itu terjerembab di atas tubuhnya.

“Chu!” Cheng Xiao membelalakan matanya ketika Taehyung mencium bibirnya. Cheng Xiao dapat merasakan dengan jelas suhu tubuh Taehyung yang makin tinggi melalui bibirnya yang saling bertautan. Ini ciuman kedua mereka setelah tiga tahun lalu. Cheng Xiao berusaha melepaskan ciuman tersebut tetapi Taehyung menahannya selama beberapa detik.

“Aku serius Cheng Xiao!” Ucap Taehyung setelah melepaskan ciumannya. “Want you be my butterfly?” Ulang Taehyung lagi.

I’m already a butterfly, don’t I? You’ve always said that I’m butterfly…

Be just for me….

Cheng Xiao berusaha bangkit dari tubuh Taehyung, “Jawab aku dulu, Xiao!” Seru Taehyung sembari menahan tubuh Cheng Xiao.

“Ddddrrrrttttt”

Cheng Xiao melihat ke arah handphonenya yang bergetar.

“Ada telfon masuk..” Ucap Cheng Xiao pada Taehyung dengan raut wajah ‘Tolong biarkan aku mengangkatnya terlebih dahulu’. Dan berhasil. Taehyung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Cheng Xiao.

“Halo?!” Seru Cheng Xiao setelah mengangkat telfonnya, Cheng Xiao memutuskan untuk beranjak keluar dari kamarnya.

“Ah, Taehyung sedang berada di tempatku..” Sahut Cheng Xiao sembari menyenderkan tubuhnya di pintu kulkas. Dipegangnya dadanya yang berdetak begitu cepat akibat pengakuan Taehyung.

“Iya dia memang agak demam sekarang, aku akan berusaha membujuknya untuk pergi ke rumah sakit.” Sahut Cheng Xiao lagi, kali ini dia menggigit bibir bagian bawahnya, diliriknya Taehyung yang saat ini tengah bersandar di ranjangnya dengan tangan berada di keningnya sembari matanya terpejam.

Nde!” Sahut Cheng Xiao lagi sebelum pada akhirnya menutup sambungan telfonnya.

Cheng Xiao menghembuskan nafas panjangnya sembari memegangi dadanya. “Tenangkan dirimu, Cheng Xiao.”

Dibukanya pintu kulkas bagian atas untuk mengambil bubur hangat yang masih tersisa tadi. Bubur tersebut memang sengaja di simpan untuk Taehyung. Diambilnya juga segelas air putih dan obat penurun panas yang kemudian dia letakkan di atas nampan.

Taehyung masih dalam posisi yang Cheng Xiao lihat terakhir kali, menyandarkan tubuhnya di ranjangnya dengan tangan di atas keningnya dan mata terpejam. Cheng Xiao tahu laki-laki itu tidak tidur.

“Taehyung, makanlah bubur ini. Setelah itu kau minum obat lagi. Bila demammu tidak turun juga, aku akan menelpon temanmu untuk membawamu ke rumah sakit.” Ucap Cheng Xiao sembari meletakan nampan di meja nakas dan kemudian duduk di samping Taehyung. Taehyung bergeming.

“Tadi Jin Oppa menelponku..” Kata Cheng Xiao. Taehyung masih bergeming. Dengan sedikit geram Cheng Xiao menarik tangan Taehyung yang menutupi keningnya. Taehyung membuka matanya.

“Dia bilang, kau sudah tidak sehat sejak kemarin. Dan katanya hari ini kau ijin untuk latihan separuh waktu karena ingin memeriksakan sakitmu ke rumah sakit. Tapi kenapa kau tidak ke rumah sakit dan malah ke sini?” Tanya Cheng Xiao sembari menyendokkan sesuap bubur dan hendak menyuapi Taehyung. Awalnya Taehyung mengelak namun tenaga Cheng Xiao kali ini lebih besar dibandingkan dengan tenaganya yang sedang dalam keadaan sakit.

“Sakitku itu karenamu, kau tahu? Aku sibuk memikirkanmu hingga seperti ini.”Jawab Taehyung membuat Cheng Xiao terdiam. “Jadi apa jawabanmu atas pernyataanku tadi?” Tanya Taehyung kemudian sembari menelan buburnya.

“Dia bilang kau harus ke rumah sakit.” Jawab Cheng Xiao.

“Apa kau tidak merasakan apapun ketika aku menciummu tadi?” Tanya Taehyung. Wajah Cheng Xiao memerah mendengar pertanyaan Taehyung.

“Ma-manajermu juga menanyakan keadaanmu tadi.” Ucap Cheng Xiao.

Taehyung tersenyum kecil. Dia tahu Cheng Xiao tengah menghindari pertanyaannya.

“Apa perasaanmu sama seperti perasaanku?” Tanya Taehyung lagi.

“Dia membiarkanmu istirahat di sini, tapi dia menyuruhku untuk menelpon kalau keadaanmu tak juga membaik.” Sahut Cheng Xiao sembari kembali memberikan suapan untuk Taehyung.

“Apa ini karena Hanbin yang sedang dekat denganmu?” Tanya Taehyung.

“Tidak!” Seru Cheng Xiao cepat. Usahanya untuk mengalihkan pembicaraan menjadi sia-sia karena pertanyaan Taehyung barusan. “Hubungan kami tidak seperti apa yang ada dalam pikiranmu!” Lanjut Cheng Xiao.

“Lalu?”

Cheng Xiao memberikan air minum untuk Taehyung setelah suapan terakhirnya selesai, “Minumlah, nanti kau bisa tersedak.” Seru Cheng Xiao.

Taehyung kembali tertawa, diusapnya ujung kepala Cheng Xiao sembari meminum air yang diberikan Cheng Xiao, “World tour pertama nanti akan dimulai dari Jepang. ”

“Jepang?” Kali ini Cheng Xiao menyahuti pembicaraan Taehyung dengan benar.

“Kau mau ikut? Aku akan memesankan tiket untukmu.” Ucap Taehyung, sembari meletakkan gelas tersebut di atas meja nakas.

Cheng Xiao menggeleng, “Aku harus mempersiapkan tugas untuk akhir semester.” Jawab Cheng Xiao sembari memberikan obat kepada Taehyung. “Kita tunggu beberapa jam lagi, kalau suhu badanmu tidak juga turun, aku akan langsung membawamu ke rumah sakit.” Lanjut Cheng Xiao. Taehyung menggeleng.

“Tubuhku terlalu lemas, aku akan tidur saja. Besok juga pasti akan turun. Lagipula juga sudah ada dirimu…” Ucap Taehyung.

“Jangan bercanda Taehyung, kau tahu kan aku mengkhawatirkanmu…” Lirih Cheng Xiao. “Dan tentang pertanyaanmu…” Cheng Xiao menggigit bibir bagian bawahnya.

“Sudahlah..” Potong Taehyung sembari mengusap puncak kepala Cheng Xiao. “Tidak perlu kau pikirkan pertanyaan itu. Dan…” Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar Cheng Xiao sekilas, “Anggap saja aku tak pernah me-”

“Chu!”

Cheng Xiao mencium bibir Taehyung sekilas.

“Aku harap… itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu tentang perasaanku padamu.” Ucap Cheng Xiao dengan wajah memerah sembari mendorong tubuh Taehyung agar berbaring. “Cepatlah sembuh kalau memang kau tidak mau dibawa ke rumah sakit.” Lanjut Cheng Xiao sembari menarik selimut hingga sebatas dada Taehyung.

Taehyung memegang bibirnya yang baru saja dicium oleh Cheng Xiao tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari gadis itu sembari tersenyum.

“Aku mencintaimu…” Seru Taehyung sembari menarik Cheng Xiao ke dalam pelukannya tiba-tiba.

“YAK!”

“Berhenti melakukan hal tiba-tiba seperti ini!” Seru Cheng Xiao sembari memukul Taehyung pelan. “Tidurlah. Besok Jungkook Oppa akan menjemputmu.” Lanjut Cheng Xiao masih dalam pelukan Taehyung.

“Hey, kenapa hanya aku yang tidak kau panggil Oppa? Kau tahu kan usia Jungkook di bawahku?” Tanya Taehyung. Cheng Xiao mengangguk.

“Lalu?”

“Sudah cepat tidur, kita sudah membahas hal ini ratusan kali dan jawabanku akan tetap sama, mengerti Taehyung-sshi?” Tanya Cheng Xiao balik.

Bukannya menurut, Taehyung malah semakin menguatkan pelukannya. “Tidurlah di sampingku…”

“PLETAK!”

“Aish…” Taehyung memegangi keningnya yang dijitak oleh Cheng Xiao. “Aku tidak akan melakukan apa-apa dalam keadaan sakit seperti ini Xiao-ah.. lagipula aku tidak akan mungkin membiarkan kau tidur di sofa…”

Cheng Xiao terkikik kecil mendengar.  “Cih, kau berbicara seperti ini rumahmu saja!” Decih Cheng Xiao. Taehyung tertawa sembari menarik tangan Cheng Xiao agar gadis itu tidur di sampingnya. Cheng Xiao menurut.

“Jangan macam-macam! Aku bisa menghajarmu yang sedang dalam keadaan sakit ini!” Seru Cheng Xiao memperingati.

Taehyung tertawa mendengar peringatan Cheng Xiao, dia menarik kepala Cheng Xiao masuk ke dalam pelukannya. Cheng Xiao hanya menurut. Suhu badan Taehyung yang masih tinggi bisa dirasakan oleh Cheng Xiao, membuatnya menarik selimut sampai ke batas dagunya.

“Xiao..” Panggil Taehyung.

“Hn?”

“Bagaimana kalau selesai World Tour nanti… kita menikah?” Tanya Taehyung.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya, sejurus kemudian dia cubit pinggang Taehyung.

“Aw!”

“Berhenti berfikiran yang aneh-aneh. Aku masih harus menyelesaikan sekolahku dan kau juga masih harus merintis karirmu.”

“Xiao…”

“Hn?”

“Kalau aku bukan seorang idol, apa perasaanmu masih sama seperti sekarang ini?” Tanya Taehyung sedikit serius.

“Entahlah” Sahut Cheng Xiao enteng. “Mungkin aku akan lebih memilih Namjoon Oppa atau Jin Oppa.. kau tahu kan mereka itu cukup…”

“YAK! KIM TAEHYUNG” Seru Cheng Xiao ketika Taehyung menarik hidungnya dengan kencang tanpa ampun.

“Jangan mempermainkanku anak nakal!” Seru Taehyung masih tetap menarik hidung Cheng Xiao.

“Iya! Iya! Ampun!” Seru Cheng Xiao sembari berusaha melepaskan tangan Taehyung dari hidungnya.

Cheng Xiao mengerucutkan bibirnya ketika mendengar suara decak tawa kecil Taehyung. Dia mengusap-usap hidungnya yang benar-benar sakit karena ditarik oleh Taehyung barusan. Dari dulu dia memang selalu memakai kekuatannya untuk menarik hidung Cheng Xiao, tak peduli bahwa sang korban berbeda gender dengannya. Namun mendengar suara tawa Taehyung membuat Cheng Xiao sedikit lega. Karena itu berarti mood Taehyung sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Cepatlah sembuh! Aku tidak suka kau sakit. Kau jadi aneh kalau sakit.” Ucap Cheng Xiao.

Taehyung bergeming. Cheng Xiao yang heran mendangakan kepalanya ke atas, dilihatnya Taehyung sudah terlelap.

“Dasar tidak sopan!” Seru Cheng Xiao yang kemudian tertawa kecil.

Dia memang tidak begitu yakin dengan perasaannya terhadap Taehyung. Dia memang memiliki perasaan itu, Cheng Xiao berfikir bahwa itu hanyalah sekedar perasaan untuk sahabat. Meski perasaan itu memang hanya untuk Taehyung, dia masih belum terlalu yakin untuk menyebutnya perasaan cinta. Biar begitu, melihat raut wajah Taehyung yang kecewa tadi membuatnya tidak nyaman. Dia tidak tahu apakah perasaan tidak nyaman melihat Taehyung kecewa itu bisa dikatakan bahwa artinya dia juga mencintai laki-laki di sampingnya kini. Yang jelas perasaannya membuncah senang ketika dia memberanikan diri untuk mengecup bibir Taehyung tadi.

***

Seoul 7 Januari 2016, pukul 01:00 AM

Cheng Xiao menggerakan lehernya yang terasa kaku. Dia membuka matanya dan menyadari posisi dirinya yang saat ini terbaring di dalam dekapan Taehyung. Cheng Xiao mendangakan kepalanya ke atas dan kemudian tangan kirinya mencoba menjangkau kening Taehyung.

“Tidak sepanas tadi, tapi masih tetap saja belum kembali normal.” Ujar Cheng Xiao sembari menghela nafas pendek.

Cheng Xiao berusaha menyingkirkan tangan Taehyung yang memeluk tubuhnya secara perlahan, agar laki-laki di sampingnya itu tidak terbangun. Dan setelah berhasil dia benarkan posisi tidur Taehyung. Cheng Xiao beranjak bangun dan mengambil termometer yang ada di dalam laci meja nakasnya. Dia letakan termometer itu di antara ketiak Taehyung.

“Syukurlah turun 2 derajat.” Desah Cheng Xiao penuh kelegaan sembari mengusap kening Taehyung dengan lembut.

Cheng Xiao tersenyum mengingat kejadian beberapa jam lalu. Dia tidak menyangka bahwa hubungan persahabatannya dengan Taehyung bisa berkembang sejauh ini. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Cheng Xiao sebelumnya.

Cheng Xiao kembali membuka laci meja nakas untuk mengambil plester penurun demam yang tadi sore dia beli untuk Taehyung. Ditempelkannya plester tersebut dengan hati-hati agar Taehyung tidak terbangun.

“Chu!” Setelah itu, dikecupnya kening Taehyung dengan penuh rasa sayang.

“Get well soon, love!

***

END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s